Mas Fadjar ysh.,

Saya menyebut bahwa pernyataan SBY *sesuai* dengan sila kelima dasar
negara kita. Tentu kita semua mengerti maknanya.

Saya kira orang awam bisa menilai bahwa tidak semua daerah di
Indonesia mendapat *kesempatan yang sama*, dan karena itu tentu saja
*tidak adil*.

Dan juga, saya pikir memang tidak semua orang yang masih mau
menggunakan akal sehat dan nuraninya untuk merenungkan mengapa daerah
Papua yang punya SDA banyak, penduduknya yang dewasa masih ada yang
berkoteka dan banyak yang bodah serta miskin, sementara anak
segelintir oknum penjabat di Jakarta -- wilayah yang nyaris tidak
punya SDA -- sudah tidak asing dengan tuxedo, sekolah di luar negeri,
dan acara dugem dengan para artis DKI -- yang secara
langsung-umum-bebas-tanpa-rahasia juga merangkap sebagai artis
nasional.

Kok bisa? Dari mana uangnya? "Ini semua Tuhan yang memberi," pungkas mereka.

"Dan pemberian Tuhan kepada elit Jakarta itu wajar, dalilnya kan
jelas: 'unstoppable agglomeration'", bela 'sementara planolog' --
tanpa diminta.

Salam,
Andri

On 1/4/09, [email protected] <[email protected]> wrote:
> Mas Andri ysh,
>
> Sila kelima adalah "Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia". Bukan
> kesamaan sosial.... Juga ada perbedaan besar antara "adil" dan "sama".
> Seuatu yang sama belum tentu adil, dan sesuatu yang adil belum tentu sama.
> Jadi kesempatan yang sama belum tentu sesuai dengan sila kelima kita.
>
> Tentang pernyataan Bung SBY dalam bukunya tsb, saya tidak bisa berkomentar
> karena saya belum membacanya. Untuk memahami apa yang dimaksudnya perlu
> dibaca seluruhnya sehingga tidak terjadi pemahaman yang sepenggal-sepenggal.
> Bisa jadi beliau menuliskan seperti itu dalam rangka kampanye politik
> menjelang pilpres tahun 2009 ini, atau bisa jadi juga suatu penyederhanaan
> dari "kesempatan (minimum untuk bisa hidup layak, berkualitas dan
> bermartabat) yang sama bagi masyarakat (Indonesia di mana pun dia
> berada)...."
>
> Salam,
>
> Fadjar Undip
>
>
> --- On Sun, 1/4/09, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote:
>
>> From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
>> Subject: Re: [referensi] Penjabat dan Tukang Sate (A Comparative Study)
>> To: [email protected]
>> Date: Sunday, January 4, 2009, 4:35 PM
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>             2009/1/4 <efha_mardiansjah@
>> yahoo.com>
>> > Menyambung pertanyaan Mas Andri terdahulu tentang
>> "apakah
>> masyarakat di wilayah lain sudah punya kesempatan yang sama
>> dengan masyarakat di
>> Jakarta?" Jawaban saya adalah "pasti
>> belum dan
>> tidak akan pernah punya kesempatan
>> yang sama dengan masyarakat di
>> Jakarta".
>>
>>
>>
>>
>> Mas Fadjar
>> ysh.,
>> Mudah-mudahan saya boleh mengutip
>> pernyataan Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, dalam buku
>> "Indonesia Unggul" (2008, p. 204),
>> sbb.:
>>
>> "Saya
>> mengatakan bahwa pembangunan adalah menyediakan
>> kesempatan yang sama bagi
>> masyarakat"
>>
>> yang saya pikir
>> sesuai dengan sila kelima dasar negara kita.
>>
>> Salam,Andri
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>      
>>      
>>      
>>      
>>
>>
>>
>>
>>      
>>
>>
>>
>>
>>      
>>      
>>
>>
>>      
>>      
>>      
>>
>>
>
>
>
>

Kirim email ke