Pak BTS ysm.,
Terima kasih Pak BTS, memang tanggapan seperti yang Bapak sampaikan di bawah
inilah yang saya harap-harapkan. Semua aturan jadi makin transparan. Saya
kira masyarakat sebagai stakeholders harus tahu informasi ini -- yang
biasanya hanya kalangan tertentu yang bisa mengaksesnya, dengan dalih "Itu
semua sudah disosialisasikan, kok", "Semua juga sudah tahu, Anda saja yang
belum", dst.

Bila selama ini ada yang ditutup-tutupi, atau minimal "setengah ketahuan,
setengah tertutup", tentu akan menimbulkan kecurigaan dan
sinisme masyarakat yang semakin intens kepada Pemerintah sehingga kinerja
tidak akan efektif dan itikad baik apapun akan selalu menjadi tanda tanya: "Ada
apa di belakangnya?". Apalagi bila aparat di-stereotype seolah-olah semuanya
seperti itu, tentu saja hal ini akan mengecilkan hati mereka-mereka yang
betul-betul ikhlas,bersih,  memegang amanah, dan bertanggung-jawab atas
kepemimpinannya.

Bila Pak BTS dan Rekan-rekan lain mempunyai data tambahan untuk topik
ini ("Dari
mana penjabat mendapatkan kekayaannya" -Red), mohon di-share. Bagus sekali
bila nantinya kita anggota milis referensi bisa mengompilasiny dan
mensosialisasikannya ke masyarakat sehingga semua semakin adil dan
transparan.

