Pak Onnos, Fajar, Ekadj dan rekans ysh, Nyimpang sedikit, soal ajaran Pak Onnos ttg "wirogo, wiroso, wiromo" yang akhirnya menuju kebijakan "menghargai dan berterima kasih" kepada lingkungan, saya nulis yg senada dalam buku saya "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati" (Gramedia Pustaka Utama, Nov '09). Semoga manfaat.
Ada testimoni 3 Prof (Pak Wawo, Pak ATA, Pak Kusmayanto K) yang menarik. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Sent: Monday, November 23, 2009 11:48 PM To: [email protected] <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air Mas Fajar dan rekan-2 ysh, Terima kasih atas tanggapannya mengenai ceritera saya tentang peran 'sektor informal' (PK-5) sebagai pejuang 'proyek nasionalisme'. Namun, ada catatan perjalanan saya lain dari 'sektor formal' yang mungkin menarik untuk pemikiran kita bersama dalam meningkatkan 'cinta tanah air'. Ceriteranya sekitar tahun 1996 - 2005 saya beberapa kali ke Kendari, dapat kenalan orang Jawa (Sarjana) yang jadi PNS melalui program Depdagri ditempatkan di daerah, dia sudah sekitar 5 tahun didaerah tetapi pingin pindah kerja ke Jakarta atau paling tidak ke Jawa, dia tidak kerasan di daerah karena merasa bukan orang asli sehingga agak tersisih dalam pekerjaan. Saya sarankan sebaiknya tetap di daerah saja cari pengalaman dulu, karena di Jawa lebih banyak saingan. Saya juga dapat kenalan orang swasta (tionghua) yang buka usaha travel-biro, dia ternyata sudah lebih 10 tahun di Kendari dan juga usaha dibidang agro-bisnis yaitu jualan biji kacang jambu mete, dia punya kebun sekitar 5 Ha diluar kota yang awalnya dia beli sedikit-sedikit dari penduduk desa. Sekarang penduduk ex-pemilik tanah kerja dengan pola bagi hasil sebagai penjaga kebunnya. Sepertinya kedua orang kenalan saya itu cukup berpendidikan, tetapi 'etos' kerjanya berbeda. Mungkinkah dalam era-decentralisasi dengan otonomi daerah yang semakin besar ini, teman kita yang PNS itu apa dapat terus bertahan didaerah ? Kalau kenalan yang orang swasta sepertinya dapat menyesuaikan diri dengan keadaan, apa hanya karena dia ada modal ? Semoga mereka semua saat ini tetap sehat dan berhasil dalam hidupnya didaerah. Wassalam, Onnos To: [email protected] From: [email protected] Date: Sun, 22 Nov 2009 11:43:11 -0800 Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air Pak Sugiono dan sahabat referensiers ysh, Saya sepakat dengan Pak Onno Sugiono dalam opini di bawah.... Dalam tataran tertentu, dan apabila diberdayakan secara baik, para Mbok Jamu dan suaminya yang bekerja di sektor informal dapat meningkatkan integrasi sosial di tempat dimana mereka beraktivitas dan berkarya... Bukan bermaksud untuk merendahkan mereka, tapi para Mbok Jamu dan suaminya aja bisa menjadi agen-agen penguat ikatan nasinalisme di negara kita... Mohon Pak Sugiono dan sahabat-sahabat referensiers lain bayangkan apabila setiap bagian wilayah kita di Indonesia memiliki diferensiasi aktivitas utama yang berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, dan setiap wilayah yang memiliki aktivitas utama yang berbeda tersebut juga memiliki fasilitas pendidikan tinggi dan fasilitas penunjangnya seperti laboratorium, lembaga penelitian, perpustakaan, bengkel-bengkel kerja, industri-industri kreatif dan sebagainya guna menunjang perkembangan dan sustainabilitas aktivitas utama tersebut, dimana universitas dan fasilitas-fasilitas penunjang tersebut merupakan perguruan tinggi dan fasilitas-fasilitas penunjang terbaik yang ada di seluruh negeri untuk bidang tersebut, sehingga setiap bagian wilayah Indonesia punya aktivitas-aktivitas utama terbaik untuk bidang-bidang tertentunya masing-masing beserta fasilitas pengembangan aktivitasnya yang