Trims pak Nuzul atas tgpnya...... selanjutnya dari pak Nuzul :
“…….Pertanyaan pak Aby sangat benar, ya ngapain pelaku usaha jual gas ke dalam 
negeri jika harganya ditentukan sepihak oleh pemerintah……”.
Saya khawatir sekali ada bias disini......dan saya khawatir nanti ada yg 
menyangka saya ini a-nasionalis..... dan kalau sampai kedengeran rd. Abimanyu 
bisa repot saya nanti...... Yg saya tanyakan (krn saya tak tahu persisnya)  ttg 
ekspor migas adlh dalam kapasitas “SDA kita dimiliki oleh negara” (walau 
eksplorasinya smntara ini  disuruh dilakukan oleh swasta).... dan dalam 
kapasitas “diekspor oleh/ utk negara” dan “bukan oleh/ utk swasta” (walau 
prakteknya pmrth menyuruh swasta)........
dan yg saya tulis pd 24/6 adalah  :
“....Saya jg tak tahu…. Apakah menurut pak Nuzul  kebijakan ekspor migas itu pd 
dasarnya kontra dgn UUD45 atau nggak…… ini perlu diberikan penjelasan/ 
pencerahan dulu oleh pak Nuzul dimilis ini….  Jd yg awam sekali biarjadi  rada2 
paham dan sayapun biar paham jalan pikiran bapak…… Sebab selain banyak negara 
lain penghasil besar migas jg pd ngekspor…. Dan negara yg  kurang beruntung tak 
memiliki SDA semacam  migas itu sbg sesama manusia mereka khan ingin juga 
ngimpor?.......
Kemudian dari  bunyi UUD45 pasal 33 itu… yg namanya rakyat khan bukan hanya yg 
hari ini masih pd hidup saja….. tapi adlh juga beratus2 generasi kita berikut 
nanti yg kini belum lahir?.... dan kalau ekspor sebagian  migas kita itu (nb: 
dlm kapasitas migas tetap dimiliki oleh negara) dipakai utk  membangun 
infrastruktur utk kehidupan bangsa yg lbh baik dimasa depan … lalu apakah itu 
namanya menyalahi atau memelintir UUD1945 juga?.......”.
Tentu saja saya jg berharap UUMigas 2001  yg 3 bh pasalnya sempat ditolak oleh 
Mahkamah Konstitusi perlu segera diperbaiki dan berharap tak muncul  lagi 
pasal2 yg mengebiri/ menyalahi  penguasaan /kepemilikan oleh negara (pokoknya 
hrs tetap sesuai bunyi pasal 33 UUD45….… semua SDA yg menyangkut hajat hidup 
orang banyak dikuasai oleh negara dan diperuntukkan bagi sebanyak2 kemakmuran 
rakyat)…….
Salam, 
 

Tuesday, June 23, 2009 8:54 PM
From: "Nuzul Achjar" <[email protected]>
To: [email protected]

