Pak Risfan, Kaenbaun secara kependudukan kayaknya statis, pertumbuhan 
penduduknya tidak banyak (10 pasangan menikah dalam setahun) dari sekitar 150 
KK. Para generasi muda kebanyakan pada merantau keluar, bahkan sejak usia SMP 
sebab di Kaenbaun hanya ada SD satu saja. Dulu ketika desa-desa sekitar belum 
ada SDm di Kaenbaun sudah ada dan pernah menjadi tenpat tujuan pendidikan bagi 
warga desa sekitar (Bitefa, Tuntun, Bokon, dll). Konon, Kaenbaun dengan gereja 
dan SD di dekatnya pernah menjadi semacam pusat misi di pedalaman. 

Sekarang, anak Kaenbaun yang lulus SD sudah harus pergi minimal ke Kefamenanu 
atau Bitefa. Alhasil, lebanyakan generasi muda yang sudah melihat kota 
cenderung memilih tinggal di kota karena hidup sebagai petani lahan kering di 
Kaenbaun memang susah dan barus bermental baja dengan ketahanan fisik yang 
prima. Ketika kunjungan kemarin, saya bisa merasakan bagaimana beratnya 
naik-turun bukit untuk berladang, tanahnya memancarkan panas (karang), sinar 
matahari sangat terik, dan udara yang berhembus juga panas (nggak seperti di 
Jawa. Rasanya kita berada di dalam mesin pemanas roti ! Belum lagi perjalanan 
ke ladang-ladang warisan selalu naik-turun bukit. 

Selain itu, ada aturan bahwa anak laki-laki pertama harus tinggal di desa 
karena tugas adat yaitu menunggui "batu suci" di dalam rumah adat suku maupun 
keluarga. Hal ini tampaknya masih ditaati karena ikatan batin orang Kaenbaun 
dengan nenek-moyang mereka sangat dekat. Nenek moyang memang tinggal di dunia 
arwah, tetapi setiap kali diundang hadir dalam upacara adat, sembelih hewan dan 
makan bersama di depan batu suci rumah adat.

Dilihat dari SDA, tampaknya sangat mencukupi, sebab tanah yang mereka kelola 
menurut data kelurahan sekitar 1000 ha. Mereka melakukan perladangan secara 
berpindah dan dipimpin oleh suku Taus yang tugas abadinya adalah mengelola 
kesejahteraan melalui pertanian lahan kering. Permukiman mereka terletak di 
tengah tanah adat maka dari sisi perilaku spasial hal ini benar sebab 
aksesibiltas ke lahan-lahan berpindah menjadi relatif sama karena dari tengah 
ke pinggiran dengan jarak yang sama. Untuk memudahkan manajemen perpindahan 
ini, mereka menamai kebun-kebun di dekeliling permukiman dengan nama-nama lokal 
(banyak namanya).

Orang Kaenbaun memiliki konsep kuan - lele - nasi (perkampungan - kebun - 
hutan) dengan kuan terletak di tengah. Lele atau kebun dikelola secara 
berpindah-pindah, di kebun ditanami tanaman pangan khususnya jagung (tanaman 
suci), padi (putih, hitam dan kuning), juga umbi-umbian. Makanan ini dikonsumsi 
sebagai makanan pokok dalam setahun. Jika makanan pokok mendekati habis, mereka 
tidak makan bibit, melainkan makan makanan alternatif (daun-daunan, umbi-umbian 
dsb) yang ditanam di kebun-kebun khusus (namanya Poan). Kebun ini terletak di 
dekat kuan / perkampungan dan menjadi tempat cadangan makanan. Jadi konsep tata 
ruangnya adalah kuan-lele-nasi dan poan.

Pola keruangannya bersifat konsentris dan hanya ada satu pintu masuk ke desa 
Kaenbaun yang menembus dari gerbang desa akhirnya berhenti di halaman gereja 
tua. Orang Kaenbaun sejak tahun 1997 telah menikmati listrik karena mendukung 
100% partai tertentu dalam pemilu. Desa-desa lain belum menikmati listrik, 
meskipun menggunakan disel, mereka sudah menikmati siaran televisi. 

