Halo rekan-rekan Referensi

 

Mungkin jadi pertanyaan pula nanti,.. "Rakyat yang mana" yang menginginkan
Ibukota Negara pindah dari Jakarta?

 

Atau mungkin nanti mengerucut jadi pertanyaan: "Sebenarnya rakyat daerah
mana yang menginginkan Ibu Kota Negara pindah dari Jakarta?"

Atau daerah-daerah itu silent dan powerless untuk menyuarakan aspirasinya
untuk meminta pemeritah pusat untuk memindahkan Ibukota ke luar Jawa?

Atau daerah-daerah itu powerless untuk mengajukan dirinya untuk menjadi
Ibukota Negara?

 

 

Tapi yang saya tahu, ada beberapa daerah yang alih-alih merengek-rengek
meminta Ibukota Negara pindah dari Jakarta, mereka malah sibuk berkarya,
berinovasi, membangun, dan memperbaiki diri terus menerus, hingga layak
menjadi kota yang sejajar dengan Jakarta,.... tanpa harus menjadikan dirinya
Jakarta.

 

Kemarin, seperjalanan saya dari Jakarta ke semarang, menggunakan KA
Gumarang, saya semangat sekali menemukan laporan di Majalah Tempo edisi
minggu ini yang memilih 10 kepala dearah terbaik, yang berhasil membawa
perubahan, inovasi, dan pengaruh besar bagi pembangunan daerah kotanya.

Mereka,..

-       WaliKota Tarakan, pak Jusuf Serang Kasim, dengan mimpi menjadikan
kotanya seperti Little Singapore, meng

-       WaliKota Jogjakarta, Pak Herry Zudianto, yang menata mulai dari yang
sederhana, menciptakan banyak ruang hijau, menata pedagang kaki lima

-       Bupati Gorontalo, David B.Akib, yang menggelindingkan mobile
government-nya,dan mendorong produk hasil pertanian

-       WaliKota Solo, Pak Joko Widodo, wali kaki lima, yang merelokasikan
pedagang kaki lima dengan memanusiakan mereka.

-       Bupati Luwu Timur, Andi Hatta Marakarma, yang menjadikan Luwu Timur
lumbung padi 

-       WaliKota Makassar, Ilham Arif Sirajudin, yang membawa perubahan pada
pembangunan waterfront di kota Makassar dan public space-nya

-       Bupati Jombang, Suyanto, yang menjadikan Puskesmas dan Rumahsakit
jadi idaman masy.dan menata kaklilima dengan bijak

-       Bupati Badung, A.A.Gde Agung, yangmenyeimbangkan Badung Utara dengan
pertaniannya dan Selatan dengan pariwisatanya. Menjalin kerjasamadengan
kab/kotadisekitarnya

-       Walikota Sragen, Pak Untung Sarono, seorang dalang yang gila
digital. Mensetup jaringan online sehingga ia bisa memantau perkembangan di
tingkat desa/kecamatan.

-       Walkota Blitar, Pak Djarot Syaiful Hidayat, yang melindungi dan
focus pada industry kecil. Melarang mall, tapi memfasilitasi tumbuhnya UKM
dan kaki lima.

 

Sebuah catatan best practice yang patut diappresiasi. Karena mereka tidak
sibuk dengan wacana pemindahan ibukota , tapi malah berbuat nyata,....
melayakkan kotanya jadi selayak Ibukota,. dan tidak begitu pusing dengan
Jakarta yang tertimpa kutuk sebagai Ibukota. 

(Seru juga loh,melihat beberapa dari mereka bisa dengan cerdas mengelola
kaki lima,...)

 

 

Ada pula sebuah catatan dari Pak Robert Simanjuntak

Katanya pelimpahan wewenang yang lebih besar ke daerah sudah ada, dan
bertambah semenjak oktober kemaren disahkan pengaturan pelimpahan kewenangan
mengelola pajak bumi bangunan untuk sektorperkotaan dan perdesaan dialihkan
menjadi pajak daerah.Walaupun dalam realisasi totalnya mungkin butuh lima
tahun lagi, tapi bandul kasa dan kewenangan sudahbergeser ke daerah. Jadi
pernyataan perputaran uang itu hanya berkutat di jakarta itu harus direvisit
lagi. Karena tergantung daerahnya sendiri, apakahmau membiarkan keuangan itu
balik ke jakarta atau tidak.

 

Bagaimana,..

Daerah lah yang harusnya bersiap mengambil alih fungsi ibukota,..  Kudeta. 

Daripada merengek-rengek dan menunggu UU Ibukota datang dari langit
singgasana para perencana, ..  

 

hehehehe

 

Best Regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to
the work on monitoring and evaluation and other related development issues
including development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [email protected] 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of Bambang Tata Samiadji
Sent: 26 December 2008 14:06
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: pengertian ibukota negara

 


Halo Bung Andri,

 

saya terpaksa harus menanggapi posting Anda menyangkut soal "Jakarta yang
mana?" Soalnya pertanyaan itu berasal dari saya.

 

Tentu berbeda dengan contoh yang Anda kemukakan "rakyat yang mana?" dari
sinyalemen Presiden yang ada kontek dengan politik. Pertanyaan saya "Jakarta
yang mana?" sama sekali bukan pertanyaan politis, bukan juga penyangkalan
yang apologis. Pertanyaan saya menyangkut klarifikasi. 

 

Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan..... "Pura-pura dalam perahu,
....kura-kura sama-sama tidak tahu".

 

Thanks. CU. BTS.

 

 



--- On Fri, 12/26/08, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote:

From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: pengertian ibukota negara
To: [email protected]
Date: Friday, December 26, 2008, 3:48 AM


"Diskusi tentang aglomerasi "Jakarta" haruslah  jelas batasannya
(definisinya) . Jakarta yang mana?"

 

 

 

 

 

Jadi teringat Orde Baru menjelang reformasi. 

Ketika itu ada tokoh masyarakat yang nyeletuk ke Presiden, "Rakyat
menghendaki Bapak (Presiden) mundur."  

Yang menjawab kompak justru pembantu-pembantu Presiden, "Rakyat yang mana?"
;-)

 

 

Orang awam bisa melihat jelas aglomerasi (pemusatan/penumpuk an) pembangunan
di Jakarta. 

Orang pintar justru mengaburkan masalah lagi dengan bertanya: Jakarta yang
mana? 

 

 

Pura-pura dalam perahu..

Kuya-kuyi tidak tahu.. 

 

Salam,

Andri

 

 

Kirim email ke