Pak Aby dan Teman-teman Milister Ysh,
Waduh., pertanyaan pak Aby seperti pertanyaan waktu sidang skripsi atau thesis  
he he he..Pertanyaan yang sangat menarik, yang harus kita jawab bersama, apapun 
argumentasinya. .. mohon waktu ya pak he he he. 
Apakah ekspor gas itu melanggar konstitusi? Bukan ekspornya yang melanggar 
konstitusi, tetapi pada UU Migas No 22/2001 (beberapa pasal dicabut oleh MK) di 
mana wujud kedaulatan negara sebagai Pemegang Kuasa Pertambangan Migas (melalui 
BUMN) dipreteli. Lha yang salah bukan ekspor gas oleh badan usaha swasta atau 
pelaku usaha, tapi peraturan perundangannya (liberalisasi) yang membuat pihak 
swasta lebih mementingkan ekspor, dan itu sangat wajar. Akibatnya tau 
sendirilah, Asean Aceh Fertilizer di Lhok Seumawe tutup karena gas tak 
cukup, habis diekspor sebagai LNG dari Arun. Pupuk Sriwijaya sempat sempoyongan 
tak punya gas. Beberapa proyek kelistrikan PLTGU di Jawa reschedule karena 
ketidakpastian pasokan gas.   
Pertanyaan pak Aby sangat benar, ya ngapain pelaku usaha jual gas ke dalam 
negeri jika harganya ditentukan sepihak oleh pemerintah. Beberapa tahun lalu, 
PLN kalau tak salah hanya mampu beli gas dari pelaku usaha sekitar US$2 per 
cubic feet (harga di wellhead) dalam rangka Domestic Market Obligation (DMO), 
sementara harga di sport market sudah mencapai di atas US$7. Setelah dipotong 
biaya transportasi dan biaya lain, pelaku usaha lebih untung ekspor.
Dicabutnya seluruh pasal UU No 20/2002 Tentang Ketenagalistrikan  oleh MK, 
punya cerita yang sama dengan UU Migas No 22/2001 di mana peranan negara 
dipreteli.
Tampaknya usulan pemerintah untuk pengganti UU No 20/2002 (yang sudah dicabut 
MK) yang sekarang sedang dibahas merupakan jalan tengah untuk mengatasi 
kebuntuan penyediaan listrik. 
Seperti kita ketahui sekarang kita menggunakan UU Ketenagalistrikan yang 
lama (sebelum UU No 20/2002) yaitu UU No 15/1985 di mana PLN berfungsi sebagai 
Pemegang Kuasa Usaha Kelistrikan. 
Pak Aby dan sahabat referensiers, mari sama-sama kita ikuti dan 
kritisi Rancangan UU Ketenagalistrikan yang baru ini, antara lain rencana 
pemberlakuan "regional tariff." Teman-teman saya masih berdebat soal "regional 
tariff", ada yang mengatakan melanggar konstusi, ada yang malah mengatakan 
justru memberi tenaga baru bagi penyediaan ketenagalistrikan.
Lepas dari itu, bagi saya pribadi ada exercise yang cukup menantang, bagaimana 
menentukan regional tariff ini secara akademik, mau gunakan short run marginal 
cost, long run marginal cost? It is still long way to go.
Wassalam,
Nuzul Achjar
 
 
On  Tuesday, June 23, 2009 7:13 PM   aby  wrote :
Re: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan.
 
