Pak Nuzul ysh,
 
Terima kasih atas tambahan informasinya, utamanya ttg jurnal2 tsb. Pada 
akhirnya kalau dalam menyusun kebijakan publik pada akhirnya adalah konsensus. 
Repotnya kadang2 yg dilibatkan kurang representatif, shg jadi salah kaprah..
 
Pada rapat perdana DEKIN, Bung Fadel selaku Ketua Harian menugaskan anggota 
DEKIN yg berasal dari 4 perguruan tinggi (IPB, UNDIP, UNPAD dan UNSTRAT) utk 
merumuskan Indonesian Ocean Policy (draft naskahnya sdh ada di DEKIN) dan akan 
dipaparkan satu bulan yad. Sayang tidak ada yg mewakili aspek teknologi nya 
(ITB/ITS) dan ekonomi nya (UI/UGM) atau budaya nya (UNRI?).
 
Kita tunggu aja hasilnya.
 
Wassalam,
AAS


--- Pada Ming, 8/11/09, Nuzul Achjar <[email protected]> menulis:


Dari: Nuzul Achjar <[email protected]>
Judul: Re: Bls: [referensi] Practical planning... maritim
Kepada: [email protected]
Cc: "abdul alim salam" <[email protected]>
Tanggal: Minggu, 8 November, 2009, 12:28 AM


  




Pak Wawo, Pak AAS dan sahabat  Referensiers Ysm,
 
Diskusi yang cukup menarik tentang pengertian "maritime" dan "marine" beserta 
penafsirannya oleh Pak Wawo dan Pak AAS. Setidaknya ada 2 jurnal akademis yang 
bisa kita perhatikan tentang nuansa "maritime" dan "marine". 
 
Yang bernuansa "maritime" antara lain adalah "Maritime Policy 
Management" (Routledge Publisher).  Isinya lebih banyak tentang port 
management, regional port competition, organisasi industri perkapalan, dan yang 
berkenaan dengan armada dagang (container ship) beserta atributnya. Materi di 
journal ini banyak mengacu atau mengaitkannya dengan policy yang dikeluarkan 
oleh International Maritime Organization (IMO).
 
Journal "Marine Policy" (Publisher: Science Direct) lebih banyak membahas aspek 
sumberdaya laut,  seperti akuakultur laut (marine aquaculture) , manajemen 
penangkapan ikan (fisheries management), tentang keberdayaan masyarakat 
pesisir,  dan atribut lain yang terkait.
 
Artikel teman-teman Perikanan IPB dan DKP misalnya akan lebih banyak masuk di 
"Marine Journal", Journal ini menyebut istilah Marine Policy Maker, bukan 
Maritime policy Maker. Teman teman Perkapalan ITS misalnya akan lebih cocok dan 
banyak menulis di Maritime Policy Management.
 
Yang menarik, di Marine Journal juga banyak diisi dengan artikel tentang 
maritim, misalnya tentang "klaster industri maritime" di Kanada. Bukan hanya 
bikin kapal, klaster maritime ini juga membuat alat navigasi dan teknologi 
kendaaraan bawah laut. Juga ada artikel tentang stereo type pelaut. 
Mengapa misalnya pelaut Indonesia dan Filipina lebih disukai, dan mengapa 
pelaut dari Eropa berkurang.  
 
 Walaupun nuansa "maritime" dan "marine" berbeda, namun seringkali istilahnya 
digunakan membingungkan. Teknologi kapal seringkali disebut marine technology, 
bukan maritime technology.
 
Dari nuansa yang dapat ditangkap, pengertian dan ruang lingkup "maritine" dan 
"marine" harusnya berbeda. Yang repot adalah apakah tepat mengganti 'marine" 
dengan kelautan. Apakah kita gunakan saja istilah bahari untuk menggabungkan 
pengertian maritime dan marine.
 
Wassalam,
 
Nuzul Achjar  









      Sikap Peduli Lingkungan? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke