Asalamu'alaikum Wr. Wb Perkenankan saya untuk ikut berpendapat tentang kesiapan KPPN Percontohan
Saya sependapat dengan Bapak TUBAGUS R AGUS <[EMAIL PROTECTED]> bahwa rekan rekan di KPPN pada dasarnya mampu untuk melakukan target waktu penyelesaian SPM menjadi SP2D yang dibebankan kepada KPPN percontohan, namun sepengetahuan saya ada satu target lagi yang dicanangkan dengan adanya KPPN percontohan yaitu mencoba untuk mengkikis biaya yang ada dari terbitnya SP2D tersebut yang harus dikeluarkan oleh satker(ini sudah bukan menjadi rahasia lagi), dan kalau kita membaca penjelasan dari pak Sis sendiri kayaknya justru poin ini yang ditekankan, jadi saya kira justru di poin inilah kenapa harus perlu ada seleksi lagi. Sebagai pertimbangan berdasar pengalaman saya pribadi selama beberapa kali mutasi antar KPPN baik di Jawa maupun Luar Jawa, beberapa (kalau tidak boleh disebut banyak) rekan di KPPN yang mencoba bertahan mati-matian agar selalu di KPPN (baca Perbendaharaan) tentunya kita mahfum apa alasan mereka begitu ngototnya mempertahankan posisi tersebut, sehingga mereka tidak segan untuk menteror apabila ada anak baru yang mencoba mengganggu sawah-ladang mereka, sehingga pada akhirnya adik-adik/teman-teman yang yang masih bersih memilih untuk ditempat-tempat yang aman (baca bendum). Untuk itu kepada rekan-rekan yang seperti ini (oknum) saya pribadi tidak menyangsikan kemampuan mereka dalam pekerjaan (Seksi Perbendaharaan)justru mungkin memang mereka yang terbaik dibidang ini, tapi masalahnya adalah apakah mereka mau untuk mengubah/meninggalkan kebiasaan mereka untuk menuju perubahan yang kita inginkan, Walahualam NB. Rekan rekan yang lolos test saat ini pun belum ada jaminan akan bisa bersih, namun paling nggak marilah kita menghargai usaha dan kemauan baik yang sudah dilakukan pimpinan kita, semoga kita menuju perubahan yang kita inginkan