Pak Nuzul dan milisters ysh,
Ssst… pak Nuzul kalo bicara ekonomi jangan kenceng2 pak….. takut nanti 
kedengeran Eyang Suhadi atau raden Abimanyu  nggak enak…….
Lagian  khan tak semua orang anggap ekonomi itu penting pak…..
Tapi pernyataan anda ttg pelintiran amandemen UUD’45… liberalisasi energi dan 
“indikasi kadar neoliberalisasi”  akibat contoh ketekekoran pasokan gas di 
Tarakan atau blackout di Batam sptnya terlampau cepat menyederhanakan masalah  
dan perlu  dijernihkan lbh lanjut pak……
Utamanya ttg sinyalemen pelintiran amandemen UUD45….. kalau itu benar… bukanlah 
itu melibatkan demikian  banyak pihak…. Bukan sekedar parpol tertentu…. Tapi 
tentu melibatkan banyak pihak di DPR yg mengegoalkan UUMigas….… melibatkan jg  
pihak pemerintah yg biasanya bagian membuat draftnya…… melibatkan swasta dan 
anggota masyarakat….. apa betul begitu?.........
Walau saya dari LSM dan wajar kalau selalu kritis… tapi selalu masih coba 
berprasangka baik dulu ttg kinerja dan daya upaya setiap rezim yg mmrintah 
sesudah reformasi…… krn bgmnpun rezim yg terpilih khan hasil dari pilihan 
rakyat terbanyak…..… barulah kalau terbukti satu rezim itu kinerjanya  dodol ya 
gak lanjut dukung lah…… dan berharap segera musim pemilu berikutnya tiba….. 
agar ada harapan baru  gitu……… 
Saya sih tak tahu apa2 ttg kebijakan energi (jg banyak hal  lainnya)…… tapi 
kalo tak salah apa yg disebut namanya sbg  Kebijakan Energi Nasional  kata 
menteri Purnomo baru akan dirampungkan draftnya oleh Dewan Energi Nasional pada 
Okt 2009……utk selanjutnya disodorkan kpd presiden terpilih dan diharapkan pada 
2010 tlh dpt diimplementaskan……
Berarti itu tandanya  (1) mereka masih sedang terus bekerja…. (2) perkara yg 
ditangani tentu tidaklah mudah dan sederhana…….
Kemudian UUMigas 2001 yg ditdtangani dan diundangkan oleh Presiden RI pd 2001 
dan tentunya sblmnya digodog dulu oleh DPR dimasa itu  kabarnya  dari total 66 
pasalnya sebanyak 3 pasal  ditolak oleh Mahkamah Konstitusi……. 
Saya jg tak tahu…. Apakah menurut pak Nuzul  kebijakan ekspor migas itu pd 
dasarnya kontra dgn UUD45 atau nggak…… ini perlu diberikan penjelasan/ 
pencerahan dulu oleh pak Nuzul dimilis ini….  Jd yg awam sekali biarjadi  rada2 
paham dan sayapun biar paham jalan pikiran bapak…… Sebab selain banyak negara 
lain penghasil besar migas jg pd ngekspor…. Dan negara yg  kurang beruntung tak 
memiliki SDA semacam  migas itu sbg sesama manusia mereka khan ingin juga 
ngimpor?.......
Kemudian dari  bunyi UUD45 pasal 33 itu… yg namanya rakyat khan bukan hanya yg 
hari ini masih pd hidup saja….. tapi adlh juga beratus2 generasi kita berikut 
nanti yg kini belum lahir?.... dan kalau ekspor sebagian  migas kita itu 
dipakai utk  membangun infrastruktur utk kehidupan bangsa yg lbh baik dimasa 
depan … lalu apakah itu namanya menyalahi atau memelintir UUD1945 juga?.......
Kemudian ttg sikap nasional kita  ttg migas dan batubara kita dimana cadangan 
minyak bumi kita ini sebenarnya hanyalah  1% dunia saja… gas bumi hanya 
1.4-1.7% dunia saja (Rusia 30%)… dan  batubara hanya 3% dunia (kita masih punya 
cadangan coal bed methane lbh besar dari batubara)…… kebijakan apakah yg 
terbaik menurut pak Nuzul dikaitkan dgn UUD 1945 kita?....... apakah sebanyak2 
migas dan sumber energi kita itu sebaiknya samasekali jangan diekspor  dan agar 
 disayang2 saja utk diberikan murah2/ gratis saja kepada penduduk indonesia  yg 
hari  ini sedang pada  hidup… lalu nanti kebiasaan itu nanti kita wariskan 
kepada generasi berikut  demikian  dst?...... msh banyak lagi pertanyaan dan 
keinginan diskusi  menyangkut seluk beluk dan pasang surut serta redup cerah 
dunia bisnis batubara dan gas…. Tapi  mohon pencerahannya dulu utk yg ada dulu 
ini pak……
Salam,
 
Monday, June 22, 2009 5:33 PM
From: "Nuzul Achjar" [email protected]
To: [email protected]
Re: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan.
 
I couldn't aggree more pak Rofik. 
Intinya memang kita harus kembali kepada konstitusi, bukan substansi konstitusi 
yang diplintir. Kebijakan energi kita sekarang ini adalah hasil pelintiran 
amandemen UUD 1945. Apa nggak sedih pak melihat Tarakan kekurangan gas untuk 
listrik,  padahal Tarakan sendiri mampu memproduksi minimal 5 MMCF gas per 
hari.  Batam baru-baru ini pernah black out karena kekurangan gas untuk 
listrik. Padahal 20 mil di utara Batam, pancaran lampu itu digerakkan 
pembangkit dari oleh gas dari Anambas pak. Yang paling memalukan, PLN terpaksa 
harus impor batubara untuk pembangkit listrik.  Bukankah ini semua hasil dari 
liberalisasi energi, bukankah ini kata lain dari hasil pendekatan neolib, 
berapapun kadarnya.  Tak satupun capres yang berani mengatakan untuk merombak 
seluruh kebijakan energi di negeri ini.
Salam hormat untuk semua sahabat
Nuzul Achjar
 
 
 


      

Kirim email ke