Warning buat para Kapitalis .....
Warning juga buat yang suka clamitan ...

***************************************************


SOLIDARITAS
Keadilan Direcehkan, Koin Dikumpulkan...
Selasa, 8 Desember 2009 | 02:49 WIB

Dengan berkendara sepeda motor, Deny (43) akhirnya tiba di rumah yang ia 
cari-cari sejak beberapa hari lalu. Wajahnya agak letih dengan dahi yang 
berkilat oleh peluh. Di tangannya tergenggam satu celengan plastik usang. Sarie 
Febriane

Saya mau ikut nyumbang koin buat Prita," ujar Deny sembari tersenyum semringah, 
Minggu (6/12).

Celengan itu lalu ia robek dengan pisau. Dengan sabar dihitungnya satu per satu 
recehan sejumlah Rp 92.000 itu. "Ini recehan kembalian beli rokok," ujar warga 
Lebak Bulus, Jakarta Selatan, itu.

Deny lalu menyerahkan recehannya kepada relawan di rumah Markas Sehat, salah 
satu simpul pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari (32), di Kompleks PWR Nomor 
60, Jalan Taman Margasatwa, Jatipadang, Jakarta Selatan. Markas Sehat sedianya 
wadah bagi komunitas mailing list (milis) Sehat Group, komunitas independen 
yang giat memberikan pencerahan bagi konsumen medis. Dari diskusi di milis 
itulah gagasan pengumpulan koin muncul.

Solidaritas publik kepada Prita tak jua menyurut meski banyak persoalan lain di 
negeri ini juga masih membetot perhatian. Pengadilan Tinggi Banten mengukuhkan 
putusan hukuman denda Rp 204 juta terhadap Prita. Ibu dua anak tersebut harus 
membayar uang sejumlah itu kepada RS Omni Internasional Alam Sutra, Tangerang 
Selatan, yang menggugatnya (perdata) karena dianggap mencemarkan nama baik 
rumah sakit dan dokter. Putusan itulah yang melecut solidaritas publik untuk 
membantu Prita membayar denda meski dia tengah mengajukan kasasi.

Fauzie Ishak, Kepala Hubungan Masyarakat Pengadilan Tinggi Banten, kemarin, 
mengatakan terlalu terburu-buru apabila ada yang berpendapat Prita harus segera 
membayar ganti rugi Rp 204 juta. Putusan perdata itu belum mempunyai kekuatan 
hukum tetap.

Deny hanyalah salah satu dari mungkin ribuan orang yang sejak Jumat hingga 
Senin lalu menyumbangkan koin di sejumlah titik pengumpulan koin di beberapa 
wilayah di Indonesia. Di Markas Sehat, kemarin, telah terkumpul recehan koin 
melampaui Rp 7 juta. Sementara di simpul pengumpulan di Wetiga, Jalan Langsat 
I/3A, Jakarta Selatan, semalam terkumpul lebih dari Rp 5 juta.

"Ini soal rasa keadilan yang terusik. Bukan salah benar menurut hukum," kata 
Ainun Chomsun (36), penyumbang koin di simpul Wetiga, Senin. Ainun mengaku juga 
kerap mengalami peristiwa tak menyenangkan saat berurusan dengan rumah sakit.

Tak hanya orang dewasa, solidaritas sosial ini juga mengetuk hati anak-anak. 
Raia Ramania (8), siswi SD Kupu-kupu, Kemang, Jakarta Selatan, juga tergerak 
hatinya untuk menyumbangkan uang receh koin yang ia tabung selama ini. Raia 
sempat meminta penjelasan neneknya, Susanti Kromodimoeljo (57), soal kasus 
Prita. Gadis kecil itu pun spontan mengajak neneknya menyumbang koin.

"Setelah nonton di TV, dia tanya soal koin itu. Terus langsung ajak saya untuk 
nyumbang celengannya," tutur Susanti.

Simbol protes rakyat

Di Banten, para mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, juga 
mengumpulkan uang koin membantu Prita.

"Hari pertama ini pengumpulan recehan di dalam kampus dulu, tetapi nanti 
diperluas untuk masyarakat umum," kata Wakil Presiden Mahasiswa Universitas 
Sultan Ageng Tirtayasa Ahmad Ufuwan.

Di Solo, Jawa Tengah, pengumpulan koin solidaritas untuk Prita juga digelar 
mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas 
Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Mahasiswa 
bersama organisasi massa Republik Aeng-aeng menggelar "Koin Cinta untuk Prita" 
di perempatan Ngapeman, Solo.

"Saya bersimpati dengan perjuangan Prita. Kasihan nasibnya. Mudah-mudahan dia 
bisa bebas dari ancaman hukuman," kata Raharsih (67), penyumbang.

"Bukan nominalnya. Ini penting sebagai tanda solidaritas kami untuk Prita yang 
tengah mencari keadilan. Aksi galang koin ini sekaligus bentuk perlawanan 
terhadap ketidakadilan bagi wong cilik," kata Mayor Haristanto dari Republik 
Aeng-aeng.

"Sekarang Prita, mungkin besok nasib serupa bisa menimpa kita, jadi harus kita 
lawan," ucap Syarif Hidayatullah, Gubernur BEM Fakultas Komunikasi dan 
Informatika UMS.

Wicaksono (44), relawan di simpul Wetiga, mengatakan, jika kasasi Prita 
dikabulkan, koin tetap akan diserahkan kepada Prita. "Terserah Prita nanti 
untuk apa. Kalau mau disumbangkan kepada pihak lain juga tak masalah," katanya.

Wicaksono menambahkan, banyak orang Indonesia di luar negeri bahkan juga ingin 
berpartisipasi. "Karena itu, kami berencana akan buka paypal," kata Wicaksono.

Elona Melo Tomeala Arief (34), penggagas pengumpulan koin dari milis Sehat 
Group, mengatakan, sedianya gagasan pengumpulan koin itu tak sekadar membantu 
Prita, tetapi juga simbol protes terhadap rasa keadilan rakyat yang dilecehkan. 
"Koin recehan itu simbol rakyat banget," ujar Elona.

Wicaksono, yang berinisiatif membuat situs http://koinkeadilan.com sebagai 
sumber informasi pengumpulan koin, juga mengungkapkan hal serupa.

"Ketika keadilan direcehkan, rakyat berbuat seperti ini. Mengumpulkan koin 
recehan," ujarnya. (CAS/EKI/PIN)



http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/08/02494442/keadilan.direcehkan.koin.dikumpulkan

Kirim email ke