Rekan-rekan semua, ysh:
Dalam beberapa hari ini saya mengikuti berita perlawanan masyarakat Pondok
Indah terhadap rencana pembangunan lajur busway di Jl. Metro Pondok Indah -
melalui The Jakarta Post.
Kasus ini menarik buat saya karena ini merupakan contoh nyata adanya tantangan
bagi dunia perencanaan di Indonesia seiring dg dinamika masyarakat yang semakin
kritis terhadap rencana yang tidak credible. Saya cukup kaget membaca bahwa
dalam penyusunan rencana lajur busway tersebut, pihak pemerintah kota sama
sekali tidak membahasnya dengan masyarakat Pondok Indah -sebagai pihak yg
mendapat pengaruh eksternalitas dari rencana pembangunan lajur busway tersebut.
Saya berkesimpulan bahwa proses perencanaan lajur busway tersebut masih
menggunakan pendekatan rationalitas yang menempatkan planner sebagai pihak yang
paling mumpuni dalam merencana di ruang publik tanpa kolaborasi dengan
stakeholder lainnya dalam domain publik tersebut.
Ini tentunya kesalahan mendasar dalam proses perencanaan lajur busway tersebut.
Ada baiknya bahwa rencana tersebut berbenturan dg masyarakat Pondok Indah yang
notabene adalah masyarakat kelas menengah atas yg tidak mudah diyakinkan oleh
rasionalisasi sebuah rencana sehingga kesalahan tersebut dapat "dibongkar".
Dalam perkembangan selanjutnya, setelah ada protes dari warga Pondok Indah
pihak pemerintah kota mengadakan public meeting. Hanya sekali lagi dan ini
lebih mengagetkan saya bahwa setelah pertemuan tsb pemerintah kota bersikukuh
untuk meneruskan rencananya meskipun ada keberatan dari pihak warga Pondok
Indah. Warga Pondok Indah memberikan argumennya dan juga alternatif rencana,
hanya semua itu dihiraukan oleh pihak pemerintah kota. Pendapat dan pandangan
warga terhadap rencana lajur busway dianggap sebagai kendala saja bukannya
menjadi input utk menyempurnakan rencana pembangunan lajur busway tersebut.
Ini adalah prinsip perencanaan yg diabaikan oleh pemerintah kota. Mereka
menganggap bahwa rencana terbaik adalah rencana yg mereka buat tanpa mesti
memperhatikan input dan aspirasi dari masyarakat kota. Ini adalah suatu
kemunduran dalam dunia perencanaan di Indonesia. Di negara-negara lain,
khususnya di US adalah sangat lazim sebelum sebuah rencana yg menyangkut ruang
publik diimplementasikan selalu diadakan public meeting yg sering kali diadakan
berulang kali utk mengakomodasi pluralitas masyarakat dan kompleksitas isu
publik tersebut.
Semestinya para perencana lajur busway tersebut aktif utk menangkap dan
berkolaborasi dengan masyarakat utk membuat rencana yg menghargai aspirasi
semua pihak. Perencana tidaklah hanya menggunakan data sekunder dan
metoda-metode rasionalitas utk menyusun rencana. Dalam abad ke-21 ini,
pendekatan itu tidaklah relevan. Makin rumitnya masalah perkotaan dan
ketidakpercayaan masyarakat thp pemerintah dan para ahli adalah kenyataan yg
membuat perencanaan pada saat ini tidak bisa mengandalkan semata pada
rationalitas.
Kesimpulan saya, rencana tanpa input dari masyarakat adalah sebuah rencana yg
prematur dan perlu dikaji ulang. Hal ini juga yg ingin saya sampaikan berkaitan
dengan rencana pembangunan lajur busway di Jl. Metro Pondok Indah.
Pemikiran saya ini pun saya tuangkan di blog saya. Seperti biasa, comments are
invited. Khususnya bilamana diantara rekan-rekan ada yang terkait dalam kasus
ini misalnya sebagai warga Pondok Indah ataupun mengetahui kronologis detail
dari kasus ini mungkin bisa melengkapi atau merespon pendapat saya ini.
Pendapat saya ini hanya didasarkan pada informasi dari dua tulisan di The
Jakarta Post.
Salam hangat dari Savannah,
Deden Rukmana
____________________________________________________________________________________
Don't let your dream ride pass you by. Make it a reality with Yahoo! Autos.
http://autos.yahoo.com/index.html