Hiiii..... kirain cuma aku yang binun !! Ada temennya rupanya ya... --- On Wed, 6/24/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:
From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan. To: [email protected] Date: Wednesday, June 24, 2009, 10:56 PM Rekan Hotasi ysh, Senang membaca posting anda…… tapi maafkan saya…. Saya kok bingung menafsirkannya ya?...... apakah anda berkenan membantu memberi penjelasan….. sebenarnya yg ingin anda maksudkan utk tegaskan disitu ttg hal apanya ya?...... apakah anda menyesalkan bhw Indonesia masuk WTO dan AFTA lalu akibatnya menghasilkan manusia2 spt teman anda yg kaya raya itu?..... kalau benar anda menyesal ttg WTO bukankah kita bisa diskusikan WTOnya?..... . Ataukah anda menyesalkan ‘kelakuan teman anda’ yg menurut anda demikian kaya rayanya dgn memiliki aset ribuan ha lahan dan ribuan ternak dikampung dan menghabiskan (membelanjakan? ) hasilnya di Jakarta dan luar negeri?.......atau kecewa lainnya lagi?...... Walau pengin dengar juga riwayat ceritanya A-Z bgmn dari kata anda ia “hanya S2” dan dlm 10 tahun tlh miliki ribuan ha lahan dan ribuan ternak (sapi?... atau ayam?) ….. saya pikir tentu teman anda itu telah mempekerjakan ribuan orang juga dong….. krn khan tiap ha lahan itu memerlukan tenaga kerja tak kurang dari 5 orang…. belum lagi yg pd tingkatan middle dan top manajemennya. ..... Lalu menurut anda yg salah apanya atau dimananya… dan seharusnya menurut anda yg idealnya bgmn ya?..... mohon pencerahannya…….. Salam, --- On Wed, 6/24/09, hotasi simamora <hotasisimamora@ yahoo.com> wrote: From: hotasi simamora <hotasisimamora@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan. To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, June 24, 2009, 12:40 PM Dear all, Saya punya teman yang tadinya tak memiliki 'harta' kecuali hanya bermodalkan pendidikan (lulusan strata-2) meski pun masih fresh serta memiliki jaringan. Beberapa tahun silam, dia 'merantau' ke kampung halaman. Saya katakan 'merantau', meski pun dia berasal dari kampung tersebut, tapi sebenarnya, sejak kakeknya, sudah merantau ke tempat lain. Dalam kurun waktu 10 tahun, dia sudah menjadi tuan tanah, pemilik ribuan ha tanah, pemilik perkebunan kopi, nenas, dan coklat serta memiliki ribuan ternak. Para pemilik tanah terdahulu, sekarang hanya tinggal ber nostalgia di warung2 kopi. Mereka masih tetap dengan tekunnya, berkunjung ke warung kopi dari mulai pagi hingga sore hari. Kalau dikatakan soal 'budaya', teman saya ini juga berasal dari suku yang sama dengan penduduk lokal. Tapi memang cara pandangnya sudah berbeda, terutama dengan dorongan untuk 'mengejar materi', sudah sedemikian tingginya. Ada yang mengatakan, teman saya ini memiliki semangat juang yang tinggi, ada yang mengatakan bahwa teman saya ini bermentalitas kemajuan, sementara yang di kampung memiliki mentalitas ketertinggalan, dan sebagainya. Dengan bertambahnya waktu, saya mulai melihat, bahwa di kampung itu, sudah semakin sedikit marga asli, yang bermukim. Dan teman saya ini, boleh dikatakan, hampir jarang ada di kampung itu. Dia hanya sesekali mengontrol berbagai usahanya, lebih banyak dikendalikan dari Jakarta. Segala penghasilan yang diperolehnya dari kampung tersebut, sepenuhnya dihabiskannya di Jakarta, atau bahkan di luar negeri. Maklum, sekarang, anak2nya pada sekolah di luar negeri. Istrinya pun, mondar-mondir dari satu negara ke negara lain, untuk mengunjungi ketiga putra-putrinya. Inilah sebenarnya kegundahan hati, ketika pada KTT Non Blok di Bogor, Presiden Soeharto berani mencanangkan waktu bahwa kita akan ikut WTO, AFTA. Salam HS New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does!

