--- In [email protected], Harya Setyaka <harya.sety...@...> wrote: > > Terima kasih atas koreksinya.. memang bukan 'membentak', tapi > 'berteriak-teriak'. > > >> Maroko yang tinggi > besar sangar naik sepeda motor menghampiri kami. Di atas sadel motornya > dia kemudian teriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah belanjaan > > > Secara tidak sadar (atau mungkin sadar); kedua pemuda tsb anda beri satu > nama; "Si Maroko".. > bukan si A dan si B.. > > > Emic adalah bahasa ilmu Antropologi budaya..
istilah ini relatif baru ditemukan tahun 1980an, untuk etnografi > dan budaya pun dibangun oleh memori kolektif .. bagaimana dengan memori > kolektif saudara kita kelahiran Papua yang ditindas aparat berlogo Garuda? > pernah lama di papua, dan melewati satu siklus waktu? > > Keberatan saya terhadap kutipan Olwig; adalah dalam mengasumsikan asal > muasal bumi,. > Nah, menarik kan; mengapa migrasi Karibia ke Inggris, Korea ke Pantai Barat > Amerika, tidak pernah menjadi masalah sebagaimana migrasi Maroko ke Eropa? Olwig bercerita tentang suku Nevis > > Mengenai deterritorialized world; secara semangat sih saya setuju saja.. > karena, bagi saya, detteritorialized adalah sub-definisi dari globalisasi. > Obama adalah produk Globalisasi gelombang ke-3.. > Negara Amerika, Australia, Canada, Amerika Selatan juga produk Globalisasi > gelombang sebelumnya. > maksudnya bukan itu, dia keturunan afro, lalu berayah dan pernah tinggal di Indonesia, sekarang di Amerika, dia pakai kebudayaan apa? disini saja hipotesis geert sudah gagal. > > Saya sekarang baru sadar; kalau saya mendekati ini dari sudut pandang hukum, > dan bukan dari pisau antropologi budaya seperti anda, dimana si Geert diakui > sebagai manusia karena secara hukum dia diterima sebagai manusia. > Kesaksian dia di muka hukum dianggap sah. Hak politik dia juga sebagai > manusia diakui.. beda dengan si Lassie. > > Mengenai 'cranial bone'.. wah.. semoga anak-cucu kita lahir dengan fisik > sempurna deh.. amit-2 kalau karena ada sedikit cacat fisik lantas derajatnya > diturunkan secara kategoris oleh otoritas-definisi ilmu. > Si Geert lahir tidak bisa memilih apakah dia akan lahir dengan fisik > sempurna atau tidak. > Saya kira, kitapun tidak akan senang kalau kita dinilai secara fisik. > Bukannya saya setuju dengan ucapan Geert; tapi saya lebih tidak setuju kalau > kita menilai seseorang dari kelengkapan/kesempurmaan fisik; itu lebih parah > dari SARA., karena saat lahir kita tidak bisa memilih "badan/tubuh manusia > seperti apa yg akan kita pinjam untuk hidup".. > tolong dibaca lagi premisnya. pandangannya itu menunjukkan bukan orang berbudaya. konsep budaya baru muncul pada kalangan primata sejak 2 juta tahun yang lalu, karena secara biologis ditunjukkan oleh broca area, atau mulai ada pemisahan otak depan dan otak belakang. jadi kalau ada orang yang tidak berbudaya, dan ditunjang dengan ciri-ciri fenotip, bisa diperkirakan level primatanya. jadi bukan genotip. > > > Terima kasih atas sarannya, sangat bermanfaat. Saya terima dengan ucapan > syukur. > > > Salam, > -K- > > > > > > 2009/11/9 ffekadj 4ek...@... > > > > > > > > > > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, Harya > > Setyaka harya.setyaka@ > > wrote: > > > > > > Mohon ralat sebagai catatan; saya tidak punya dugaan apa-2 mengenai si > > > Geert. > > > > > Salah! Si Geert ini sudah dikenal reputasinya sejak 2-3 tahun yang lalu. > > > > > > > Yang bagi saya 'shocking' adalah; ternyata dalam thread ini ada > > > 'generalisasi' terhadap dua individu yang berbeda; satu seorang pemuda > > yg > > > ber-sepeda-motor membentak Pak Hendro di taman dan satu lagi seorang > > Suami > > > yg tinggal di apartemen atas di Rotterdam-- sebagai satu entitas: 'Si > > > > Salah! Tidak ada tulisan tentang 'membentak'. > > > > > > > Maroko' ... tanpa sedikitpun kita ragukan bahwa perilaku kedua > > individu > > > lepas tersebut adalah dilatar-belakangi hal lain yang non-genetik, > > > non-kultural dan non-origin. > > > > Salah! Itu kisah tentang 'consociates', tidak bisa ditarik generalisasi. > > > > > > > Begitupula si Geert, yang lantas disebut sebagai jenis primata > > atoleran, > > > dalam men-generalisir para imigran Muslim di Eropa. > > > > > Betul! Perlu penghayatan 1 siklus kehidupan untuk menangkap emic's > > meaning. Geertz mengatakan, manusia yang berbudaya itu berpikir pun > > sudah publik. Tapi srigala yang selalu menyeringai adalah homo homini > > lupus. Primata berbudaya (homo habilis) baru dimulai 2,3 juta tahun yang > > lalu, ditandai dengan ceruk (niche) pada tengkorak atas. Saya lihat di > > foto si Geert ini masih memiliki 'thinner cranial bone'. Silahkan > > periksa! > > > > > > > Lantas; apakah seorang kelahiran Papua, yang keturunan ras Melanesia, > > lalu > > > sah untuk berapriori kepada 'si Jawa' karena kawannya disiksa Polisi > > > kelahiran Jawa? > > > > > Contoh perbandingan tidak pas. Belajarlah memahami emic, bukan logika, > > karena masyarakat itu membangun kategori-kategorinya sendiri. > > > > > > > >> Karen Fog Olwig: 'God created the earth for people to go and from, > > not to > > > stay in one place" > > > > > > Lalu mengapa ada 'Kepemilikan Lahan' ? Mengapa ada pagar rumah - > > bangunan? > > > Tapi memang dari 4 kata pertama dalam kutipan si Olwig pun sudah dapat > > > diketahui bahwa si Olwig ini hanya sedang ber-sastra-ria.. tidak ada > > nilai > > > ilmiahnya sama sekali. > > > > > Salah! Perlu waktu 2 tahun di Karibia untuk sampai pada kalimat itu; > > sama dengan ilmuwan mengerti konsep 'immitation' setelah 7 tahun > > memelototi Macaca. Olwiglah yang pertama kali memperkenalkan istilah > > 'deterritorialized world', dan terus berkembang menjadi konsep populer > > saat ini: 'third culture kids', terutama setelah ada fenomena Obama. > > > > > Salam, > > > -K- > > > > Saran: daripada berkomentar ringkas, sebaiknya kembangkan juga kemampuan > > ber-proposisi secara lengkap. Salam. > > > > > > > > > > -- > ================ > Harya Setyaka > > 973 Turtle Crest Drive | Irvine, CA 92603 > Phone : +1.949.769.3624 | Mobile : +1.949.748.0978 > Skype ID : harya.setyaka | BB-M PIN: 20EEEBB4 >

