Dear Permias-netters,

Serasa ada tiupan angin segar membaca pembicaraan antara Irwan dan
Agus (subject : Selamat Jalan Pak Wahid). Hari ini saya bangun dengan
sebuah harapan - harapan akan sebuah keluarga besar "Indonesia" yang
bekerja bahu-membahu membangun negara dari puing-puing akibat
pertengkaran yang berlarut selama ini.

"No one is perfect ... so we just have to make the best with what we
got!" Itu komentar sobat bule saya --a democrat diehard-- ketika Bush
akhirnya menjadi presiden Amerika, mengalahkan Al Gore. Saya kira
sikap itulah yang perlu kita contoh dalam bernegara, dalam menjadi
anggota masyarakat Indonesia. Mungkin ada yang tidak suka pada
Megawati, dengan alasan apapun, tetapi dia adalah Presiden kita
sekarang - marilah kita dukung dia paling tidak sebagai presiden
kita. Bahkan seandainya kita benci pada Megawati (a lot of American
dislike Bush), dukungan ini bukan untuk Megawati pribadi, tetapi
dukungan pada fungsi dan kapasitas dan tanggungjawab seorang presiden
dari satu negara/bangsa, Indonesia.

Bulan lalu saya ketemu seorang assistant professor dari Santa Cruz
yang datang ke Madison dalam satu seminar asia tengggara. Waktu lunch
dia nyeletuk: "Wah,kalau Megawati yang presiden apa nggak kacau, dia
kan nggak tahu apa-apa ..." Saya menjawab: "Emangnya kalau bukan Mega
terus nggak kacau begitu ... siapapun yang jadi presiden, betapapun
pinternya dia, kalau digerecokin terus ya nggak akan pernah bisa
bekerja." Kalau kita habisin energi kita untuk bertengkar terus,
apakah ada yang tersisa untuk bikin betul urusan negara (masa
pemerintahan Gus Dur yang baru berlalu adalah satu contoh yang
nyata). Problem bangsa akan bisa dipecahkan kalau kita semua
bahu-membahu, sebagai TEAM, bekerja untuk KEPENTINGAN BERSAMA (common
good) - siapapun yang ada diatas sebagai simbol "presiden" tidaklah
penting, pinter atau tidak.

Pagi ini saya membaca tulisan Louise Williams di Sidney Morning
Herald (23/07/2001), saya jadi ingat kembali percakapan saya dengan
professor tersebut ... saya kutipkan paragraf terakhirnya:

   "The problem with Indonesia, says a new group of young
    ideologues, is that of political power itself. Without a
    commitment to the common good, the revolving door will
    keep turning, with many of the same old faces going in and
    out in the name - but not the spirit of - democracy."

So ... marilah kita dukung presiden dan pemerintah yang bari ini,
demi COMMON GOOD, untuk kepentingan bersama. Ada perbedaan diantara
kita, ada silang pendapat [dan kita masih terus menerus perlu
bersikap kritis - sikap kritis bukan merongrong]. Justru perbedaan
itulah membuat bangsa kita menjadi lengkap, dan kaya. Seperti
bio-diversity dalam ekologi alam. Setiap individu bisa memberikan
kontribusi menurut apa kemampuannya yang terbaik (satu contoh yang
baik sudah ditunjukkan baru-baru ini oleh Tino). Itulah yang
dibutuhkan oleh negara dan bangsa saat ini dan hari-hari berikutnya.

Marilah sejenak kita lupakan pertengkaran politik (maupun fisik)
kemarin itu sebagai satu mimpi buruk yang tidak perlu terjadi lagi,
janganlah nasib kita ini seperti judul pesimistik tulisan Louise
Williams yang saya kutip diatas, "Ordinary Indonesians the losers as
dreams of democracy fade." We don't have to be the losers. We gave a
choice!


Selamat bekerja di era baru,


Moko/

Kirim email ke