sesuai, maka arus migrasi (internal) yang terjadi tidak hanya dilakukan oleh para Mbok Jamu dan suaminya masing-masing... Besar kemungkinan bahwa arus migrasi internal yang terjadi juga akan dikontribusi oleh mereka yang lebih berkualitas daripada hanya sekedar mereka yang hanya mampu membangun industri-industri jamu rumahan seperti itu (sekali lagi mohon maaf, bukan bermaksud untuk merendahkan pada Mbok Jamu dan suaminya ini..). Besar kemungkinan bahwa arus migrasi internal di negara kita juga akan dikontribusi oleh mereka yang bercita-cita untuk bersekolah dan berkarya di "bidang tertentu" tadi, sehingga kebesaran dan kemakmuran suatu wilayah tadi tidak hanya akan dikontribusi oleh para putra daerahnya saja (atau bahkan tidak hanya dikontribusi oleh para pendatang saja), namun juga oleh suatu kerja bersama-sama dari para putra-putri daerah setempat dan putra-putri daerah lainnya dalam membangun aktivitas utama di daerah tadi.. Bila bisa dilakukan suatu upaya seperti ini, saya berkeyakinan bahwa penguatan ikatan-ikatan nasionalisme bisa diperluas dan diperkuat.. Tapi bisa jadi, paradigma pembangunan yang dilakukan di negara kita, terutama pembangunan-pembangunan yang memanfaatkan sumber-sumber alam sebagai basis dasar untuk aktivitasnya, tidak lagi dilakukan secara eksploitatif, melainkan harus dilakukan secara developmental... Pada saat ini, bisa dikatakan bahwa aktivitas-aktivitas utama industri dan universitas-universitas serta lembaga pendidikan tinggi terbaik lainnya di Indonesia cenderung hanya berlokasi di Pulau Jawa. Akibatnya, secara internal terjadi "brain drain" dari luar Jawa ke Pulau Jawa. Walaupun sejak awal tahun 1990an telah dilakukan beberapa upaya untuk mendrong pengubahan brain drain tersebut menjadi "brain gain", seperti yang dilakukan oleh Alm. Raja Inal Siregar sebagai Gubernur Prop. Sumatera Utara di waktu itu dengan gerakan Marsipature Hutanabe-nya, namun upaya pengubahan menjadi brain gain ini belum memperlihatkan hasil yang luas. Oleh karena itu saya mengajak Pak Sugiono dan sahabat-sahabat referensiers lainnya untuk membayangkan situasi yang saya ceritakan tadi, dan berharap hal itu bisa menjadi bagian dari mimpi Pak Sugiono dan sahabat-sahabat referensiers lainnya, sebagaimana saya memimpikan hal tersebut. Dari memimpikan hal tersebut, siapa tahu kita akan berusaha untuk ikut berkontribusi di dalam mewujudkan mimpi tersebut dalam kesempatan-kesempatan yang kita miliki sekalipun kontribusi tersebut merupakan suatu kontribusi kecil dari kerja besar untuk mewujudkan mimpi tadi.. Mohon tanggapan apabila Pak Sugiono dan sahabat-sahabat referensiers lain tidak berkeberatan untuk berbagi pendapat.. Salam hormat dan sejahera dari jauh, Fadjar Undip --- On Mon, 11/23/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Monday, November 23, 2009, 12:55 AM Salam sejahtera pak RM dan rekan-2 ysh, Ikut nimbrung nich..Omomg- omong tentang Cinta Tanah Air, saya jadi teringat dengan para 'mbak Yu penjual Jamu Gendong'. Mereka banyak saya temui hampir di seluruh pelosok tanah air, seperti di Kep. Batam-Bintan dsk, Pulau Sedanau Kep. Natuna, Nunukan Pulau Sebatik, Kep. Sangihe - Talaud, Morotai, Sorong, Manokwari, Biak, Jayapura, Merauke dll. Kebanyakan mbak/mbok Jamu Gendong itu berasal dari Jawa Tengah (Wonogiri, Pekalongan) & Jawa Timur (Pacitan, Blitar), mereka merantau bersama suami dan sanak saudaranya, biasanya sang suami sebagai 'tukang bangunan' atau pedagang informal (K-5) seperti jual bakso atau nasi soto dll. Saya terpikir mereka ini termasuk para pejuang dalam rangka 'proyek nasionalisme' . Mungkin saja mereka ada juga yang awalnya ikut proyek transmigrasi, tetapi terus nyambi berdagang jamu gendong ke kota terdekat. Walau demikian, mereka itu 'tanpa banyak omong' telah ikut berjuang menegakkan NKRI. Maaf kalau saya salah pemahaman dalam diskus ini ya.. BTW, buat mbah Aby selamat jadi simbah beneran ya atas lahirnya cucunda yang pertama, semoga tambah bijak ya.. Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: risf...@yahoo. com Date: Sun, 22 Nov 2009 04:26:17 -0800 Subject: Re: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air Mas Fajar dan rekans ysh, Pendekatan appreciative bisa diterapkan dengan banyak mengapresiasi inisiatif "pemerataan antara daerah", "kerjasama antar daerah", "inovasi di daerah" yang selama ini tertinggal. Saya kira inisiatif "Barlingmascakep" untuk kerjasama antar daerah, juga inovasinya Fadel di daerah "baru" Gorontalo, Yusuf SK dari Tarakan, Masfuk dari Lamongan dan lainnya, kalau sejenis itu kita angkat, kita apresiasi sebagai sumber inspirasi daerah lain maupun Pusat, maka secara konkrit arah "penyebaran" pembangunan antar region akan bisa terjadi. Coba kita cari, Kabupaten/Kota mana di Papua dan Irjabar yang paling inovatif, menerapkan good-governance, kita angkat poin-poin positifnya. Dengan begitu akan ada benchmark di tingkat mereka sendiri, bukan membandingkan dengan pulau yang termaju dulu. Salam, Risfan Munir --- On Sun, 11/22/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> wrote: From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, November 22, 2009, 6:02 AM Pak Risfan ysh, Saya sepakat dengan pendapat Pak Risfan... memang benar Pak.. suatu hal yang sederhana yaitu ucapan terima kasih yang tulus dapat meningkatkan motivasi kerja/aktivitas/ berbuat dari mereka yang menerima ucapan tersebut, dan bahkan bisa meningkatkan rasa silaturahmi (integrasi / keterkaitan hati) di antara kedua pihak tersebut. Namun sayangnya, bangsa kita yang mengklaim diri sebagai bangsa yang ramah tamah berbudi bahasa malah jarang mengucapkan / mengungkapkan rasa terima kasih. Jarangnya mengucapkan rasa terima kasih itu tidak hanya kepada mereka yang tidak kita kenal namun telah memberikan jasanya kepada kita seperti pengangkut sampah, penyapu jalan, sopir angkot, polantas, dsb... bahkan kepada istri, anak dan pembantu rumah tanggal kita pun kita sering melupakan ucapan itu... Seringkali setiap kita merasa bahwa hal tersebut bukan merupakan suatu hal yang perlu kita respon dengan ucapan terima kasih yang tulus.. tapi sering kali kita lebih merasa bahwa hal itu sudah merupakan tugas dia.. jadi ngak usah pakai respon terima kasih ya ngak papa dan wajar... Kita lupa bahwa ucapan terima kasih tsb bisa menambah erat silaturahmi kita... Tapi Pak Risfan, saking jarangnya ucapan terima kasih kita kepada supir angkot, misalnya nih Pak.. dulu saya sering hampir "dimarahin" oleh supir angkot yang saya naiki.. Ceritanya begini, sepulang saya dari Brisbane dulu (saya pernah tinggal di Brisbane selama 1,5 tahun untuk keperluan studi, jadi sedikit banyak mampu memahami budaya hidup orang Brisbane, menurut saya..) saya mulai menguapkan terima kasih kepada supir angkot ketika saya turun dari angkot dan membayar biayanya.. Ini karena di Brisbane, hampir semua orang mengucapkan "thank you mate" kepada supir bus ketika mereka turun dari bus, walau mereka tidak bleh turun di pintu yang dekat supir dan harus turun di pintu belakang (bagian tengah bus). Sang supir bus pun, biasanya, juga ngomong "thank you mate", dan bahkan nggak jarang pakai akhiran "good day..." untuk merespon ucapan penumpang-penumpang yang turun tsb.. Hal ini nggak saya jumpai di Sydney atau di kota-kota lainnya, termasuk kota yang sekarang... Nah, ketika saya mencoba menerapkan "thank you tersebut", baik di Bandung, Jakarta maupun Semarang, tidak jarang saya malah mendapat hardikan yang menantang.. "Nopo Mas..?", "Naon..?" atau "Knapa...?" dengan nada yang membentak.. Respon ini terutama terjadi kalau ucapan terima kasih tsb saya ucapkan setelah saya menerima uang kembalian he he he.... Mungkin Sang Sopir nggak terlalu dengan ucapan saya dan berpikir saya memprotes jumlah uang kembalian atau memprotes lainnya kali ya, he he he he.... Tapi biasanya setelah saya bilang "Enggak papa kok Pak..(atau Mas, Kang, Bang....) cuma terima kasih aja...", Beliau langsung jadi tersenyum dan bilang "sama-sama Pak...". Bahkan nggak jarang, supir-supir angkot yg sudah mengenali saya terus berhentinya agak lebih lama dari biasanya.. barangkali untuk mendengar ucapan terima kasih dari saya kali ya (he he he he... ini saya GR aja kali ya Pak...)... Poinnya, kembali ke laptop ya Pak Risfan, saya sepakat dengan pendapat Pak Risfan bahwa kita perlu banyak belajar mengapresiasi sesuatu yang telah dikerjakan oleh orang lain kepada kita walau apa yang dia kerjakan itu merupakan suatu aktivitas yang tidak tampak di depan kita... Tapi apresiasi semacam ini merupakan suatu hal yang bisa dilakuka oleh semua orang, Pak.. Hal semacam ini bukan merupakan suatu hal yang hanya bisa dilakukan oleh kita yang secara spesifik mendapat pendidikan perencanaan atau pembangunan wilayah dan kota... Jadi kontribusi yang harus kita lakukan untuk meningkatkan nasionalisme dan cinta tanah air ini harus lah lebih daripada sekedar ucapan terima kasih seperti itu aja... Oleh karena itu saya kembali ke pendapat saya sebelumnya, Pak... Kayaknya kita harus ikut berkontribusi untuk membangun "keadilan spasial bagi seluruh wilayah Indonesia... .". Masak sudah lebih dari 8 windu (konon) kita merdeka, tetapi keadilan spasial tersebut belum tampak dan bahkan jurangnya semakin lebar.. Apa kata dunia kalau nanti setelah satu abad kita merdeka, keadilan spasial tersebut belum juga muncul... sekarang sudah 100 tahun lebih kebangkitan nasional, tapi nasionalisme pada banyak kita malah perlu dipertanyakan. .. Masak nanti di tahun 2045, setelah 100 tahun kemerdekaan, kita belum juga bisa mewujudkan cita-cita proklamasi.. . Eh tapi konon katanya dunia kiamat di tahun 2012 ya... jadi ya nggak usah mikir untuk tahun 2045 kali ya ha ha ha ha..... Salam sejahtera untuk Pak Risfan dan sahabat referensiers lainnya ya... Salam, Fadjar Undip 22/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, November 22, 2009, 6:10 PM Mas Fajar, Pak Aby dan rekan-rekan ysh, Pertama, selamat kepada Pak Aby atas kelahiran cucu pertamanya. Kedua, saya ingin meresponse penggal ......Jadi, menurut saya, untuk membangun nasionalisme di dalam masyarakat kita pada saat ini adalah bagaimana untuk meningkatkan motivasi masyarakat untuk merasa berbangsa dan bernegara Indonesia.. IMSO, peningkatan motivasi tersebut tidak cukup dilakukan dengan baris berbaris, rapat di lapangan Ikada dan semacam itu... ... Terakhir saya ke negeri jiran (2th yl?) pas hari kemerdekaan mereka ke 50, sehingga banyak kata motivasi kebangsaan. Yang mengesankan saya, ialah temanya "Terima Kasih Malaysia." Belum pernah kan kita di negara kita menyampaikan itu kepada bangsanya. Masyarakat kita sampai saat ini hanya disuruh jadi obyek kampanye, indoktrinasi. Pada tangga menuju monorail, setiap langkah, bagian vertikal dari step itu ada tulisan dalam bahasa Melayu, kira-kira Bahasa Indonesianya: "Terima kasih petugas kebersihan yang telah membuat kota bersih; Terima kasih petugas pos yang melancarkan surat menyurat; Terima kasih petugas telkom yang menyambungkan silaturahmi warga; Terima kasih teller bank yang memudahkan bayar membayar; Terima kasih sopir angkutan yang mengantarkan orang kerja, anak2 sekolah...

