Busway akan berdampak positif bagi mereka yg 'kurang beruntung' tidak memiliki 
mobil pribadi... kalau di Jakarta... jumlah itu sekitar 86%. 
Terlepas mereka itu bermukim di PI atau tidak...

Saya kira Pemerintah Prov. DKI dalam hal ini sudah sangat tepat utk lebih 
condong pada mereka mayoritas yg kurang beruntung... 

Sistem busway berpotensi mengurangi ketergantungan pemilik mobil terhadap 
mobilnya... termasuk warga PI ... 'cost' nya memang pada saat konstruksi dan 
menunggu armada utk mulai beroperasi... tapi setelah itu.. jelas ada benefit... 
asal rela tidak menggunakan mobilnya.. dan rela utk menghemat bensin dan 
parkir..

kalau udah ada busway di PI... feeder Bintaro cukup ke PI lalu tembus deh sampe 
harmoni... 

Saya sendiri tidak bermukim persis di PI... tapi sudah ambil ancang-2 utk tidak 
ke PI Mall (1/2) selama konstruksi Busway..  lalu setelah selesai... akan ke 
menggunakan busway.

hal yg sama ketika koridor 6 Ragunan-Kuningan dibangun.. 
pada saat konstruksi sya hindari.. lalu skarang saya gunakan... lumayan 
menghemat travel time.. (tp waiting time belum )...

salam,
-K-



 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta INDONESIA

----- Original Message ----
From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, September 16, 2007 2:26:29 PM
Subject: Re: [referensi] Warga Pondok Indah dan rencana lajur busway









  


    
            



Ysh Bung Deden dan milister lainnya.

 

Menarik bahasan Bung Deden soal tidak dilibatkannya 
masyarakat Pondok Indah (PI) dalam penerapan busway di jalan arteri Pondok 
Indah. Yang dimaksud dengan Arteri Pondok Indah adalah Jl. Metro Pondok Indah 
(MPI), yaitu jalan umum utama yang membelah kawasan perumahan elit Pondok Indah 
(PI Barat yang biasa disebut dengan Metro Hijau dan PI Timur yang biasa disebut 
Metro Duta).

 

Sedikit gambaran tentang Jl. MPI. Jl. MPI ini 
sekarang telah menjadi salah satu  jalan umum utama yang 
menghubungkan  CBD dan kawasan Selatan seperti Ciputat, Cinere, Pondok 
Cabe, dan kawasan PI sendiri. Pagi, siang, maupun sore jalan ini sangat 
macet dan ramai sekali. Yang lewat jalan ini hampir semua jenis kendaraan, 
mulai 
dari sepeda motor (yang luar biasa banyaknya), mobil pribadi, bus kota, dan Bus 
Feeder Bintaro. Waktu yang ditempuh untuk lepas dari Jl. MPI ini sekitar 30-45 
menit pada jarak tak lebih dari 2,5 km. Karena begitu parahnya kemacetan lalu 
lintas di lintas Jl. MPI ini, maka fungsi perumahan di sepanjang Jl. MPI ini 
sangat menurun. Suksesi fungsi perumahan menjadi komersial terus mengancam 
sehingga pernah ada kesepakatan dari warga PI sendiri untuk melarang warganya 
mengubah fungsi dari perumahan menjadi komersial. Kesepakatan warga ini 
didukung  juga oleh pemda, tetapi secara alami tidak cukup efektif. Selama 
fungsi jalan itu bersifat umum dan terbuka dengan arus lalu lintas yang begitu 
ramai, maka perubahan fungsi tinggal menunggu waktu saja. Buktinya rumah di 
jalan ini kelihatan "suwung" atau sepi dan banyak yang disewakan dan dijual 
(salah satu kavling pernah diisukan sebagai mangkalnya para hantu). 
Kelihatannya 
tidak laku-laku. Mengapa tidak laku? Jelas, buat apa beli/sewa yang mahal hanya 
untuk rumah?

 

