Halo Bung Andri, saya terpaksa harus menanggapi posting Anda menyangkut soal "Jakarta yang mana?" Soalnya pertanyaan itu berasal dari saya. Tentu berbeda dengan contoh yang Anda kemukakan "rakyat yang mana?" dari sinyalemen Presiden yang ada kontek dengan politik. Pertanyaan saya "Jakarta yang mana?" sama sekali bukan pertanyaan politis, bukan juga penyangkalan yang apologis. Pertanyaan saya menyangkut klarifikasi. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan..... "Pura-pura dalam perahu, ....kura-kura sama-sama tidak tahu". Thanks. CU. BTS.
--- On Fri, 12/26/08, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote: From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]> Subject: [referensi] Re: pengertian ibukota negara To: [email protected] Date: Friday, December 26, 2008, 3:48 AM "Diskusi tentang aglomerasi "Jakarta" haruslah jelas batasannya (definisinya) . Jakarta yang mana?" Jadi teringat Orde Baru menjelang reformasi. Ketika itu ada tokoh masyarakat yang nyeletuk ke Presiden, "Rakyat menghendaki Bapak (Presiden) mundur." Yang menjawab kompak justru pembantu-pembantu Presiden, "Rakyat yang mana?" ;-) Orang awam bisa melihat jelas aglomerasi (pemusatan/penumpuk an) pembangunan di Jakarta. Orang pintar justru mengaburkan masalah lagi dengan bertanya: Jakarta yang mana? Pura-pura dalam perahu.. Kuya-kuyi tidak tahu.. Salam, Andri

