kaya nya sih idenya mas kobir ini udah pernah saya dengar di bppk
sempat dijalankan juga tapi jadi masalah karena standar hasil ujiannya
jadi ga sama dari sabang sampai meroke, klo disamakan orang asli timur
ga ada yang lulus, kalo yang timur dibantuin nilainya sama aja boong
soalnya ketika kerja orang timur relatif ga efektif (tentu banyak yang
dikecualikan yaa..) nah klo diijinkan orang barat ujian di timur untuk
ngisi menyaingi lulusan sana, orang sanannya yang marah2 ga terima
soalnya pasti mereka yang asli timur ga pada lulus ga dapat kerja
dong. bahkan diperparah lagi pada bikin isu penjajahan orang jawa di
timur laa gimana klo semua pnsnya ternyata orang jawa too.. serba salah. 

jadi ketika mutasi nasional digulirkan sebenarnya untuk mengurangi
ketimpangan sdm dari sabang sampai meroke, maksudnya negara baik
supaya kantor disana dapat diisi orang lokal tapi bisa seefektif
kantor2 di wilayah yang sudah maju. tetapi, banyak diantara kita yang
"manja" ketika terpelanting di sana pada berharap mutasi sementara
yang berhasil "mendekam" di jawa pada ga mau ikut mutasi. lama2
ngobrolin mutasi jadi kayak debat kusir aja ga ada ujung akhirnya.
mendingan solusi yang baik sknya ada jam kadaluarsanya kali yaa. kaya
sppd gitu cuman jangkanya fix misalnya 3tahun. lewat masanya ya
diperbaharui lagi secara otomatis, yang nolak dipecat aja baik ce co
masih muda pa udah tua, udah nikah pa belum, dah punya anak pa cucu,
menurut saya jauh lebih efektif dan fair buat semua orang.

salam

--- In [EMAIL PROTECTED], moch kobir <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> 1. Rekruitmen Pelaksana
> 
> Andai mungkin, DJPBN perlu bekerja sama dengan BPPK agar penerimaan
pegawai DJPBN dengan pendidikan SMU/D1/DIII dapat dilaksanakan per
wilayah (regional) dengan jumlah yang sesuai kebutuhan. Pengumuman
bisa secara nasional, tetapi apabila mereka mengambil tes di Kupang
misalnya, maka mereka akan direncanakan penempatan di kantor instansi
vertikal DJPBN di Kupang sampai mencapai masa pensiun, kecuali apabila
pendidikan dan karir yang bersangkutan dapat mencapai karir eselon
III, dimungkinkan mutasi nasional. Mereka yang berbakat boleh memilih
melaju ke eselon III dengan konsekuensi mutasi nasional atau memilih
tetap di wilayah Kupang tanpa ada kemungkinan promosi eselon III.
Karena mutu pendidikan di Indonesia di wilayah Indonesia tidak selalu
sama, para lulusan SMU Kupang terutama hanya bersaing antar lulusan
SMU Kupang. Lulusan SMU di luar Kupang (dari Surabaya, misalnya) jika
mereka melihat peluang di Kupang lebih memungkinkan, diperbolehkan
bersaing dan test di Kupang
>  jika berminat untuk hanya berkarir di wilayah Kupang dengan syarat
tidak boleh meminta pindah ke daerah asal di masa mendatang karena
ybs. telah memilih sejak awal dan mengorbankan kesempatan lulusan
Kupang, kecuali jika pendidikan dan karir ybs dimungkinkan mencapai
eselon III. Sebaliknya, jika lulusan SMU Kupang merasa mampu dan ingin
bekerja di Jakarta, dia harus test dan bersaing dengan para lulusan
SMU Jakarta dan lainnya yang berminat berkarir di Jakarta.
> 
> Cara rekruitmen ini, diharapkan dapat memutus atau mengurangi
masalah mutasi pelaksana seperti saat ini. Lebih adil, karena
persaingan terjadi antar sesama SMU sewilayah yang mutunya sebanding,
tetapi juga tidak menutup kemungkinan orang lain mencapai dan
merencanakan cita-citanya meskipun dari daerah lain. 
> 
> Metode dan cara test diserahkan sepenuhnya ke BPPK karena sistem
test pegawai Depkeu/BPPK, menurut saya, sampai saat ini masih yang
terbaik. Tempat pendidikan bisa tetap di Jakarta/Jurangmangu, tetapi
penempatan setelah lulus merujuk tempat pendaftaran/test.
> 
> Penempatan pegawai hasil pendidikan SMU/D1/DIII ini didasarkan pada
hasil akhir nilai akademik (IPK). Meskipun nilai akademik bukan
segalanya, tetapi ini adalah salah satu tolok ukur yang paling fair
dan terukur (yang lain akan legowo) karena mereka berasal dari tempat
pendidikan yang sama (bukan IPK UI ditandingkan dengan IPK ITB, tidak
bisa dibandingkan). Untuk memberikan apresiasi pada yang berprestasi
(10 persen terbaik), mereka diberi kesempatan untuk memilih penempatan
di kantor yang mereka inginkan. Penghargaan ini, meskipun akademik
terbaik tidak menjamin mereka pekerja terbaik atau yang tecerdas,
setidaknya pengalaman awal akan memacu mereka untuk berbuat dan
bekerja lebih baik di masa mendatang dan sebagai pelajaran yang
lainnya. Do the best if we want something, bisa diajarkan pada
tunas-tunas muda tersebut agar mereka tumbuh dan berkembang dengan
baik sehingga dapat bermanfaat bagi bangsa dan negaranya, melalui
DJPBN, rumah kita tercinta.
> 
> Bagaimana untuk para pegawai lulusan SMA/DI/ DIII dan Sarjana yang
sudah eksis saat ini? Saya lagi draft untuk tulisan berikutnya...
> 
> 
> From Perth with love,
> 
> Kobir
> 
> Send instant messages to your online friends
http://au.messenger.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke