Implikasinya kami disebar di seluruh Indonesia dengan biaya kami sendiri. Bahkan kami dan beberapa orang teman sempat menjadi
"Pengemis" di kantor pusat utk sekedar mengumpulkan uang ongkos bagi teman-teman kami yang akan berangkat ke tempat yg jauh (Irian). Pada saat itu saya dan teman-teman (diantaranya Amir S. Yahya, Cahyo, Arif, Rusdi) ada yang kompalin.., Arif yang di wamena dulu dia ngak merasa mengemis... malah dia merasa enjoy disana buktinya dapet tambahan pasukan disana... Arif mana wan????? Dan mungkin ada yang terlewatkan tulisannya bang Irwan Susanto : - Angkatan "98" adalah angkatan yang paling lama masuk Pulau Jawa kurang lebih 7-8 tahun kecuali yang ditempatkan didaerah-daerah konflik dan "pesanan khusus" kebetulan mas Irwan lupa karena beliau termasuk orang yang penempatannya di daerah konflik (cuma 3 tahun) ya... khan....!!!! mungkin itu aja ... sekedar menambah pengetahuan tentang penderitaan angkatan "98" ----- Original Message ---- From: IRWAN SUSANTO <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, April 20, 2007 2:42:15 AM Subject: [Perbendaharaan List] Re: Kebusukan-Kebusukan di Ditjen PBN Saya turut prihatin terhadap nasib Anda, pengangkatannya sampai terlambat 2 (dua) bulan seperti itu .Akan tetapi sangatlah tidak pantas Mas Nur menggunakan kata-kata demikian (bernada sarkastis). Karena sebagai anak sekolahan tentu diajari pendidikan moral sampai SMA dan di kuliahan di ajari Ilmu Budaya Dasar (jadi inget kuliah nih). Kalau Mas Nur merasa di binatangkan dengan telatnya pengangkatan Mas Nur sampai telat 2 bulan, dan penempatan pegawai ada yang di jawa dan luar jawa coba bandingkan dengan angkatan 98. Beberapa point yang dapat saya sampaikan dari angkatan 98 kepada adik-adik angkatan tercinta (sekedar mengingatkan kembali dan bukan mengasihani diri sendiri) adalah : - Mereka angakatan pertama yg tidak ikatan dinas. Para lulusan prodip angkatan 98 diberikan opsi untuk tetap di DJA (sebelum-djpbn) atau keluar dari depkeu tanpa harus mengembalikan uang selama pendidikan kedinasan. (Karena memang tidak ada pengangkatan menjadi CPNS pada tingkat 2). - Mereka tidak diangkat menjadi CPNS ditingkat 2 sehingga tidak menerima penghasilan seperti kakak-kakak angkatan. - Setelah lulus pun tetap belum diangkat menjadi CPNS. Kami ngga tahu alasannya apa yg pasti mungkin bukan karena "pembusukan" tapi kami ber-husnuzan bahwa keadaan ekonomi lagi krisis. - Tidak seperti adik-adik kelas yg sempat magang setahun sambil nunggu CPNS. Penempatan kami tidak ada yg dijawa, tidak berdasarkan rangking, semua disebar diluar jawa baik pria atau wanita. - Implikasinya kami disebar di seluruh Indonesia dengan biaya kami sendiri. Bahkan kami dan beberapa orang teman sempat menjadi "Pengemis" di kantor pusat utk sekedar mengumpulkan uang ongkos bagi teman-teman kami yang akan berangkat ke tempat yg jauh (Irian). Pada saat itu saya dan teman-teman (diantaranya Amir S. Yahya, Cahyo, Arif, Rusdi) mengambil inisiatif dikarenakan banyak teman-teman kami terancam tidak berangkat ke tempat tujuan karena tidak mempunyai biaya. Dengan proposal yang ditandatangani seorang pejabat di kantor pusat (kami tidak bisa menyebutkan nama agar tidak riya - semoga Allah SWT membalas kebaikannya) kami berkeliling mendatangi pejabat dan kakak kelas yang memang kebetulan bertugas di sana. - Setelah sampai ditempat tujuan karena kami bukan CPNS kami di kasih penghasilan (bukan gaji) jika tidak salah tidak lebih banyak dari Honorer orang asli daerah itu sambilan menunggu pengangkatan menjadi CPNS (kurang lebih enam bulan). - Kami juga angkatan terakhir yang golongannya ketika pengangkatan adalah II/b dan harus menunggu pula 2 tahun untuk menjadi II/c, sedangkan adik kelas lulus langsung golongan II/c. Kepada adik-adik cobalah jangan selalu memandang ke atas, tapi sekalilah tengok juga ke bawah, mungkin di bawah ada lobang yang akan membuat adik terperosok ke dalamnya, mungkin pula ada uang/dompet orang tercecer. Saya tidak pandai menulis, tetapi Saya paksakan (walaupun amburadul) karena melihat komentar-komentar yang sepertinya tidak layak. Mungkin di prodip bisa dibilang tidak ada yang lebih buruk dari angkatan 98 tapi mereka tabah dan sabar. Kalo cuma telat 2 bulan masih dalam batas toleran. Mungkin bagian kepegawaian belum sempat menginputnya karena tugasnya banyak. Masalah loyalitas, angkatan 98 (yg masih di djpbn) sudah teruji ;P . Jika mau ditempatkan di daerah (pusat penderitaan) lagi mereka pernah mengalami yang lebih buruk. Jika yang mas Nur alami dikatakan sebuah "pembinatangan" entah apa sebutan yang tepat untuk prodip angkatan 98. --- In perbendaharaan- [EMAIL PROTECTED] .com, "nurman_soldier" <nurman_soldier@ ...> wrote: > > Sebenarnya terlalu kasar membuat judul seperti diatas. Bagi > temen-temen yang merasa judul diatas terlalu kasar mohon maaf aja ya. > Memang belum ada kata-kata yang lebih enak didengar untuk menggantikan > istilah "pembusukan' diatas. Yang sedikit nyerempet mungkin ya > "ketidak-adilan, kedzaliman" . Akan tetapi menurut saya sama aja. Toh > substansinya sama. > > Sekali lagi saya mohon maaf. Ditjen PBN itu sangat besar, jadi > kalaupun ada "pembusukan" tentulah tidak semuanya. Hanya bagian kecil > saja. Tetapi perlu diingat bahwa kebusukan disatu bagian akan > menyebabkan penyakit bagi keseluruhan, dalam hal ini adalah Ditjen PBN. > > Dalam kacamata wong edan seperti saya tidak terlalu penting > berkoar-koar dengan asumsi yang merajalela, berwacana yang > indah-indah, atau berRia-ria dengan harapan kosong. Tetapi adalah > lebih penting bagi saya menikmati apa yang saya dapat di Ditjen PBN > ini. Seberapun itu besarnya, atau sedemikian parahnya saya ( dan > tentunya juga temen2 dan adik2 kelas saya juga) "dibinatangkan" oleh > oknum-oknum pembusuk di Ditjen PBN ini. Kayaknya perlu saya jelaskan > juga pa sih pembinatangan itu. Tentunya dalam kacamata wong edan ini > juga. Pembinatangan dalam pandangan saya adalah menganggap manusia > (baca: insan Ditjen PBN) layaknya binatang. Tentu temen-temen semua > mudeng apa sih perbedaaan manusia dan binatang. > > kembali ke ke-edanan saya. > > Saya ingin sedikit curhat tentang apa-apa yang saya anggap "busuk", > tentunya dengan niat ikhlas supaya bisa diperbaiki di masa mendatang. > > Pertama ketika saya lulus Prodip tahun 2005 saya tidak langsung > magang. Tapi saya sempet nganggur dikit lah gitu. Tetapi Alhamdulillah > akhirnya magang juga. Berkas-berkas Pengusulan CPNS kita-kita juga > udah diserahkan ke Instansi. Kebetulan sebagian besar ke ditjen PBN. > Saya salah satu yang ditakdirkan di Ditjen PBN. Kita udah "Tsiqoh" > sama Ditjen ini jadi berkas yang kita kumpulkan dari bulan September > cepet2 diusulkan sehingga seperti kakak2 kelas > Sebelumnya, Desember kita dah mulai TMT. Tetapi apa yang terjadi > penonton, Berkas kita hanya hanya ditumpuk. Untung temen2 yang di KPK > selalu memantau sehingga merasa aneh dengan keganjilan yang terjadi. > Kita dah anggap berkas dah diproses. Ternyata setelah ditelusuri oleh > temen-temen, berkas2 kita belum diapa-apakan. Saya inget waktu itu > bulan Februari pertengahan. Oh malang nian nasib kita. Udah terlambat > dua bulan dari yang kita kira-kira. Akhirnya Berkas2 itu kita ambil > dan pengusulannya kita lakukan sendiri. Saya masih inget keriuhan di > Lantai 4 Gedung DIA. Kita rame2 input data temen2 Qta sendiri. Kita > antar sendiri. Akhirnya berkas kita selesai juga untuk langsung > diajukan ke Setjen Depkeu Biro Kepegawaian. Alhmadulillah kita belum > terlambat, hampir saja karena keteledoran oknum2 "busuk" di > kepegawaian. Kita TMT telat 2 bulan bung. Biasanya Desember waktu itu > Februari. Yang saya bayangkan bagaimana nasib Qta2 dulu itu tanpa > adanya KPK. Bisa2 Qta bisa seperti anak2 yang di Depdagri. Sampai > tahun berikutnya Setelah itu aku mulai mencium aroma busuk di Ditjen > PBN. Terutama di Setditjen. > > > Ketiga ketika kita penempatan. Kita sangat setuju akan paradigma > keadilan yang coba ingin kita terapkan. Tapi nanggung pemirsa. Masih > ada aja temen2 kita yang penempatan di Jawa. Yang saya merasa aneh, > mereka2 itu yang masih stay di Jawa adalah sebagian dari anak yang > magang di Setditjen. Okelah mereka cewek. Tapi kenapa ga semua cewek > penempatan di Jawa. Hati kecil saya bicara pasti ada sesuatu yang coba > dilegalkan disini. > > Yang saya juga sedikit nek juga adalah tidak ada tolok ukur yang jelas > atas penempatan kita. Maen