Rekan Djarot ysh,
Pertama maturnuwun sanget atas oleh2nya cerita tentang desa Kaenbaun NTT 
beserta aspek filosofis kemandirian pangannya …..segera itu akan saya 
forwardkan ke dept Pertanian/ IPB ..krn brkali aspek kemandirian pangan itu 
akan lbh menjadi perhatian para beliau disana …..maklum sptnya didunia ini ada 
pembagian spesialisasi …tidak setiap orang hrs ngurusi apa saja…  
Kalau soal kebijakan produktivitas pangan didesa itu sptnya lbh merupakan 
konsennya mrk .. smntr itu kalau perencanaan saya pahami lbh melihat pd 
pengembangan multisektor yg luas drpd desa … spt menyangkut sistem komunikasi/ 
transportnya spt antara penduduk Kaenbaun dgn kota kabupatennya (Kefamenanu?) 
…kota kecamatan terdekatnya, ataupun desa sekitarnya (spt Tapnati, Letnono, 
Tuntun? dsb)….. jg ttg bgmn fasilitas kesehatan penduduknya, kewiraswastaannya, 
fa. Pendidikannya, pasar/ ruko desanya, pengembangan industri kecilnya, wisata 
desa, balai latihan kerjanya, listrik desa serta brbagai fasilitas lain apa 
saja yg sekiranya dpt dikembangkan di(pusat) desa…… 
Kalau soal dugaan anda  saya telah beranjak dan melupakan desa ….pembelaan saya 
gini adimas..…omong2an ttg desa (atau kota kecamatan, kota kabupaten) itu pd 
dasarnya relatif lbh sederhana dan lbh terbatas materinya……maka kalau saya 
omongin terus2an saya khawatir selain akan banyak yg capek ...takut saya dikira 
sudah semakin parah ….selain itu saya kira omong2an ttg berbagai aspek 
perencanaan yg lain –yg msh blm banyak sempat dibahas--   sptnya masih sangat 
banyak dan luas, dan khan menyangkut dari Sabang sampai Merauke, dari Tenabang 
sampai Rawabangke ….…maka omong2an ttg desa dari saya sih ya saya kira sudah 
lumayan memadai khan ya?…..salam,
aby
 


--- On Sun, 11/22/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:


From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: [referensi] Ole-ole Kaenbaun 2009
To: [email protected]
Date: Sunday, November 22, 2009, 4:21 PM


  








Dear All,



Oleh-oleh ini untuk sahabat referensi semua, hasil dari perpaduan moda 
pengamatan arsitektural- fenomenologis dengan tekno-biologis. Secara khusus 
oleh-oleh ini ditujukan kepada Eyang ABY, yang sudah mulai beranjak (dan 
melupakan ?) tentang tema desa terpencil ke arah Indonesia, yang sebenarnya 
merupakan jalinan desa-desa atau kampung-kampung. Dari pengamatan yang kami 
lakukan beberapa hari, ada aspek-aspek yang menarik untuk diceritakan kepada 
para sahabat referensi sebagai sekedar oleh-oleh.

Kaenbaun Desa Mandiri Pangan. Menurut analisis sementara yang kami lakukan, 
desa Kaenbaun termasuk dalam kategori desa mandiri pangan dengan strategi 
ketahanan pangan yang unik. Jika setiap saat akan memasuki musim tanam para 
petani di Jawa harus membeli bibit, orang Kaenbaun tidak perlu panik sebab 
bibit selalu tersedia di setiap rumah tangga dan di rumah suku. Dalam keadaan 
sulit seperti apapun, orang Kaenbaun tidak akan pernah memakan jagung dan padi 
bibit yang mereka warisi dari nenek-moyang. Ini aturan adat yang masih 
dipatuhi. Para mama bahkan sudah mampu mendeteksi ketersediaan pangan dari 
dapur mereka, sebab dari simpanan jagung di dapur dapat diperkirakan dan 
diputuskan kapan harus makan makanan alternatif. Orang Kaenbaun termasuk 
“pemakan semua”, mulai dari pucuk daun asam hingga musang. Desa Kaenbaun kaya 
dengan makanan yang berasal dari flora dan faunanya. Perkara yang menarik 
adalah, jika kini para petani di Jawa sudah kehilangan
 kedaulatan atas pertanian dan ketahanan pangan mereka diremote-control oleh 
pihak lain, maka di Kaenbaun tidaklah demikian.  Para petani di Jawa tidak lagi 
berdaulat atas bibit, pupuk, dan terutama atas kepemilikan tanah, maka mereka 
bukan lagi menjadi petani sejati, melainkan turun menjadi buruh tani saja. 
Fenomena ini kontras dengan yang ada di Kaenbaun, sebab mereka masih menguasai 
tanah adat, bibit jagung dan padi dari nenek-moyang, juga sistem pertanian yang 
alamiah (organik) karena adat Kaenbaun mengatur demikian. Jika para petani di 
Jawa sudah kehilangan kedaulatan atas pangan karena taat mengikuti program 
modernisasi pertanian versi pemerintah yang berbasis cara pikir dan ilmu 
pengetahuana modern, maka orang Kaenbaun masih berdaulat atas pangan dan 
pertanian mereka karena taat kepada aturan nenek-moyang yang dilandasi 
pengetahuan tradisional. Jika sistem pertanian modern berbasis pada memperbesar 
input (pengetahuan, bibit, pupuk dsb) kepada
 situasi lokal, maka pertanian tradisional justru berusaha memanfaatkan secara 
efektif dan efisien semua kondisi dan situasi lokal untuk kehidupan lokal. 
Semakin besar input dari luar artinya semakin besar peluang intervensi luar 
atas kedaulatan lokal, dan artinya semakin besar pula ancaman atas kedaulatan 
pertanian dan pangan lokal. Menurut orang Kaenbaun, tidak selalu input dari 
luar cocok dengan sistem dan strategi pertanian / pangan mereka. Bahkan konon, 
bibit dari luar yang dianjurkan pemerintah justru mendatangkan hama baru dan 
pupuk pabrik hanya bermanfaat pada musim tanam pertama, seterusnya malahan 
mengeraskan dan menguruskan tanah.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com








      

Kirim email ke