Halo Pak Eko dan milister lainnya.
 
Benar sekali bahwa RTRWN masih menganut pendekatan hirarkhi kota-kota dalam 
atribut PKN, PKW, PKL, dan PKSN. Oleh karena RTRWN itu berupa PP (26/2008), 
maka ia sebagai petunjuk bagi pembangunan prasarana dan investasi nasional.
 
Tapi apakah benar bahwa PKN pangkatnya lebih tinggi daripada PKW, dan PKW lebih 
tinggi daripada PKL? Teori Kepangkatan (hirarkhi) ini bisa benar kalau diikuti 
dengan sistem pemerintahan yang memang mengalokasikan order pemerintahan dari 
PKN, PKW, dan PKL dan sebagainya itu melalui kebijakan fiskal , regulasi, dan 
moneter. Dulu begitu ketika ada Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Tingkat 
I, dan Pemerintah Kabupaten/Kota Tingkat II, regulasi-regulasi perdagangan yang 
memusat (misalnya pengekspor lokal harus melalui pengekpor nasional), dan 
pemegang kendali moneter yaitu BI masih di bawah ketiak Pemerintah Pusat. Itu 
semua telah selesai setelah terjadi globalisasi dan reformasi di negeri kita 
ini.
 
Yang ada hanya fungsi saja di mana PKN mempunyai fungsi (katanya) berskala 
nasional, PKW mempunyai fungsi regional, dan demikian PKL fungsinya hanya lokal 
saja. Begitu juga kota-kota internasional yang Anda sebut seperti Sassen dan 
world cities lainnya. Masing-masing kota tersebut berinteraksi ruang, tetapi 
rangkaian interaksi itu sudah sangat komplek sehingga saya lebih bisa 
mengatakan sebagai matrik jejaring saja. Tidak ada lagi pemimpin, yang ada 
hanya memimpin (karena fungsi). Emangnya apa mau kota Tasik dipimpin sama kota 
Bandung?
 
Demikian Pak pemikiran saya pada soal kebijakan pembangunan kota-kota yang 
takmau mengikatkan pada romantika teori lokasi. Tapi kalau dalam tataran teori, 
memang mengasyikkan bicara hirarkhi, semakin dalam semakin mengasyikkan, tetapi 
semakin jauh dari maksud tujuan sebetulnya kita mau apa. He...he..he..
 
Thanks. CU. BTS.
 
 


--- On Thu, 4/23/09, Eko B K <[email protected]> wrote:


From: Eko B K <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] [NTT+NTB] Habis Terang terbitlah Gelap
To: [email protected]
Date: Thursday, April 23, 2009, 10:19 AM












Pak BTS ysh.,

Bukankah dari sudut pandang perencanaan tata ruang, RTRW kita masih menganut 
pendekatan perencanaan hirarki kota dlm bentuk PKN, PKW, PKL...dan PKSN (yg 
baru)?...

Dlm konteks fenomena, hirarki kota juga masih ada dan akan tetap ada... global 
city nya Sassen bukankah melihat ini utk 3 kota top finance dunia... sebagai 
info saja, World City Network nya Peter Taylor walaupun melihat dlm konteks 
network tapi juga membahas soal hirarki, yakni kota2 yg memiliki perbedaan 
kekuatan konektivitas, dia buat city rank berdasarkan city connectivities utk 
nation states, continental states, dan global network...demikian juga Dicken, 
Cagmani, dll yg kalau diurut2 ketemunya ya di "world city hierarchy" nya 
Friedmann tahun 86... kecuali Friedmann, studi2 di atas relatif baru...

Lebih lama lagi ya studinya Hyman (1974) yg sering dikutip, yg melihat hirarki 
kota dlm konteks hirarki firms... atau yg membahas lebih tempo dulu lagi Janet 
Abu Lughod (1989) yg membahas network dan hirarki kota2 dunia abad 13 sebelum 
hegemoni barat....atau Fernand Braudel utk hirarki kota2 di Eropa... bahkan 
ESDP (European Spatial Devt Perspective) dan banyak studi masa kini/ terbaru di 
Eropa masih memetakan hirarki kota di Eropa...

salam,

Eko.

--- On Thu, 4/23/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] [NTT+NTB] Habis Terang terbitlah Gelap
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, April 23, 2009, 9:29 AM









Ya..ya.. setuju..hirakhi adalah sebuah fenomena yang pasti  terbentuk.... dan 
sudah terbentuk..tapi dulu..sudah lama...sekarang dengan berkembangnya CIT  
menjadi sebuah matrik jejaring ... bukan hirarkhi lagi. Kalau matrik jejaring 
ini kita lihat flow-nya, baik itu barang, manusia, information, dan soft-cash 
interbank... memang menjadi entropi. SETUJU!
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Thu, 4/23/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com> wrote:


From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
Subject: RE: [referensi] [NTT+NTB] Habis Terang terbitlah Gelap
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, April 23, 2009, 7:14 AM






 
Mungkin ada mungkin tidak pak,.. saya rasa itu sebuah keniscayaan , seperti 
sebuah fenomena,…. Hirarki pasti terbentuk…. 
Kalau saya sendiri gak terlalu minat fokus pada besaran nodalnya,.. tapi gemana 
memanage network antar nodal itu, besar atau kecil, …
Tapi saya bukan ahli hirarki,…. Saya lebih suka entropi (kalau istilah Bapak 
itu) hehehehhee 
  
Lagian kalau di NTT dan NTB susah mencari hirarki pak,…. Karena listrik untuk 
penerangannya masih byar pet byar pet,… jadi gak begitu jelas keliatan. 
Nanti kalau NTT+NTB udah terang benderang dengan listriknya yang kuat 
menantang, mungkin ketauan  hirarki kota di pulau Lombok-sumbawa- sumba-flores- 
timor itu seperti apa… 
  

Regards,
 dwiagus 
http://bdwiagus. blogspot. com 
http://bdwiagus. multiply. com 
  
  
  


From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of Bambang Tata Samiadji
Sent: 23 April 2009 13:49
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] [NTT+NTB] Habis Terang terbitlah Gelap
  












Bung Dwi, emangnya hirarkhi kota-kota masih ada?

