Bung Hengky dan Bu Reny, serta rekan2 ysh Bukan cuma Bung Hengky dan bu Reny saja yang bingung. Saya sendiri juga bingung, dan itu ternyata juga tercermin dalam tulisan saya , tapi saya juga kagum sama bung Risfan yang dapat ‘menangkap’ kenapa saya bingung. Sebenarnya, (bung Hengky), saya tidak menyalahkan WTO, AFTA db. Saya sendiri tak mungkin akan bisa menghindar dari globalisasi, sama seperti saya tidak bisa mengatakan kepada proses kemajuan, ‘Kemajuan, tunggu dulu dong, saya belum siap nih, saya masih sangat konservatif, tradisional, dst”. Kalau atas nama diri sendiri atau keluarga saya sendiri, tentunya saya akan mendukung sikap ‘teman saya’. Dia sendiri tidak peduli, kalau ternyata pada akhirnya, penduduk local tempat dia mendapatkan kekayaan, menjadi miskin, tidak memiliki lahan, dsb. Karena dia melihat dirinya sendiri, yang penting “Aku sejahtera, aku mampu memberikan kesejahteraan kepada keluarga ku, dst” Aunur Rofiq menulis : “Ekonomi dalam UUD 1945 sudah demikian gamblangnya. ...tetapi implementasinya selalu diinterpretasikan berbeda oleh elite penguasa. Karena itu, kita perlu mengelaborasinya, agar kemakmuran yang diidam-idamkan oleh founding fathers kita tercapai. Coba kita simak makna dari kalimat "kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat". Di Era Pak Harto, kita punya Pembangunan Jangka Panjang Tahap I, II yang kemudian dirumuskan strateginya dalam bentuk repelita 1, 2, 3, 4, 5, dan ada Program Aksi dalam bentuk Program Tahunan. Di zaman reformasi, kita kehilangan arah. Kita tak tahu mau kemana, masing2 individu yang punya peran dalam proses pengambilan keputusan, bersikap seperti ‘teman saya’ tadi, dan pasti dikemas dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Seperti yang dirisaukan oleh Aunur Rofiq, itulah yang kita lihat. Kita semakin jauh dari cita-cita proklamasi. Mari kita lihat penduduk asli di setiap kota-kota besar yang semakin terpinggirkan dari pusat kota, bukannya dengan alasan kemakmuran, tapi sebagai akibat ketidakberdayaan menghadapi persaingan hidup. ++ Lalu menurut anda yg salah apanya atau dimananya… dan seharusnya menurut anda yg idealnya bgmn ya?..... mohon pencerahannya…….. Saya pikir, kita harus punya grand design, bagaimana mewujudkan cita-cita proklamasi, yaitu "kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat", yang selanjutnya diterjemahkan oleh setiap pihak. Bina Marga, Cipta Karya, Penataan Ruang, dst, akan membuat prioritas bagaimana menyusun kebijakan, strategi dan program untuk mendorong sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.Pendidikan dan budaya kita semakin mengajarkan kepada kita untuk memiliki semangat gotongroyong yang tinggi, dan bagaimana satu sama lain semakin bersinergi untuk orang banyak. Bila saya jadi pengusaha, tidak sekedar berpikir mempekerjakan orang dengan Upah Minimum, tapi sekaligus mendorong pekerja saya mampu meningkatkan kemampuan mereka, memberikan kesejahteraan yang lebih baik. Tentunya akan bertambah banyak lagi daerah yang memiliki “pengusaha yang peduli dan berniat "maju bersama komunitas"nya.
Mohon maaf kalau bertambah bingung. Salam ________________________________ From: hengky abiyoso <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wednesday, June 24, 2009 22:56:06 Subject: Re: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan. Rekan Hotasi ysh, Senang membaca posting anda…… tapi maafkan saya…. Saya kok bingung menafsirkannya ya?...... apakah anda berkenan membantu memberi penjelasan….. sebenarnya yg ingin anda maksudkan utk tegaskan disitu ttg hal apanya ya?...... apakah anda menyesalkan bhw Indonesia masuk WTO dan AFTA lalu akibatnya menghasilkan manusia2 spt teman anda yg kaya raya itu?..... kalau benar anda menyesal ttg WTO bukankah kita bisa diskusikan WTOnya?..... . Ataukah anda menyesalkan ‘kelakuan teman anda’ yg menurut anda demikian kaya rayanya dgn memiliki aset ribuan ha lahan dan ribuan ternak dikampung dan menghabiskan(membelanjakan? ) hasilnya di Jakartadan luar negeri?.......atau kecewa lainnya lagi?...... Walau pengin dengar juga riwayat ceritanya A-Z bgmn dari kata anda ia “hanya S2” dan dlm 10 tahun tlh miliki ribuan ha lahan dan ribuan ternak (sapi?... atau ayam?) ….. saya pikir tentu teman anda itutelah mempekerjakan ribuan orang juga dong….. krn khan tiap ha lahan itu memerlukan tenaga kerja tak kurang dari 5 orang…. belum lagi yg pd tingkatan middle dan top manajemennya. ..... Lalu menurut anda yg salah apanya atau dimananya… dan seharusnya menurut anda yg idealnya bgmn ya?..... mohon pencerahannya…….. Salam, --- On Wed, 6/24/09, hotasi simamora <hotasisimamora@ yahoo.com> wrote: From: hotasi simamora <hotasisimamora@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan. To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, June 24, 2009, 12:40 PM Dear all, Saya punya teman yang tadinya tak memiliki 'harta' kecuali hanya bermodalkan pendidikan (lulusan strata-2) meski pun masih fresh serta memiliki jaringan. Beberapa tahun silam, dia 'merantau' ke kampung halaman. Saya katakan 'merantau', meski pun dia berasal dari kampung tersebut, tapi sebenarnya, sejak kakeknya, sudah merantau ke tempat lain. Dalam kurun waktu 10 tahun, dia sudah menjadi tuan tanah, pemilik ribuan ha tanah, pemilik perkebunan kopi, nenas, dan coklat serta memiliki ribuan ternak. Para pemilik tanah terdahulu, sekarang hanya tinggal ber nostalgia di warung2 kopi. Mereka masih tetap dengan tekunnya, berkunjung ke warung kopi dari mulai pagi hingga sore hari. Kalau dikatakan soal 'budaya', teman saya ini juga berasal dari suku yang sama dengan penduduk lokal. Tapi memang cara pandangnya sudah berbeda, terutama dengan dorongan untuk 'mengejar materi', sudah sedemikian tingginya. Ada yang mengatakan, teman saya ini memiliki semangat juang yang tinggi, ada yang mengatakan bahwa teman saya ini bermentalitas kemajuan, sementara yang di kampung memiliki mentalitas ketertinggalan, dan sebagainya. Dengan bertambahnya waktu, saya mulai melihat, bahwa di kampung itu, sudah semakin sedikit marga asli, yang bermukim. Dan teman saya ini, boleh dikatakan, hampir jarang ada di kampung itu. Dia hanya sesekali mengontrol berbagai usahanya, lebih banyak dikendalikan dari Jakarta. Segala penghasilan yang diperolehnya dari kampung tersebut, sepenuhnya dihabiskannya di Jakarta, atau bahkan di luar negeri. Maklum, sekarang, anak2nya pada sekolah di luar negeri. Istrinya pun, mondar-mondir dari satu negara ke negara lain, untuk mengunjungi ketiga putra-putrinya. Inilah sebenarnya kegundahan hati, ketika pada KTT Non Blok di Bogor, Presiden Soeharto berani mencanangkan waktu bahwa kita akan ikut WTO, AFTA. Salam HS ________________________________ New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