acak aja. Pake IP keq biar kita-kita yang > udah belajar serius mendapatkan sedikit penghargaan, bukannya > pembinatangan. Yang dapat saya lihat temen2 kita yang di Setditjen > bisa sedikit bernafas lega karena bisa di Sumatra. Cuma karena itu > pemirsa. Sungguh analogi sampah dah BULSHIT. Cuma karena magang di > Setditjen bisa penempatan di Sumatra. Bau busuk setditjen tambah > menyengat bagi saya. > > Ketika saya menginjakkan kaki saya di bumi yang baru sungguh saya > takjub dengan pola mutasi di Ditjen Perbendaharaan. Tanpa kita > ber-lima pun pekerjaan kantor ini beres. Jadilah kita-kita ini > pengangguran baru yang digaji oleh pemerintah. Sungguh begitu jauh > kalau hanya untuk nganggur. Hampir semua dari kita disini jadi tukang > jaga malam. Hidup di Kantor, makan di kantor, tidur di kantor tanpa > guna.Yang saya heran mengapa ketika unit Eselon I lainnya di Depkeu > begitu membutuhkan tenaga-tenaga Prodip seperti kita, begitu susahnya > Ditjen PBN melepas kita. Tetapi justru mereka sendiri yang > menelantarkan kita seperti KAMBING. > > Hati nurani sayapun menangis. Meskipun saya sendiri tidak seperti > mereka. Saya satu-satunya anak2 pemempatan baru yang dihargai > kinerjanya karena saya ditempatkan di salah satu seksi yang lumayan > ada pekerjaannya. > > Itu mungkin sekelumit yang bisa saya sampaikan. Saya tak akan > menceritakan kebusukan2 yang ada yang telah menimpa adik2 kelas kita > atau senior2 kita. Biar mereka sendiri yang cerita. Toh mereka juga > udah punya MILIS sendiri. > > Saya kira hal yang menimpa saya ga ada apa2nya dibandingkan apa2 yang > telah menimpa adik2 kelas kita. > > Ini saja dari saya. Semoga akan ada yang menambahkan ataupun > menyanggah. Silahkan. Ini hanya pendapat pribadi saya aja. > > Bagi saya untuk memberangus kebusukan di Ditjen PBN adalah dengan > memotong oknum2 yang telah menjadikan MAFIA Ditjen ini. Lingkaran > setan itu harus dipotong habis. Pola mutasi harus bener2 adil dan > berjalan sehat. Penghargaan atas resiko seorang pegawai Ditjen PBN > juga harus diwujudkan oleh Ditjen PBN. Itu kalau tidak ingin Eselon I > ini diisi oleh orang2 dengan tekanan mental yang akut sehingga > menjadikan kinerjanya Lemot. > <!-- #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;} #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;} #ygrp-text{ font-family:Georgia; } #ygrp-text p{ margin:0 0 1em 0;} #ygrp-tpmsgs{ font-family:Arial; clear:both;} #ygrp-vitnav{ padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;} #ygrp-vitnav a{ padding:0 1px;} #ygrp-actbar{ clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;} #ygrp-actbar .left{ float:left;white-space:nowrap;} .bld{font-weight:bold;} #ygrp-grft{ font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;} #ygrp-ft{ font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666; padding:5px 0; } #ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px;} #ygrp-vital{ background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;} #ygrp-vital #vithd{ font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;} #ygrp-vital ul{ padding:0;margin:2px 0;} #ygrp-vital ul li{ list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee; } #ygrp-vital ul li .ct{ font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;} #ygrp-vital ul li .cat{ font-weight:bold;} #ygrp-vital a { text-decoration:none;} #ygrp-vital a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor #hd{ color:#999;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov{ padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;} #ygrp-sponsor #ov ul{ padding:0 0 0 8px;margin:0;} #ygrp-sponsor #ov li{ list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov li a{ text-decoration:none;font-size:130%;} #ygrp-sponsor #nc { background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} #ygrp-sponsor .ad{ padding:8px 0;} #ygrp-sponsor .ad #hd1{ font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none;} #ygrp-sponsor .ad a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0;} o {font-size:0;} .MsoNormal { margin:0 0 0 0;} #ygrp-text tt{ font-size:120%;} blockquote{margin:0 0 0 4px;} .replbq {margin:4;} --> __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
