Sebenarnya, ini cermin kalau partai digunakan oleh petinggi partai untuk 
kepentingannya. Kader partai lainnya tidak dapat berbuat apa2 karena mereka 
'lemah' dan sangat memiliki ketergantungan yang tinggi, dan kondisi ini hampir 
berlaku di semua organisasi.
Sekedar gambaran,
Untuk mendirikan partai, harus punya kantor pusat (DPP), kemudian di propinsi, 
dan kabupaten/kota. Untuk kantor di DPP, tentunya jajaran pengurus di DPP yang 
membiayai, dan biasanya hanya sekelompok kecil yaitu Ketua Umum/Sekretaris 
Jenderal/Bendahara Umum. Sedangkan unsur ketua, sekretaris/wakil bendahara 
lainnya, pada umumnya penggembira, dan tak jarang pula adalah orang2 yang 
'mencari uang melalui partai'. Kemudian, setelah terbentuk di propinsi, perlu 
ada pelantikan oleh ketua umum, dan ini butuh biaya yang cukup besar (biasanya 
dana dari ketua umum). Selanjutnya untuk segala atribut yang dibutuhkan di 
setiap propinsi, kabupaten dan kota, minta lagi ke Dewan Pimpinan Pusat. 
Kemudian, ketika harus merencanakan suatu program kerja, dibuatlah Rakernas 
(Rapat Kerja Nasional) yang menghadirkan seluruh unsur KSB (Ketua, Sekretaris, 
Bendahara), dan untuk itu butuh akomodasi serta biaya transportasi peserta. 
Belum lagi sekali lima tahun harus ada Musyawarah
 Nasional (MUNAS).
Kalau ditinjau dari operasional partai untuk  seluruh kegiatan di atas, dalam 
kurun waktu lima tahun, suatu partai akan menghabiskan biaya lebih dari rp 5 
milyar (untuk pelantikan pengurus di propinsi, organisasi sayap, rakernas, 
munas), dan kalau menjelang pemilu, tentunya akan ada drop atribut ke daerah, 
biaya iklan dsb (kalau ikut ini akanb menghabiskan dana puluhan hingga ratusan 
milyar).
Semua biaya yang dibutuhkan, biasanya akan ditimpakan kepada pengurus pusat 
(dalam hal ini Ketua Umum, Sekjen, bendahara Umum). Kecuali partai yang sudah 
mapan, dalam arti banyak kadernya menjadi anggota legislatif atau mengisi di 
kabinet.
Itu sebabnya, partai akan mendekati kandidat yang berpeluang paling besar 
menjadi Presiden, sehingga bisa berharap ada kadernya yang akan menjadi 
menteri, atau setidaknya akan menjadi eksekutif di BUMN, dan seterusnya.
Tapi tentunya partai "yang pintar" tidak akan meletakkan telur dalam satu 
keranjang. Karena kalau keranjangnya jatuh akan pecahlah semua telur yang ada. 
Oleh karenanya, akan ditempatkan juga kader lain di kandidat yang lain (mereka 
akan bersandiwara seakan-akan tidak kompak). Toh, tujuannya, siapa pun yang 
menjadi pemenang, partai "yang pintar" tadi akan mendapat keuntungan, dan itu 
berarti, keberlangsungan kehidupan partai di masa mendatang, akan lebihg 
terjamin.
Salam,
Hot Asi




________________________________
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, May 24, 2009 19:04:44
Subject: Re: [referensi] Kader 'Membelot' Akibat Elit Parpol Terlalu Dominan






Sebelumnya saya juga melihat ada satu partai yang kuat
ideologinya. ..belakangan ternyata sahwat kekuasaan kuat juga. 

Thanks. CU. BTS. 

Thanks. CU. BTS. 
----- Original
Message ----- 
From: redi...@cbn. net.id 
To:
refere...@yahoogrou ps.com 
Sent: Monday, May 25, 2009 8:21
AM 
Subject: Re: [referensi] Kader 'Membelot' Akibat Elit Parpol
Terlalu Dominan 

Oleh karenanya maka idiologi partai dn
kaderisasi idiologi mnjdi pnting ... Jgn2 idiologinya kekuasaan. Sy lihat
hanya satu dua partai sj sih yg kuat idiolginya.. . 

RDd 

Sent from my BlackBerry® 
powered by Sinyal Kuat INDOSAT 





   


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke