Bung Nuzul, sebetulnya tarif nasional lebih baik karena yang Jawa membayar 
lebih besar sehingga bisa cross subsidy untuk daerah jauh seperti NTB dan NTT. 
Mungkin kalau mau (pasti nggak mau), pemda bisa ambil peran untuk kasih subsidi 
menambah "willingness to pay" masyarakat. Pemda-pemda itu masih banyak duitnya 
koq. Contohnya Mataram pada tahun 2006 masih punya Silpa Rp 61 M, terus tahun 
2007 masih punya Rp 58 M. Dengan cara ini, maka PLN punya market yang potensial 
sehingga punya alasan untuk meambah daya.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Thu, 4/23/09, Nuzul Achjar <[email protected]> wrote:


From: Nuzul Achjar <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] [NTT+NTB] Habis Terang terbitlah Gelap
To: [email protected]
Date: Thursday, April 23, 2009, 11:08 AM











 Rekan-rekan Referiensiers Ysh,
 
 

Menyambung posting rekan Benedictus tentang kelistrikan di NTT dan NTB, saya 
ingin sedikit sharing informasi tentang subsidi listrik di kedua daerah 
tersebut. Subsidi listrik di NTT per KWh adalah Rp Rp 2014,85, sedangkan untuk 
NTB Rp 1524,10 per KWh. Subsidi rata- rata di luar Jawa adalah Rp 776,13 per 
KWh. Subsidi untuk Jawa rata-rata Rp 310,97 per KWh.
 
Karena NTT dan tidak berada dalam "sistem grid", seperti halnya dengan grid 
Jawa-Bali atau grid Sumatera bagian Selatan hingga Sumbar, biaya produksi 
listrik akan sangat mahal, ditambah lagi jika seluruh pembangkit menggunakan 
solar.  
 
Sedikit informasi, karena kebetulan saya akan menghadiri  diskusi tentang 
konsep Public Service Obligation (PSO) di Bali tanggal 5 Mei 2009 nanti untuk 
membicarakan pola subsidi seperti apa yang pas untuk kondisi Indonesia. Apakah 
memungkinkan dan sesuai dengan UU jika diterapkan "tarif regional" yang 
mencerminkan biaya produksi ataupun "willingness to pay" (WPT). Jadi tidak lagi 
pakai pola tarif rata-rata nasional seluruh daerah Rp 660 per KWh.
 
Salam,
 
Nuzul Achjar















      

Kirim email ke