Eyang ABY yang sangat baik, dan para sahabat referensi,

Terima kasih atas pencerahannya yang begitu substansial. Saya sengaja menyentil 
paduka yang saya duga sudah bosan dengan desa terpencil, dan saya raba mulai 
menanjak ke skala yang lebih luas. Tentu hal ini bukan perkara yang buruk, 
sebab banyak sekali tema-tema menarik yang dibicarakan. Saya banyak belajar 
dari milis ini dan merasa enjoy di dalamnya, meskipun seringkali nggak mudeng 
karena keterbatasan saya. Ada kalanya perbincangan mendongak ke atas, ada 
kalanya menukik ke bawah, dan ada kalanya meluas horisontal. Tentu fenomena ini 
sangat memperkaya kompetensi kita sebagai apapun, entah planner entah arsitek 
entah yang lain. Ada kalanya kita menggunakan perspektif mata cacing, ada 
kalanya dengan perspektif mata manusia, kadang juga perlu menggunakan 
perspektif mata malaikat !

Lanjutkan ya Yang !

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 11/26/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Ole-ole Kaenbaun 2009
To: [email protected]
Cc: "plbpm" <[email protected]>
Date: Thursday, November 26, 2009, 7:10 AM







 



  


    
      
      
      Rekan Djarot ysh, 
Pertama maturnuwun sanget atas oleh2nya cerita tentang desa Kaenbaun NTT 
beserta aspek filosofis kemandirian pangannya …..segera itu akan saya 
forwardkan ke dept Pertanian/ IPB ..krn brkali aspek kemandirian pangan itu 
akan lbh menjadi perhatian para beliau disana …..maklum sptnya didunia ini ada 
pembagian spesialisasi …tidak setiap orang hrs ngurusi apa saja…   
Kalau soal kebijakan produktivitas pangan didesa itu sptnya lbh merupakan 
konsennya mrk .. smntr itu kalau perencanaan saya pahami lbh melihat pd 
pengembangan multisektor yg luas drpd desa … spt menyangkut sistem komunikasi/ 
transportnya spt antara penduduk Kaenbaun dgn kota kabupatennya (Kefamenanu? ) 
…kota kecamatan terdekatnya, ataupun desa sekitarnya (spt Tapnati, Letnono, 
Tuntun? dsb)….. jg ttg bgmn fasilitas kesehatan penduduknya, kewiraswastaannya, 
fa. Pendidikannya, pasar/ ruko desanya, pengembangan industri kecilnya, wisata 
desa, balai latihan kerjanya, listrik desa serta brbagai fasilitas lain apa 
saja yg sekiranya dpt dikembangkan di(pusat) desa……  
Kalau soal dugaan anda  saya telah beranjak dan melupakan desa ….pembelaan saya 
gini adimas..…omong2an ttg desa (atau kota kecamatan, kota kabupaten) itu pd 
dasarnya relatif lbh sederhana dan lbh terbatas materinya……maka kalau saya 
omongin terus2an saya khawatir selain akan banyak yg capek ...takut saya dikira 
sudah semakin parah ….selain itu saya kira omong2an ttg berbagai aspek 
perencanaan yg lain –yg msh blm banyak sempat dibahas--   sptnya masih sangat 
banyak dan luas, dan khan menyangkut dari Sabang sampai Merauke, dari Tenabang 
sampai Rawabangke ….…maka omong2an ttg desa dari saya sih ya saya kira sudah 
lumayan memadai khan
 ya?…..salam, 
aby 
 


--- On Sun, 11/22/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Ole-ole Kaenbaun 2009
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, November 22, 2009, 4:21 PM


  






Dear All,



Oleh-oleh ini untuk sahabat referensi semua, hasil dari perpaduan moda 
pengamatan arsitektural- fenomenologis dengan tekno-biologis. Secara khusus 
oleh-oleh ini ditujukan kepada Eyang ABY, yang sudah mulai beranjak (dan 
melupakan ?) tentang tema desa terpencil ke arah Indonesia, yang sebenarnya 
merupakan jalinan desa-desa atau kampung-kampung. Dari pengamatan yang kami 
lakukan beberapa hari, ada aspek-aspek yang menarik untuk diceritakan kepada 
para sahabat referensi sebagai sekedar oleh-oleh.

Kaenbaun Desa Mandiri Pangan. Menurut analisis sementara yang kami lakukan, 
desa Kaenbaun termasuk dalam kategori desa mandiri pangan dengan strategi 
ketahanan pangan yang unik. Jika setiap saat akan memasuki musim tanam para 
petani di Jawa harus membeli bibit, orang Kaenbaun tidak perlu panik sebab 
bibit selalu tersedia di setiap rumah tangga dan di rumah suku. Dalam keadaan 
sulit seperti apapun, orang Kaenbaun tidak akan pernah memakan jagung dan padi 
bibit yang mereka warisi dari nenek-moyang. Ini aturan adat yang masih 
dipatuhi. Para mama bahkan sudah mampu mendeteksi ketersediaan pangan dari 
dapur mereka, sebab dari simpanan jagung di dapur dapat diperkirakan dan 
diputuskan kapan harus makan makanan alternatif. Orang Kaenbaun termasuk 
“pemakan semua”, mulai dari pucuk daun asam hingga musang. Desa Kaenbaun kaya 
dengan makanan yang berasal dari flora dan faunanya. Perkara yang menarik 
adalah, jika
 kini para petani di Jawa sudah kehilangan kedaulatan atas pertanian dan 
ketahanan pangan mereka diremote-control oleh pihak lain, maka di Kaenbaun 
tidaklah demikian.  Para petani di Jawa tidak lagi berdaulat atas bibit, pupuk, 
dan terutama atas kepemilikan tanah, maka mereka bukan lagi menjadi petani 
sejati, melainkan turun menjadi buruh tani saja. Fenomena ini kontras dengan 
yang ada di Kaenbaun, sebab mereka masih menguasai tanah adat, bibit jagung dan 
padi dari nenek-moyang, juga sistem pertanian yang alamiah (organik) karena 
adat Kaenbaun mengatur demikian. Jika para petani di Jawa sudah kehilangan 
kedaulatan atas pangan karena taat mengikuti program modernisasi pertanian 
versi pemerintah yang berbasis cara pikir dan ilmu pengetahuana modern, maka 
orang Kaenbaun masih berdaulat atas pangan dan pertanian mereka karena taat 
kepada aturan nenek-moyang yang dilandasi pengetahuan tradisional. Jika sistem 
pertanian modern berbasis pada
 memperbesar input (pengetahuan, bibit, pupuk dsb) kepada situasi lokal, maka 
pertanian tradisional justru berusaha memanfaatkan secara efektif dan efisien 
semua kondisi dan situasi lokal untuk kehidupan lokal. Semakin besar input dari 
luar artinya semakin besar peluang intervensi luar atas kedaulatan lokal, dan 
artinya semakin besar pula ancaman atas kedaulatan pertanian dan pangan lokal. 
Menurut orang Kaenbaun, tidak selalu input dari luar cocok dengan sistem dan 
strategi pertanian / pangan mereka. Bahkan konon, bibit dari luar yang 
dianjurkan pemerintah justru mendatangkan hama baru dan pupuk pabrik hanya 
bermanfaat pada musim tanam pertama, seterusnya malahan mengeraskan dan 
menguruskan tanah.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress.
 com



      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke