Yw: Kalo boleh saya ambil kesimpulan sementara,
ttg itungan saya, bahwa bisnis itu secara
ekonomis bernilai lumayan, sepertinya tidak
ada penyangkalan; jadi semua (yg baca), saya
anggap setuju. (Kalo enggak, silakan comment).
Kedua, semua (termasuk saya) juga setuju,
ide tsb. (pemilikan senjata legal) ada
ekses-ekses negatifnya. (Dan ide apa di
dunia ini yg tidak ada ekses negatifnya?)
Kang Jaya:
>Wah, mas...masak yg di ameriki banyak state berusaha melarang
>kok kita mau melegalkan. Yang ilegal biarkan tetap ilegal, dan
>DITINDAK! Bukan lalu dilegalkan.
Yw: Lho, masak Amerike jadi ukuran, Kang...
Di sana itu, penegakan hukum (relatif) lebih baik dari
kita (disiplinnya); aparat kepolisian juga lebih efektif
(dalam melindungin masyarakat). Kalo kasusnya demikian,
ya saya setuju, kecenderungannya harusnya sama.
Sekarang ini di Indonesia (Jakarta, dan daerah 'bermusibah'
lainnya) yg terjadi kan justru beda 180 derazat...
Hampir-hampir hukum yg berlaku adalah hukum rimba,
dan efektifitas aparat... well, gimana, ya,... sampai
pada tahap orang nanya: "Aparat? What aparat?" (Keberadaannya
aja dipertanyakan. And not to mention efektifitasnya...).
Dalam lingkungan dimana yg berlaku adalah hukum rimba:
the best of the worst, ya adalah: the good guys yg
pegang senjata,... (Jangan the bad guys-nya). Jadi ini
memang (jelas banget) solusi tambal sulam (tapi cocok
utk Republik Rimba Raya ;-).
>Beberapa bulan yg lalu diberitakan jumlah pembunuhan di Jakarta.
>Angka yg dipaparkan kira-kira lebih sedikit dari NYC, tapi hampir
>sama. Berkisar 600-an orang mati terbunuh. Korban pembunuhan
>yang terbanyak adalah korban ditusuk.
Yw: Anda belum itung di Ambon, di Aceh, di Timtim, di Irja.
Yg diculik di Irja itu, civilian biasa, anda tahu nasibnya
gimana? Ketika mereka digelandang ke sana ke mari berminggu-
minggu, kemana adanya aparat? Ratusan kilo jauhnya...
Kalopun akhirnya para terculik masih ada yg idup (dg trauma
berat tentunya), itu semata-mata karena nasib aja (belum
jadwalnya mening'ang). Andaikan saja, mereka pegang senjata,
kecil aja, barang sepucuk dua, mereka tidak akan pernah diculik
at the first place.
...
>Dengan cara melarang pemilikan senjata, maka jumlah senjata dapat
>dikurangi sebanyak mungkin. Bocor-bocor pasti ada...wong namanya
>masyarakat.
Yw: Ya, seperti sekarang ini, jumlah senjata di tangan masyarakat
yg taat hukum, nol besar; tapi senjata di tangan para pelanggar
hukum bener-bener handy, kapan saja dibutuhkan, tersedia...
Lantas gimana, dong?
...
>termasuk para ABG yg suka petentang petenteng bawa pistol milik bapake.
>Sekarang saja suka ada yg petentengan gitu bawa-bawa pistol bapake sing
>anggota ABRI.
Yw: Ya, ini disebabkan karena nenteng senjata (illegally) hukumannya
ringan. (Udah saya bahas). Ini harus 'diperkejem'.
>Saat kemarin sempat terjadi pengeluaran ijin pemilikan untuk orang-orang
>yg berduit. Nah, sudah sempet ada ekses-ekses. Malah ada temen yg
>mau pulang kampung sempet lihat ada pedagang duren mengeluarkan
>pistol waktu mau dipalak orang (di pintu keluar tol jakarta-karawang....eh,
>itu namanya tol opo tho..).
Yw: Ya, itu malah bagus dong. Si tukang duren itu kan jadi bisa
mempertahankan hak-nya (secara mandiri), dan si tukang palak
jadi pikir-pikir dua kali kalo nggak mau dibolongin kepalanya. ;-)
>Beberapa bulan yg lalu ane sempet ngomong-ngomong sama orang
>Afganistan mengenai maraknya bisnis senjata di Ibukota. Dia bilang itu
>adalah 'not a good sign brother...'.
Yw: Memang bukan good sign. Saya setuju 100% dg the Afgan, lah.
Oleh karena itu perlu disikapi... Kalo punya usul lain, gimana?
... ;-)