Kembali pada pelibatan masyarakat yang dipersoalkan 
Bung Deden. Mengapa Pemda DKI dalam rencana pembangunan busway tidak 
melibatkan masyarakat PI yang akan terkena dampak eksternalitas dari rencana 
busway? Isu tentang pelibatan masyarakat dalam perencanakan secara eksplisit 
termuat dalam UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang, khususnya pasal 26 bahwa 
masyarakat berpartisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang. Petanyaannya 
adalah, apakah rencana busway itu termasuk perencanaan tata ruang? Tentu 
saja bagian dari RTR karena jalan termasuk struktur tata ruang 
 yang menjadi bagian dari RTR, tapi soal busway ini adalah aspek 
perlalulintasan  pada struktur tata ruang yang sudah ada, artinya 
tidak ada perubahan tata ruang atas ruang yang sudah direncanakan (RTR DKI 
Jakarta). Dengan kata lain, soal rencana busway ini soal keteknikan atau 
manajemen lalu lintas. Apakah soal keteknikan atau manajemen haruskah 
melibatkan 
masyarakat? Jawabnya bisa YA, bisa juga TIDAk. Bisa YA, apabila outcome dari 
hasil keteknikan/manajeme n itu punya dampak eksternalitas yang bisa merugikan 
masyarakat; atau  bisa juga TIDAK karena soal keteknikan/manajeme n ini 
adalah soal hitungan kelayakan apakah hasilnya lebih menguntungkan masyarakat 
luas atau tidak? Jadi ini soal studi kelayakan saja, seberapa jauh studi itu 
dilakukan dengan benar atau tidak. Dalam studi kelayakan ini tentunya si 
konsultan meneliti seberapa jauh masyarakat PI yang dirugikan oleh busway ini 
dibandingkan dengan masyarakat luas yang diuntungkan. 

 

Dalam meneliti masyarakat PI yang akan dirugikan, 
perlu dipertanyakan masyarakat  PI yang mana? Dan apa yang dirugikan ? 
Berdasarkan lajur rencana busway yaitu di Jl. MPI, yang secara langsung 
berkaitan adalah rumah-rumah di sepanjang Jl. MPI yang "suwung" itu. Tapi apa 
yang dirugikan? Kalau soal nilai lahan, dengan fungsi jalan utama itu (baik ada 
busway ataupun tidak), nilai lahan menjadi sangat tinggi. Justru yang merugikan 
adalah kesepakatan masyarakat PI sendiri yang tidak mau mengubah fungsi menjadi 
komersial sehingga rumah-rumah bernilai tinggi itu daya tawarnya menjadi 
rendah, 
alias tidak laku disewakan ataupun dijual. Yang saya baca dari media bahwa 
keberatan dari masyarakat PI tentang busway ini bukan soal nilai lahan 
(berkaitan dengan hak yang dimiliki), tetapi soal kekhawatiran JL. MPI akan 
semakin macet saja. Jadi soal kemacetan, bukan hak-hak properti yang tereduksi. 
Nah, kalau soal kemacetan yang akan semakin parah bukan hanya pemilik mobil 
masyarakat PI, tapi termasuk pemilik mobil masyarakat Cinere, Ciputat, dan 
Pondok Cabe. Itu persoalannya. Kasusnya sama ketika ada rencana busway di 
koridor I (Sudirman-Thamrin- Kota), dan koridor-koridor (II, III) yang 
lain, juga ada protes semacam itu. Tapi, berdasarkan proses alami "moda 
assigment", ketika proses pembangunan busway memang terjadi kemacetan luar 
biasa, tetapi setelah beberapa waktu, kemacetan di koridor I, II, III menjadi 
"normal" kembali. Jadi apa relevansinya soal rencana busway ini melibatkan 
masyarakat kalau yang dipersoalkan hanya kemacetan yang semakin macet di tahap 
awal? Kalau soal kemacetan yang semakin parah, sebenarnya pembangunan 
"under-pass" itu patut dikritik, tapi setelah "under-pass" selesai, ternyata 
semakin lalu lintas jadi lancar. Begitu juga busway nantinya. Yang jelas bahwa 
pemilik mobil (termasuk saya jelek-jelek juga punya mobil) 
terus "dirugikan" dengan kebijakan Gubernur Sutiyoso ini. Tinggal bagaimana 
si pemilik mobil ini mau mengubah gaya hidup secara smart tanpa mengurangi 
tujuan hidup itu sendiri.

 

Rencana busway memang termasuk bagian dari proses 
perencanaan tata ruang sesuai dengan UU 26/2007, tetapi karena lingkupnya bukan 
pengubahan tata ruang, yaitu soal keteknikan/manajeme n perlalulintasan, maka 
ia 
terkait dengan UU 14/1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  dan 
Peraturan DKI Jakarta no. 9/1992 tentang Lalu LIntas dan Angkutan Jalan di DKI 
Jakarta. Dalam UU dan perda tersebut saya tidak menemukan pasal bahwa dalam 
pembinaan lalu lintas itu harus melibatkan masyarakat untuk ikut menyusun 
perencanaannya. 

 

Thanks. CU. BTS (penumpang busway dan bukan 
konsultan busway)

 

 

 


  ----- Original Message ----- 

  From: 
  Deden 
  Rukmana 

  To: [EMAIL PROTECTED] ps.com 

  Cc: Deden Rukmana 

  Sent: Saturday, September 15, 2007 10:17 
  AM

  Subject: [referensi] Warga Pondok Indah 
  dan rencana lajur busway

  


  
  
  

  Rekan-rekan semua, ysh:

   

  Dalam beberapa hari ini saya mengikuti berita perlawanan masyarakat 
  Pondok Indah terhadap rencana pembangunan lajur busway di Jl. Metro Pondok 
  Indah - melalui The Jakarta Post.