Dari 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 11/26/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:

From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Ole-ole Kaenbaun 2009
To: [email protected]
Date: Thursday, November 26, 2009, 9:21 AM







 



  


    
      
      
      Pak Djarot dan rekans ysh,

Maaf saya lontarkan pertanyaan kuantitatif, berapa persen angka pertumbuhan 
penduduknya? Cukupkan SDA menghidupi mereka jangka panjang? Adakah mereka 
nonton TV?

Salam,
Risfan Munir






From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Sent: Thursday, November 26, 2009 7:29 AM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Ole-ole Kaenbaun 2009

  Eyang ABY yang sangat baik, dan para sahabat referensi,

Terima kasih atas pencerahannya yang begitu substansial. Saya sengaja menyentil 
paduka yang saya duga sudah bosan dengan desa terpencil, dan saya raba mulai 
menanjak ke skala yang lebih luas. Tentu hal ini bukan perkara yang buruk, 
sebab banyak sekali tema-tema menarik yang dibicarakan. Saya banyak belajar 
dari milis ini dan merasa enjoy di dalamnya, meskipun seringkali nggak mudeng 
karena keterbatasan saya. Ada kalanya perbincangan mendongak ke atas, ada 
kalanya menukik ke bawah, dan ada kalanya meluas horisontal. Tentu fenomena ini 
sangat memperkaya kompetensi kita sebagai apapun, entah planner entah arsitek 
entah yang lain. Ada kalanya kita menggunakan perspektif mata cacing, ada 
kalanya dengan perspektif mata manusia, kadang juga perlu menggunakan 
perspektif mata malaikat !

Lanjutkan ya Yang !

Salam,

 Djarot Purbadi

 http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
 http://forumriset. wordpress com [Blog Resmi APRF]
 http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Thu, 11/26/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:

From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Ole-ole Kaenbaun 2009
To: refere...@yahoogrou ps.com
Cc: "plbpm" <pl...@yahoogroups. com>
Date: Thursday, November 26, 2009, 7:10 AM

  Rekan Djarot ysh,Pertama maturnuwun sanget atas oleh2nya cerita tentang desa 
Kaenbaun NTT beserta aspek filosofis kemandirian pangannya …..segera itu akan 
saya forwardkan ke dept Pertanian/ IPB ..krn brkali aspek kemandirian pangan 
itu akan lbh menjadi perhatian para beliau disana …..maklum sptnya didunia ini 
ada pembagian spesialisasi …tidak setiap orang hrs ngurusi apa saja…  Kalau 
soal kebijakan produktivitas pangan didesa itu sptnya lbh merupakan konsennya 
mrk .. smntr itu kalau perencanaan saya pahami lbh melihat pd pengembangan 
multisektor yg luas drpd desa … spt menyangkut sistem komunikasi/ transportnya 
spt antara penduduk Kaenbaun dgn kota kabupatennya (Kefamenanu? ) …kota 
kecamatan terdekatnya, ataupun desa sekitarnya (spt Tapnati, Letnono, Tuntun? 
dsb)….. jg ttg bgmn fasilitas kesehatan penduduknya, kewiraswastaannya, fa. 
Pendidikannya, pasar/ ruko desanya, pengembangan industri kecilnya, wisata 
desa, balai latihan kerjanya,
 listrik desa serta brbagai fasilitas lain apa saja yg sekiranya dpt 
dikembangkan di(pusat) desa…… Kalau soal dugaan anda  saya telah beranjak dan 
melupakan desa ….pembelaan saya gini adimas..…omong2an ttg desa (atau kota 
kecamatan, kota kabupaten) itu pd dasarnya relatif lbh sederhana dan lbh 
terbatas materinya……maka kalau saya omongin terus2an saya khawatir selain akan 
banyak yg capek ...takut saya dikira sudah semakin parah ….selain itu saya kira 
omong2an ttg berbagai aspek perencanaan yg lain –yg msh blm banyak sempat 
dibahas--   sptnya masih sangat banyak dan luas, dan khan menyangkut dari 
Sabang sampai Merauke, dari Tenabang sampai Rawabangke ….…maka omong2an ttg 
desa dari saya sih ya saya kira sudah lumayan memadai khan ya?…..salam,aby 

--- On Sun, 11/22/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Ole-ole Kaenbaun 2009
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, November 22, 2009, 4:21 PM

  Dear All,

Oleh-oleh ini untuk sahabat referensi semua, hasil dari perpaduan moda 
pengamatan arsitektural- fenomenologis dengan tekno-biologis. Secara khusus 
oleh-oleh ini ditujukan kepada Eyang ABY, yang sudah mulai beranjak (dan 
melupakan ?) tentang tema desa terpencil ke arah Indonesia, yang sebenarnya 
merupakan jalinan desa-desa atau kampung-kampung. Dari pengamatan yang kami 
lakukan beberapa hari, ada aspek-aspek yang menarik untuk diceritakan kepada 
para sahabat referensi sebagai sekedar oleh-oleh.Kaenbaun Desa Mandiri Pangan. 
Menurut analisis sementara yang kami lakukan, desa Kaenbaun termasuk dalam 
kategori desa mandiri pangan dengan strategi ketahanan pangan yang unik. Jika 
setiap saat akan memasuki musim tanam para petani di Jawa harus membeli bibit, 
orang Kaenbaun tidak perlu panik sebab bibit selalu tersedia di setiap rumah 
tangga dan di rumah suku. Dalam keadaan sulit seperti apapun, orang Kaenbaun 
tidak akan pernah memakan jagung dan padi bibit yang
 mereka warisi dari nenek-moyang. Ini aturan adat yang masih dipatuhi. Para 
mama bahkan sudah mampu mendeteksi ketersediaan pangan dari dapur mereka, sebab 
dari simpanan jagung di dapur dapat diperkirakan dan diputuskan kapan harus 
makan makanan alternatif. Orang Kaenbaun termasuk “pemakan semua”, mulai dari 
pucuk daun asam hingga musang. Desa Kaenbaun kaya dengan makanan yang berasal 
dari flora dan faunanya. Perkara yang menarik adalah, jika kini para petani di 
Jawa sudah kehilangan kedaulatan atas pertanian dan ketahanan pangan mereka 
diremote-control oleh pihak lain, maka di Kaenbaun tidaklah demikian.  Para 
petani di Jawa tidak lagi berdaulat atas bibit, pupuk, dan terutama atas 
kepemilikan tanah, maka mereka bukan lagi menjadi petani sejati, melainkan 
turun menjadi buruh tani saja. Fenomena ini kontras dengan yang ada di 
Kaenbaun, sebab mereka masih menguasai tanah adat, bibit jagung dan padi dari 
nenek-moyang, juga sistem pertanian yang
 alamiah (organik) karena adat Kaenbaun mengatur demikian. Jika para petani di 
Jawa sudah kehilangan kedaulatan atas pangan karena taat mengikuti program 
modernisasi pertanian versi pemerintah yang berbasis cara pikir dan ilmu 
pengetahuana modern, maka orang Kaenbaun masih berdaulat atas pangan dan 
pertanian mereka karena taat kepada aturan nenek-moyang yang dilandasi 
pengetahuan tradisional. Jika sistem pertanian modern berbasis pada memperbesar 
input (pengetahuan, bibit, pupuk dsb) kepada situasi lokal, maka pertanian 
tradisional justru berusaha memanfaatkan secara efektif dan efisien semua 
kondisi dan situasi lokal untuk kehidupan lokal. Semakin besar input dari luar 
artinya semakin besar peluang intervensi luar atas kedaulatan lokal, dan 
artinya semakin besar pula ancaman atas kedaulatan pertanian dan pangan lokal. 
Menurut orang Kaenbaun, tidak selalu input dari luar cocok dengan sistem dan 
strategi pertanian / pangan mereka. Bahkan konon, bibit dari
 luar yang dianjurkan pemerintah justru mendatangkan hama baru dan pupuk pabrik 
hanya bermanfaat pada musim tanam pertama, seterusnya malahan mengeraskan dan 
menguruskan tanah.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com




    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke