Saya kira dugaan anda dan saya sama, kalau si Geert itu dulu pernah
dirampok sama si Maroko. Hanya bedanya dia nggak bisa nyerocos pake
Bahasa Indonesia.
--- In [email protected], "Harya Setyaka" <harya.sety...@...>
wrote:
>
>
> Waah.. Kalao dari testimoni ini, Geert tidak 100% omong kosong yah..
Atauu...
> -K-
>
>
>
>
> Pedal Powered BikeBerry
>
>
> -----Original Message-----
> From: "ffekadj" 4ek...@...
> Date: Sat, 07 Nov 2009 02:59:49
> To: [email protected]
> Subject: [referensi] Re: Fwd: Re.: Geert Wilders - Americas the last
man standing
>
>
> Mbak Franciska dan Pak Wawo, saya sebenarnya punya dua kenangan dengan
> orang Maroko ini. Pertama, waktu menemani Pak Hendropranoto shopping
di
> China Boot di samping Euromast itu. Waktu itu Pak Hendro baru
> mendapatkan apartemen yang cukup eksklusif di seberang taman Het Park
> (Euromast), dan saya diajak untuk mencari lokasi apartemennya itu.
> Setelah ketemu, saya menggoda Pak Hendro agar mencari 'teman' untuk
> mengisi apartemen dengan 3-4 kamar itu. Kami pun kemudian ke Boot
untuk
> shopping kebutuhan sehari-hari beliau. Sepulang dari Boot, kami
> melintasi Het Park sambil membawa belanjaan yang banyak. Pak Hendro
> kemudian minta istirahat dulu untuk duduk-duduk di taman yang sepi.
Tak
> berapa lama kemudian tiba-tiba datang seorang pemuda Maroko yang
tinggi
> besar sangar naik sepeda motor menghampiri kami. Di atas sadel
motornya
> dia kemudian teriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah belanjaan
> kami. Sebenarnya dari gesture-nya dia minta agar kami menyerahkan
barang
> belanjaan kepadanya. Saya melihat Pak Hendro yang ngerti Dutch
sprechen
> terlihat sedikit gentar. Saya kemudian bangkit dan kemudian berbicara
> keras: "... saya tidak ngerti kamu ngomong apa, ..." , mengimbangi
nada
> bicaranya. Si Maroko kemudian terdiam sebentar, lalu menyadari
handicap
> of language, kemudian berusaha berbicara terpatah-patah dengan bahasa
> Inggris. Kemudian saya jawab lagi dengan bahasa Indonesia ala
kadarnya,
> sepertinya menimbulkan enigma. Kelihatannya dia masih bertahan dan
mulai
> menunjukkan gelagat kurang baik. Saya kemudian mengambil sebungkus
> kerupuk udang dari barang belanjaan dan kemudian menyerahkan
kepadanya.
> Si Maroko mengambil kerupuk itu, kemudian 'away' dari tempat itu.
> Sehabis itu kejadian ini kami bahas sambil ketawa-tawa sampai ke
> apartemennya Pak Hendro.
>
> Kedua, di lantai atas apartemen saya dan Holi sebenarnya tinggal
> keluarga Maroko, yang istrinya cantik tapi suaminya selalu sangar dan
> kurang bersahabat, serta beberapa anak. Setelah sekian lama, pernah
satu
> malam saya terbangun dari tidur gara-gara mendengar pertengkaran di
> lantai atas. Sepertinya si suami baru pulang larut malam, dan si istri
> tidak terima dan menangis. Cukup seru dan cukup lama, malah ada
> banting-banting pintu. Terakhir saya kesal juga karena tidak bisa
> tidur-tidur. Lalu saya kumpulkan tenaga dalam-dalam kemudian berteriak
> "f*ck y*u'. Tiba-tiba suasana menjadi hening, walau kemudian ada suara
> bisik-bisik, namun selanjutnya menjadi tenang. Sejak itu malam-malam
> terasa lebih senyap. Rasanya saya sudah berperan dalam mendamaikan
suatu
> household di Rotterdam. Salam.
>
> -ekadj