 

Thanks. CU. BTS.

--- On Thu, 4/23/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com> wrote:


From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
Subject: [referensi] [NTT+NTB] Habis Terang terbitlah Gelap
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, April 23, 2009, 6:31 AM 




Sepertinya kota-kota di NTTdan NTB belum layak ditingkatkan hirarkinya,… 
Habis terang, terbitlah gelap … gulita.
  
  
Lombok Defisit Listrik 20 MW 
SELASA, 21 APRIL 2009 | 18:41 WIB 

MATARAM, KOMPAS.com — Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, mengalami kekurangan 
20 megawatt pasokan daya listrik. Penyebabnya antara lain mesin yang digunakan 
sudah berusia tua, menjadikan Perusahaan Listrik Negara NTB menempuh pemadaman 
secara bergiliran guna mengatasi kekurangan daya itu.

Menurut Hardiwijanto, Manajer Niaga PLN Wilayah NTB, dalam jumpa pers, Selasa 
(21/4) di Mataram, kemampuan total mesin yang ada saat ini mencapai 101 MW, 
meski daya mampu yang didistribusikan secara interkoneksi kepada pemakai ke 
Pulau Lombok sebesar 90 MW.

Artinya, defisit listrik Pulau Lombok 16 MW, yang ditambah untuk cadangan daya 
bila terjadi kerusakan mesin secara tiba-tiba sebesar 4 MW sehingga total 
kekurangan sebesar 20 MW. Akibatnya, terjadi pemadaman bergilir: satu malam 
nyala, satu malam padam, pada beberapa titik. Sedangkan di Kota Mataram 
disiasati dengan menyala empat malam, pemadaman satu malam, terutama pada masa 
beban puncak sekitar pukul 18.00.

Pihak PLN NTB memang berupaya mengatasi kekurangan daya itu dengan cara menyewa 
mesin pembangkit, tetapi gagal karena tingginya penawaran yang kemudian tidak 
bisa dipenuhi oleh PLN NTB. Dengan kondisi itu, kalangan industri, toko 
swalayan, dan hotel diminta menggunakan mesin pembangkit listrik sendiri selama 
semalam, guna memperlancar proses penghitungan suara hasil Pemilu 9 April lalu.

Kekurangan daya listrik itu kerap kali dikeluhkan para pelanggan, di antaranya 
kalangan hotel, yang menempatkan listrik sebagai salah satu unsur pendukung 
bagi kedatangan wisatawan ke Lombok, selain memberi kepastian bagi investor 
untuk menanamkan modal di sana.
Pemadaman Listrik di Kupang Mendekati Sempurna 
MINGGU, 19 APRIL 2009 | 11:50 WIB 

KUPANG, KOMPAS.com — Sistem pemadaman bergilir yang diterapkan PLN NTT untuk 
Kota Kupang terasa semakin tidak manusiawi karena selalu disertai dengan "bonus 
tambahan" pemadaman atas kawasan yang sudah terkena jadwal pemadaman. Bahkan, 
beberapa pelanggan memberi istilah pemadaman yang mendekati sempurna.
    
Situasi buruk tersebut nyaris dialami cukup sempurna oleh para pelanggan yang 
bermukim di kawasan Liliba, Penfui, Baumata, Tarus, serta beberapa wilayah lain 
di Kupang bagian tengah dan timur. Sementara itu, kawasan yang dihuni oleh 
sebagian besar para pejabat seperti di daerah Walikota dan Oebobo hanya 
mendapat pemadaman bergilir sekali dalam sepekan.
    
"Kami di sini sudah mendapat jatah pemadaman bergilir empat hari sekali, 
terkadang juga dua hari sekali, selalu saja ada tambahan pemadaman bergilir di 
tengah malam. Pelayanan model apalagi ini?" kata warga asal Liliba, Doni dan 
Hans, Minggu.
    
Hal ini mereka alami pada Minggu dini hari ketika sedang asyik menonton acara 
sepak bola Serie A Liga Italia. "Lama-lama barang elektronik dalam rumah ini 
amblas semuanya," kata Doni dan Hans dalam nada kesal.
    
Para konsumen berharap YLKI NTT melakukan gugatan secara class action kepada 
PLN Kupang dan meminta KPK menyelidiki manajemen keuangan serta penggunaan 
bahan bakar oleh perusahaan listrik negara itu.

ABI 
Sumber : Ant 
  
  
Regards, 
 dwiagus 
http://bdwiagus. blogspot. com 
http://bdwiagus. multiply. com 
  
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White 
  
:::..... Indo-MONEV ...::: 
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia. 
Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com 
Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. 
php?gid=34091848 127&ref=ts 
 
 



















      

Kirim email ke