Rekans ysh,

Saya cuma sedih....untuk acara "sandiwara kekuasaan" saja kok harus membuang
biaya begitu besar, hampir setiap tahun ricuh dan menghasilkan jumlah yang
mendadak miskin, berhutang atau pasien psikiater semakin banyak...
Padahal untuk melaksanakan pembangunan yang nyata saja anggaran yang jauh
lebih sedikit sudah harus dipotong hingga seper-seper...nya ....
Mahasiswa dan alumni PT saya banyak yang mengeluh...pak, kok di kelas kita
diajari "cuma" yang ideal saja...padahal kalau di "lapang (an)" realita yang
kami terima jauh lebih "kaya" dengan hal-hal yang sebaliknya...Lebih baik
belajar sambil ngobrol di warung sambil survey saja daripada lewat kelas....

Hmmm...itu memang risiko sebagai pengajar...

Salam,
ATA


2009/5/25 Risfan M <[email protected]>

>
>
> Rekans ysh,
>
> Sebetulnya "kader partai" itu apa sih? Orang-orang yang pakai kaos dan
> atribut partai, atau pengurus? Atau siapa? Seperti saya yang tidak pernah
> berpartai tapi selalu ikut pemilu ini apa?
> Kalau partainya saja pecah-pecah, lalu koalisi-koalisi, lalu apa arti
> membelot? Kadernya yang membelot atau partainya yang meninggalkan pemilihnya
> (kader)?
> Kok kayaknya ini gak jelas.
> Apalagi dikaitkan ideologi. Ideologi yang dimaksud apa? Agama? Nasional,
> Agama, Birokrasi, Rakyat? Neolib, Kerakyatan, Sosialis, Pancasila? Atau apa?
>
> Jangan-jangan kita diskusi tentang sesuatu yang gak jelas pula.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> --- On *Sun, 5/24/09, hotasi simamora <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: hotasi simamora <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] Kader 'Membelot' Akibat Elit Parpol Terlalu
> Dominan
> To: [email protected]
> Date: Sunday, May 24, 2009, 10:06 PM
>
>   Sebenarnya, ini cermin kalau partai digunakan oleh petinggi partai untuk
> kepentingannya. Kader partai lainnya tidak dapat berbuat apa2 karena mereka
> 'lemah' dan sangat memiliki ketergantungan yang tinggi, dan kondisi ini
> hampir berlaku di semua organisasi.
> Sekedar gambaran,
> Untuk mendirikan partai, harus punya kantor pusat (DPP), kemudian di
> propinsi, dan kabupaten/kota. Untuk kantor di DPP, tentunya jajaran pengurus
> di DPP yang membiayai, dan biasanya hanya sekelompok kecil yaitu Ketua
> Umum/Sekretaris Jenderal/Bendahara Umum. Sedangkan unsur ketua,
> sekretaris/wakil bendahara lainnya, pada umumnya penggembira, dan tak jarang
> pula adalah orang2 yang 'mencari uang melalui partai'. Kemudian, setelah
> terbentuk di propinsi, perlu ada pelantikan oleh ketua umum, dan ini butuh
> biaya yang cukup besar (biasanya dana dari ketua umum). Selanjutnya untuk
> segala atribut yang dibutuhkan di setiap propinsi, kabupaten dan kota, minta
> lagi ke Dewan Pimpinan Pusat. Kemudian, ketika harus merencanakan suatu
> program kerja, dibuatlah Rakernas (Rapat Kerja Nasional) yang menghadirkan
> seluruh unsur KSB (Ketua, Sekretaris, Bendahara), dan untuk itu butuh
> akomodasi serta biaya transportasi peserta. Belum lagi sekali lima tahun
> harus ada Musyawarah Nasional (MUNAS).
> Kalau ditinjau dari operasional partai untuk  seluruh kegiatan di atas,
> dalam kurun waktu lima tahun, suatu partai akan menghabiskan biaya lebih
> dari rp 5 milyar (untuk pelantikan pengurus di propinsi, organisasi sayap,
> rakernas, munas), dan kalau menjelang pemilu, tentunya akan ada drop atribut
> ke daerah, biaya iklan dsb (kalau ikut ini akanb menghabiskan dana puluhan
> hingga ratusan milyar).
> Semua biaya yang dibutuhkan, biasanya akan ditimpakan kepada pengurus pusat
> (dalam hal ini Ketua Umum, Sekjen, bendahara Umum). Kecuali partai yang
> sudah mapan, dalam arti banyak kadernya menjadi anggota legislatif atau
> mengisi di kabinet.
> Itu sebabnya, partai akan mendekati kandidat yang berpeluang paling besar
> menjadi Presiden, sehingga bisa berharap ada kadernya yang akan menjadi
> menteri, atau setidaknya akan menjadi eksekutif di BUMN, dan seterusnya.
> Tapi tentunya partai "yang pintar" tidak akan meletakkan telur dalam satu
> keranjang. Karena kalau keranjangnya jatuh akan pecahlah semua telur yang
> ada. Oleh karenanya, akan ditempatkan juga kader lain di kandidat yang lain
> (mereka akan bersandiwara seakan-akan tidak kompak). Toh, tujuannya, siapa
> pun yang menjadi pemenang, partai "yang pintar" tadi akan mendapat
> keuntungan, dan itu berarti, keberlangsungan kehidupan partai di masa
> mendatang, akan lebihg terjamin.
> Salam,
> Hot Asi
>
>  ------------------------------
> *From:* Bambang Tata Samiadji <[email protected]. id>
> *To:* refere...@yahoogrou ps.com
> *Sent:* Sunday, May 24, 2009 19:04:44
> *Subject:* Re: [referensi] Kader 'Membelot' Akibat Elit Parpol Terlalu
> Dominan
>
>
> Sebelumnya saya juga melihat ada satu partai yang kuat ideologinya.
> ..belakangan ternyata sahwat kekuasaan kuat juga.
>
> Thanks. CU. BTS.
>
> Thanks. CU. BTS.
> ----- Original Message -----
> From: redi...@cbn. net.id
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Sent: Monday, May 25, 2009 8:21 AM
> Subject: Re: [referensi] Kader 'Membelot' Akibat Elit Parpol Terlalu
> Dominan
>
> Oleh karenanya maka idiologi partai dn kaderisasi idiologi mnjdi pnting ...
> Jgn2 idiologinya kekuasaan. Sy lihat hanya satu dua partai sj sih yg kuat
> idiolginya.. .
>
> RDd
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
>
>
>
>
> ------------------------------
> Get your preferred Email name!
> <http://sg.rd.yahoo.com/aa/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/>
> Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.
>
>
>  
>

Kirim email ke