Terima kasih dan salam,
Andri

2009/1/4 Bambang Tata Samiadji <[email protected]>

>   Mas Andri, saya cuma mau klarifikasi alinea berikut:
>
> .....Kita ambil sebuah contoh saja: Kepala Daerah Kabupaten/Kota.
> Tunjangan pokok Rp 2.100.000
> Tunjangan jabatan Rp 3.780.000
> Total Rp 5.880.000
> Waduh, kecil banget ya, "cuman" Rp 5,88 juta sebulan? Artinya kurang dari
> Rp 200.000 per hari.
> ......
>
> Memang benar bahwa gaji Wlikota/Bupati memang tidak besar,  cuma segitu,
> tapi bersih karena segala fasilitas sudah dijamin APBD. Namun selain itu
> ....ada Peraturan Pemerintah nomer 109 tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan
> Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bahwa selain Kepala daerah dan wakil
> kepala Daerah mendapat gaji pokok, mereka mendapat biaya penunjang
> operasional yang besarnya tergantung pada nilai Pendapatan Asli Daerah
> (PAD).
>
> Contohnya mungkin kota Anda yaitu Medan. PAD kota Medan (tahun 2006)
> sebesar Rp 313 milyar. Berdasarkan PP 109/2000 tersebut, pasal  9 ayat 2,
> bagi daerah yang PAD di atas Rp 150 milyar, maka biaya penunjang operasional
> sebesar 0,15% dari PAD dan untuk Kota Medan berarti masing-masing Kepala
> Daerah dan Wakil Kepala Daerah mendapat Rp 39 juta per bulan.
>
> Masih ada lagi? Masih donk...sudah jadi rahasia umum khan  bahwa setiap
> proyek ada semacam "kick back fee" yang masih susah dilacak KPK.... let's
> say 5%....(resminya sih dari pengguna anggaran antara 10-30%). Kalau Belanja
> Modal (tahun 2006)  untuk proyek-proyek prasarana dan sarana sebesar Rp 216
> milyar, maka 5%nya sekitar Rp 11 milyar per tahun.
>
> ....kebayang nggak  biaya operasional Gubernur DKI Jakarta yang PADnya
> sekitar Rp 10 triliun? Dengan rumus yang sama Gubernur DKI punya dana
> operasional sebesar Rp 1,25 milyar per bulan. Belum tambah yang lain-lain.
>
> Jadi mau nggak jadi tukang sate?.... ya nggak lah!
>
> Thanks. CU. BTS.
>
>
>
>
>
>
> --- On *Sun, 1/4/09, Mohammad Andri Budiman <[email protected]>* wrote:
>
> From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
> Subject: [referensi] Penjabat dan Tukang Sate (A Comparative Study)
> To:
> Date: Sunday, January 4, 2009, 6:05 AM
>
>     Rekan-rekan ysh.,
>
>
> Beberapa penjabat sering kita dengar mengeluh gaji dan tunjangannya tidak
> cukup. Tidak kurang seorang Menteri yang pernah di-reshuffle pernah
> mengeluhkan hal ini, bukan?
>
> Nah, kalau begitu, tentu menjadi tanda tanya bagi kita masih memiliki akal
> sehat, bila gaji dan tunjangan itu memang tidak cukup, bagaimana sih caranya
> beberapa di antara mereka bisa mendapat dana yang cukup, misalnya untuk
> punya tanah di Puncak, menyekolahkan anak di luar negeri, menikah
> dengan artis menjelang pensiun, atau punya tabungan ruarr biasa yang tidak
> pernah bisa terungkap di Swiss maupun yang agak gres: seorang mantan
> penegak hukum yang dikabarkan mempunyai asset sekitar Rp 800 M beberapa
> waktu yang lalu.
>
> Berapa sih pendapatan para penjabat? Rasanya jarang ada yang mau terbuka
> tentang hal ini.
> Jadi, untuk mereka-reka, sementara kita gunakan saja "Daftar Pendapatan
> Penjabat" yang kebetulan masih terdapat di archive milis MM-UGM. Silakan
> klik di:
>
> http://tinyurl. com/9sxc5q <http://tinyurl.com/9sxc5q>
>
> atau langsung ke:
>
> http://www.mail- archive.com/ mm-...@yahoogrou ps.com/msg01082. 
> html<http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg01082.html>
>
>
> Kita ambil sebuah contoh saja: Kepala Daerah Kabupaten/Kota.
> Tunjangan pokok Rp 2.100.000
> Tunjangan jabatan Rp 3.780.000
> Total Rp 5.880.000
> Waduh, kecil banget ya, "cuman" Rp 5,88 juta sebulan?
> Artinya kurang dari Rp. 200.000,- per hari.
>
> Ini artinya kalah dengan pedagang sate asal Boyolali yang ngetem di
> Jakarta, yang omzetnya Rp. 3 juta per hari -- yang menurut Kompas, kalau
> mudik ke Jateng mobilnya minimal sekelas kijang, dan pernah tidak terimbas
> krismon dan Lehman Brothers.
> (Sumber:  http://gantyo. blog.mediaindone sia.com/2008/ 10/06/krisis-
> lehman-dan- pedagang- 
> sate-tongseng/<http://gantyo.blog.mediaindonesia.com/2008/10/06/krisis-lehman-dan-pedagang-sate-tongseng/>
>  )
>
> Jadi, kenapa kalau kita tanyakan sama tukang sate, "Mau nggak jadi
> Walikota, Mas?" respons si Mas cenderung, "Mau, dong, Pak biar bisa lebih
> makmur!" ...tapi... kalau kepada Pak Wali justru kita yang nggak berani
> nanya, "Pak, mau nggak, Pak Wali jadi tukang sate?"
>
> Oke deh, silakan saja berfilosofi bahwa pekerjaan adalah "preferensi
> masing-masing", "hak azasi individual", "tergantung anune", "menjabat
> adalah mengabdi, bukan mau cari senang", dsb., dst., dll.
>
> Tapi kok nggak ada ya mantan Menteri, Gubernur, Walikota yang berpikir,
> "Enak juga ya, kalau jual sate bisa muter uang 3 jeti per hari daripada
> cuman dapat 200 ribu thok potong pajak dan masih dicurigai KPK?" kemudian
> menyatakan mundur dari dari jabatannya dan mulai "ngipas-ngipas" di
> pinggiran jalan sambil senyam-senyum sama pelanggan setia dan bilang, 
> "Sate-nya
> mau nambah seporsi lagi kayak biasa, Mas?"
>
> Salam,
> Andri
>
>
>
>
>
>  
>

Kirim email ke