Atau, kalau terang, trus hirarkhinya naik? Emang siapa yang naikin? Apa perlu 
ujian sertifikat supaya naik? He-he-he...
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Thu, 4/23/09, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] [NTT+NTB] Habis Terang terbitlah Gelap
To: [email protected]
Date: Thursday, April 23, 2009, 7:08 AM








Emang kalau ditingkatkan hierarkinya jadi terang?
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Bambang Tata Samiadji 
Date: Thu, 23 Apr 2009 14:49:28 +0800 (CST)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] [NTT+NTB] Habis Terang terbitlah Gelap








Bung Dwi, emangnya hirarkhi kota-kota masih ada?
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Thu, 4/23/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com> wrote:


From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
Subject: [referensi] [NTT+NTB] Habis Terang terbitlah Gelap
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, April 23, 2009, 6:31 AM






Sepertinya kota-kota di NTTdan NTB belum layak ditingkatkan hirarkinya,… 
Habis terang, terbitlah gelap … gulita.
 
 
Lombok Defisit Listrik 20 MW
SELASA, 21 APRIL 2009 | 18:41 WIB
MATARAM, KOMPAS.com — Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, mengalami kekurangan 
20 megawatt pasokan daya listrik. Penyebabnya antara lain mesin yang digunakan 
sudah berusia tua, menjadikan Perusahaan Listrik Negara NTB menempuh pemadaman 
secara bergiliran guna mengatasi kekurangan daya itu.
Menurut Hardiwijanto, Manajer Niaga PLN Wilayah NTB, dalam jumpa pers, Selasa 
(21/4) di Mataram, kemampuan total mesin yang ada saat ini mencapai 101 MW, 
meski daya mampu yang didistribusikan secara interkoneksi kepada pemakai ke 
Pulau Lombok sebesar 90 MW.
Artinya, defisit listrik Pulau Lombok 16 MW, yang ditambah untuk cadangan daya 
bila terjadi kerusakan mesin secara tiba-tiba sebesar 4 MW sehingga total 
kekurangan sebesar 20 MW. Akibatnya, terjadi pemadaman bergilir: satu malam 
nyala, satu malam padam, pada beberapa titik. Sedangkan di Kota Mataram 
disiasati dengan menyala empat malam, pemadaman satu malam, terutama pada masa 
beban puncak sekitar pukul 18.00.
Pihak PLN NTB memang berupaya mengatasi kekurangan daya itu dengan cara menyewa 
mesin pembangkit, tetapi gagal karena tingginya penawaran yang kemudian tidak 
bisa dipenuhi oleh PLN NTB. Dengan kondisi itu, kalangan industri, toko 
swalayan, dan hotel diminta menggunakan mesin pembangkit listrik sendiri selama 
semalam, guna memperlancar proses penghitungan suara hasil Pemilu 9 April lalu.
Kekurangan daya listrik itu kerap kali dikeluhkan para pelanggan, di antaranya 
kalangan hotel, yang menempatkan listrik sebagai salah satu unsur pendukung 
bagi kedatangan wisatawan ke Lombok, selain memberi kepastian bagi investor 
untuk menanamkan modal di sana.
Pemadaman Listrik di Kupang Mendekati Sempurna
MINGGU, 19 APRIL 2009 | 11:50 WIB
KUPANG, KOMPAS.com — Sistem pemadaman bergilir yang diterapkan PLN NTT untuk 
Kota Kupang terasa semakin tidak manusiawi karena selalu disertai dengan "bonus 
tambahan" pemadaman atas kawasan yang sudah terkena jadwal pemadaman. Bahkan, 
beberapa pelanggan memberi istilah pemadaman yang mendekati sempurna.
    
Situasi buruk tersebut nyaris dialami cukup sempurna oleh para pelanggan yang 
bermukim di kawasan Liliba, Penfui, Baumata, Tarus, serta beberapa wilayah lain 
di Kupang bagian tengah dan timur. Sementara itu, kawasan yang dihuni oleh 
sebagian besar para pejabat seperti di daerah Walikota dan Oebobo hanya 
mendapat pemadaman bergilir sekali dalam sepekan.
    
"Kami di sini sudah mendapat jatah pemadaman bergilir empat hari sekali, 
terkadang juga dua hari sekali, selalu saja ada tambahan pemadaman bergilir di 
tengah malam. Pelayanan model apalagi ini?" kata warga asal Liliba, Doni dan 
Hans, Minggu.
    
Hal ini mereka alami pada Minggu dini hari ketika sedang asyik menonton acara 
sepak bola Serie A Liga Italia. "Lama-lama barang elektronik dalam rumah ini 
amblas semuanya," kata Doni dan Hans dalam nada kesal.
    
Para konsumen berharap YLKI NTT melakukan gugatan secara class action kepada 
PLN Kupang dan meminta KPK menyelidiki manajemen keuangan serta penggunaan 
bahan bakar oleh perusahaan listrik negara itu.

ABI 
Sumber : Ant
 
 
Regards,
 dwiagus 
http://bdwiagus. blogspot. com
http://bdwiagus. multiply. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White
 
:::.... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com 
Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. 
php?gid=34091848 127&ref=ts 
 
















      

Kirim email ke