   

  Kasus ini menarik buat saya karena ini merupakan contoh nyata adanya 
  tantangan bagi dunia perencanaan di Indonesia seiring dg dinamika masyarakat 
  yang semakin kritis terhadap rencana yang tidak credible. Saya cukup kaget 
  membaca bahwa dalam penyusunan rencana lajur busway tersebut, pihak 
pemerintah 
  kota sama sekali tidak membahasnya dengan masyarakat Pondok Indah -sebagai 
  pihak yg mendapat pengaruh eksternalitas dari rencana pembangunan lajur 
busway 
  tersebut. Saya berkesimpulan bahwa proses perencanaan lajur busway tersebut 
  masih menggunakan pendekatan rationalitas yang menempatkan planner sebagai 
  pihak yang paling mumpuni dalam merencana di ruang publik tanpa 
  kolaborasi dengan stakeholder lainnya dalam domain publik tersebut. 

   

  Ini tentunya kesalahan mendasar dalam proses perencanaan lajur 
  busway tersebut. Ada baiknya bahwa rencana tersebut berbenturan dg masyarakat 
  Pondok Indah yang notabene adalah masyarakat kelas menengah atas yg tidak 
  mudah diyakinkan oleh rasionalisasi sebuah rencana sehingga kesalahan 
tersebut 
  dapat "dibongkar". 

   

  Dalam perkembangan selanjutnya, setelah ada protes dari warga Pondok 
  Indah pihak pemerintah kota mengadakan public meeting. Hanya sekali lagi dan 
  ini lebih mengagetkan saya bahwa setelah pertemuan tsb pemerintah kota 
  bersikukuh untuk meneruskan rencananya meskipun ada keberatan dari pihak 
warga 
  Pondok Indah. Warga Pondok Indah memberikan argumennya dan juga alternatif 
  rencana, hanya semua itu dihiraukan oleh pihak pemerintah kota. Pendapat 
  dan pandangan warga terhadap rencana lajur busway dianggap sebagai kendala 
  saja bukannya menjadi input utk menyempurnakan rencana pembangunan 
  lajur busway tersebut. 

   

  Ini adalah prinsip perencanaan yg diabaikan oleh pemerintah kota. Mereka 
  menganggap bahwa rencana terbaik adalah rencana yg mereka buat tanpa mesti 
  memperhatikan input dan aspirasi dari masyarakat kota. Ini adalah suatu 
  kemunduran dalam dunia perencanaan di Indonesia. Di negara-negara lain, 
  khususnya di US adalah sangat lazim sebelum sebuah rencana yg menyangkut 
  ruang publik diimplementasikan selalu diadakan public meeting yg sering 
  kali diadakan berulang kali utk mengakomodasi pluralitas masyarakat 
  dan kompleksitas isu publik tersebut. 

   

  Semestinya para perencana lajur busway tersebut aktif utk menangkap dan 
  berkolaborasi dengan masyarakat utk membuat rencana yg menghargai 
  aspirasi semua pihak. Perencana tidaklah hanya menggunakan 
  data sekunder dan metoda-metode rasionalitas utk menyusun rencana. 
  Dalam abad ke-21 ini, pendekatan itu tidaklah relevan. Makin 
  rumitnya masalah perkotaan dan ketidakpercayaan masyarakat thp pemerintah dan 
  para ahli adalah kenyataan yg membuat perencanaan pada saat ini tidak bisa 
  mengandalkan semata pada rationalitas. 

   

  Kesimpulan saya, rencana tanpa input dari masyarakat adalah sebuah 
  rencana yg prematur dan perlu dikaji ulang. Hal ini juga yg ingin saya 
  sampaikan berkaitan dengan rencana pembangunan lajur busway di Jl. Metro 
  Pondok Indah. 

   

  Pemikiran saya ini pun saya tuangkan di blog 
  saya. Seperti biasa, comments are invited. Khususnya bilamana diantara 
  rekan-rekan ada yang terkait dalam kasus ini misalnya sebagai warga 
  Pondok Indah ataupun mengetahui kronologis detail dari kasus ini mungkin bisa 
  melengkapi atau merespon pendapat saya ini. Pendapat saya ini 
  hanya didasarkan pada informasi dari dua tulisan di The Jakarta Post. 
  

   

  Salam hangat dari Savannah,

   

  Deden Rukmana

   

   



  
  Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims 
  Stories at Yahoo! Games. 
  



    
  

    
    




<!--

#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->



<!--

#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->



<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->








       
____________________________________________________________________________________
Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the 
tools to get online.
http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting 

Kirim email ke