Pak Djarot ysh, sebenarnya 2 minggu ini saya lebih banyak di rumah sakit, berhubung anak-anak silih-berganti dirawat. Sambil menunggu, saya membaca-baca buku yang sebenarnya sudah lama saya beli. Terkait dengan diskusi kita, judul buku: "Kota-kota Prakolonial Indonesia (pertumbuhan dan keruntuhan)", karya Supratikno Rahardjo, seorang arkeolog. Penerbit buku: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, cetakan pertama 2007. Sebenarnya buku ini adalah tesis penulis tahun 1991, dan telah diperbaiki sedemikian rupa hingga saat diterbitkan. Referensi yang digunakan lebih 180-an buku, literatur klasik maupun baru, termasuk Lombard <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1054> , Rutz <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/892> , dll; saya kira sangat kaya. Membaca buku ini kita bisa terhenyak dengan berbagai pendekatan sosial-budaya dalam pembangunan kota, di luar dimensi yang kita ketahui selama ini. Dengan memohon sepuluh jari saya mengharapkan buku ini dapat menjadi 'referensi utama' bagi pembelajaran penataan ruang untuk siapapun. Bila boleh diajarkan pada "Pengantar Perencanaan".
Saya baru membaca sampai halaman 45 dari 158, diperkenalkan 3 model kajian: sinkronik, diakronik, dan tinjauan. Dalam kajian sinkronik diambil kajian Schrieke yang memuat hipotesis sebab-sebab runtuhnya kerajaan Mataram Kuno dan perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Juga kajian Miksic tentang tumbuhnya kebudayaan Tinggi di Sumatera Selatan, serta kajian Ongkodharma tentang faktor-faktor penyebab pertumbuhan dan keruntuhan kota Banten Lama. Satu highlight dari kajian Schrieke disebutkan: "The final conclusion, then, is that central Javanese royal culture was destroyed by its own temples". Dalam kajian diakronik dikumpulkan berbagai kajian kota dalam rentang yang lebih lama (evolusi), seperti misalnya kajian Wertheim menyebutkan 4 tahap: 1 The Old Indonesian Town, 2 The Indische Town, 3 The Colonial Town, dan 4 The Modern Town. Mumford mengingatkan tahap-tahap pertumbuhan kota yaitu: eopolis-polis-metropolis-megalopolis-tyranopolis-nekropolis. Nas menyebutkan ada 3 faktor penyebab pertumbuhan negara-kota: 1 perdagangan regional dan internasional, 2 kontrol terhadap tenaga kerja dan hak sebagian hasil bumi, dan 3 legitimasi kekuasaan keraton. Dan sampai juga pada klasifikasi Rutz <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/984> terhadap 4 priode: 1 priode Hindu (s/d 1400), 2 priode Islam dan awal kolonialisasi (1400-1700), 3 priode kolonial (1700-1900), dan 4 priode industrialisasi modern (> 1900). PJM Nas menyebutkan, kota-kota kuno Indonesia pada dasarnya merupakan titik pusat dan fokus pada negara, karena itu disebut 'focal urbanism'; bandingkan dengan kota-kota Eropa pada era yang sama yang cenderung untuk memisahkan diri dari negara atau mandiri, sehingga disebut 'local urbanism'. Berhubung saya baru membaca sampai disitu, kelak disambung lagi. Mudah-mudahan Pak Wawo yang sudah bangun dari mimpi bulan madunya berkenan untuk berbagi-bagi <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1924> juga. Dan kalau komputernya Pak Risman sudah selesai diservis, kelihatannya mau menyapa Pak Suhadi. Sementara demikian dulu. Salam. -ekadj --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak BSP, saya menangkap ajakan panjenengan untuk serius itu semacam menuju ke suati situasi planning yang kritis. Mohon maaf jika ungkapan ini terkesan menilai bahwa planning yang saya kenal dalam milis ini seolah-olah tidak kritis. Bukan maksud saya menghakimi, melainkan membuat kategori semata untuk melangkah ke diskusi lebih mendalam. > > Kita bisa belajar dari dunia surat kabar. Sebuah artikel yang berhasil di muat sudah melalui proses bermacam-macam dan melibatkan pencermatan banyak orang. Para ilmuwan sosial selalu melihat bahwa artikel tersebut sudah melalui proses kajian oleh beberapa pihak yang diduga memiliki ideologi tertentu di benaknya ketika mengakaji artikel itu. Artinya, artikel yang lolos terbit sudah melalui proses pertarungan ideologi di dalam kantor penerbit, khususnya meja redaksi. Artinya, proses dan aktor di balik suatu plan menentukan karakternya. > > Saya kira proses melahirkan suatu rencana tata ruang juga melalui proses semacam itu. Dengan demikian ada kesan bahwa di balik suatu rencana tata keruangan ada "proses politik" yang unik dan menentukan karakternya. Kasus pemilu yang diduga ada keterlibatan pihak asing melalui kucuran dana saya kira juga menjadi contoh yang sama. Redaksi yang menerima telpon dari petinggi negara untuk tidak memuat artikel dengan tema tertentu juga sami mawon, yang menunjukkan bahwa ada intervensi pihak-pihak tertentu dalam setiap rencana. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnusantara.wordpress.com > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Thu, 7/30/09, bspr...@... bspr...@... wrote: > > From: bspr...@... bspr...@... > Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat > To: [email protected] > Date: Thursday, July 30, 2009, 3:27 PM > > > > > > > > > > > > > Pak Suhadi ysh, > Waktu Solo dibangun katanya karena Kartasura sudah tidak membawa barokah ... hal ini disebabkan karena ada pertumpahan darah akibat geger Pacinan. Waktu itu sebenarnya wangsit yang diminat adalah berada disebelah timur gunung, maka pada waktu itu di solo dibuatlah sebuah gunungan dibagian barat kraton sekarang. > Pada waktu HB I mau mbangun Yogyakarta dia pertama memikirkan bahwa Ambar Ketawang merupakan sebuah lokasi yang bagus. Ternyata akhirnya yang dipilih adalah di lokasi alas yang dipenuhi oleh pohon Bering. Nama ini kemudian diberikan pada nama pasar yaitu Bering Harjo. > Waktu Dayeh Pakuan Pajajran dibangun, merka juga menggunakan pendekatan dan membagi kota dalam 3 blok Kutaraja, Kutadalem dan Kraton. Semua mengarah ke timur-barat. > Saya hanya ingin memperlihatkan bahwa pemahaman ruang dari para arsiteknya masa itu ternyata cukup bagus kala tidak dikatakan excelent dalam melakukan planning. Bahkan seorang Doktor dari Gajah Mada bernama Bondan Hermani Slamet membuat sbeuah thesis doktor tentang tata ruang Majapahit. Semua itu ternyata bersumber tentang pemahaman keruang dalam bentuk yang holistik. Holistik yang se listik listiknya. Karena disana dipadu antara aspek fisik dan meta fisik antara sosial dan politik.... karena mereka takut kalau salah akan berakibat pada kelanjutan kehidupan kerajaannya. Ini berbeda dengan sekarang ... sebuah perencanaan tata ruang yang salah tidak akan langsung berakibat pada hilangnya kota itu. > Nah mungkin kita perlu lebih memikir lagi ... bisakah kita berpikir seperti jaman dulu yang LEBIH SERIOUS memikirkan penataan ruang karena alasan hidup mati dinasti. > Salam > bsp >

