Pak Djarot, Pak Aby, Pak Onnos ysh, Makin hari makin jelas, bahwa mengikuti skema Alvin Toffler, maka dapat dikatakan: (1) Pak Djarot mewakili Revolusi Gelombang Pertama (peradaban Pertanian, bahkan yang tradisional); (2) Pak Aby mewakili zaman Revolusi Gelombang Kedua (peradaban Industri Basar, dan Birokrasi besar konvensional, kota-kota besar); sedang (3) Pak Onnos, ide-idenya menyongsong The Third Wave, gelombang ketiga yang ditandai dengan information technology dan industri kreatif, faktor lokasi bisa tersebar. Karena software developer di Bali-camp, "Bandung-camp", bisa terima order dari Microsoft, Nokia, dst dari seluruh dunia. Teori lokasi baru? Sesungguhnya, ciri Gelombang Pertama dan Ketiga bisa di-link dengan istilah Toffler "villages with satelite". Para pengrajin ukir dan mebel di clusters di perdesaan Jawa Tengah bisa terima order, dialog soal desain dengan buyer di Eropa, Amerika, Asia Timur via internet. Menarik karena masing-masing ada tokohnya disini, dan ada kasusnya mewakili variasi daerah di tanah air. Tak ada benar/salah, itulah variasi karakteristik kegiatan ekonomi nusantara (?) Salam, Risfan Munir Penulis buku "Jurung Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati" (Gramedia, Nov'09)
--- On Wed, 11/25/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air To: [email protected] Cc: "plbpm" <[email protected]> Date: Wednesday, November 25, 2009, 8:47 PM Pak Onnos ysh, Pemikiran anda ttg heroisme migran sektor informal sbg pioneers kewiraswastaan diseluruh pelosok negeri sgtlah baik …. Setidaknya dpt dipastikan bhw mrk adalah bagian dari potensi migran yg vital utk membangun negeri khususnya dipelosok2 yg ‘kekurangan SDM’….. hanya saja kalau bicara ttg pioneering pembangunan wilayah serta sustainabiliti dan harapan dampak ganda (multiplier effect)nya yg luas…. Konon katanya rumusnya Pembangunan Wilayah mengatakan… seyogyanya harus ada aktivitas memimpin (propulsive activities) atau industri memimpin) leading industries) sbg ujung tombaknya (contohnya Freeport terlepas dari dampak negatipnya…. Walau tidak sangat ideal….brkali boleh kita jadikan PTFI contoh ttg bgmn dampak gandanya muncul berupa perkembangan aktivitas multisektor sejak dari pantainya (Timika) sampai kekota modern (Tembagapura) …..dan lalu lokasi pertambangannya itu sendiri…….. Sejak adanya aktivitas Freeport …konon Kabupaten Mimika menjadi wilayah terkaya di Papua, karena potensi tambang mineral dari Ertsberg yang kekayaannya diperkirakan bernilai lebih dari 77 miliar dollar AS. Potensi tambang yang diungkap pada tahun 1936 oleh geolog Belanda, Jean Jacques Dozy, ditindaklanjuti oleh Manajer Eksplorasi Freeport Sulphur Company (sekarang Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc-induk PT Freeport Indonesia) pada tahun 1967 setelah penandatanganan kontrak karya pertama dengan Pemerintah Indonesia…… Setelah kandungan tembaga di tambang Ertsberg menipis, tahun 1988 ditemukan lokasi penambangan baru di Grasberg tak jauh dari Ertsberg., tambang kedua ini memiliki cadangan tembaga terbesar ketiga di dunia dan cadangan emas terbesar di dunia….. Cadangan bijih tambang Grasberg mencapai 2,6 miliar ton di areal 202.950 hektar (kontrak karya PTFI dengan Pemerintah Indonesia baru akan berakhir tahun 2021)…... Produksi tambang dari perusahaan ini dikirim ke pabrik2 peleburan tembaga di berbagai negara, termasuk Gresik-Indonesia…. Thn 2002, PTFI menghasilkan konsentrat yang mengandung 1,8 miliar pon tembaga dan 2,9 juta ons emas dari penambangan sekitar 235.000 bijih tambang per hari. Konsentrat tembaga ini bermanfaat bagi penyediaan tembaga untuk perangkat komunikasi modern dan barang elektronik, pengadaan listrik dan keperluan industri lainnya……. Masuknya perusahaan modal asing pertama ini membuka keterisolasian daerah yg dikelilingi hutan, perairan, dan pegunungan. Infrastruktur untuk menunjang aktivitas tambang seperti lapangan terbang, pelabuhan laut, dan fasilitas jalan dibangun, termasuk kota modernTembagapura……. Memang sayang bhw kesempatan kerja yang terbuka kok baru hanya menyerap tenaga kerja penduduk lokal dalam jumlah (26% dari total pekerja yang mencapai 7.600 orang) dan utk posisi yg terbatas …..tapi kalau SDM lokal tlah siap memenuhi persyaratan kerja …tentu situasi akan berubah….. Aktivitas penambangan PT FI mengembangkan usaha-usaha lain pendukung kegiatan pertambangan dan kebutuhan para pekerjanya, seperti perusahaan penyedia kebutuhan listrik, jasa pelabuhan, jasa konstruksi, jasa konsultan, katering dan makanan…... Di luar karyawan PT FI, terdapat sekitar 1.500 pekerja kontrak pada perusahaan2 yg khusus menyediakan jasa2 bagi PT FI……..Perkembangan aktivitas ekonomi di kabupaten ini cukup tinggi mengingat pengeluaran utk konsumsi PT FI mencapai satu miliar per hari….. Peredaran uang di Kabupaten Mimika pada tahun 2002 mencapai Rp 600 miliar…..Pemerintah Kabupaten Mimika menerima Rp 108,37 miliar dari PT FI melalui pajak, retribusi atau bagi hasil pada tahun 2002, dari sebelumnya Rp 113,94 miliar….. Pendapatan per kapita penduduk kabupaten ini mencapai Rp 150,8 juta pada tahun 2001, dan menurun menjadi Rp 106,7 juta pada tahun 2002…… Lapangan usaha penambangan di Mimika membuat seluruh lapangan kerja yg digerakkan penduduk lokal maupun pendatang menghasilkan perputaran uang Rp 11,8 triliun tahun 2002, dimana 96,6 persen atau Rp 11,3 triliun dihasilkan dari sektor pertambangan…… Peluang bagi pengusaha lokal utk berkontribusi dlm penyediaan berbg kebutuhan karyawan PT FI msh terbuka, mengingat hasil2 pertanian dr kab. Mimika atau daerah lain di Papua, seperti Jayawijaya dan Jayapura, masih belum mampu menutupi kebutuhan pokok PT FI…… Hingga saat ini kebutuhan konsumsi warga PT FI hampir semuanya (sekitar 80 persen) dipenuhi dari luar Propinsi Papua, yaitu dari Surabaya dan Makassar…….. Harapan masyarakat akan keterbukaan peluang dalam mensuplai kebutuhan para pekerja di PT FI tak hanya terkendala oleh kuantitas dan kualitas sebagian produk yang mereka hasilkan tetapi jg oleh besarnya dana yg harus dikeluarkan oleh pengelola koperasi yg menampung produk hasil tani masyarakat… yg itu tentu membutuhkan modal besar untuk membeli seluruh produk yg dihasilkan oleh masyarakat, sekalipun kualitasnya kurang dari yg dipersyaratkan……. Jadi nampaknya benar … tak boleh dilupakan selain corat-coret ttg RTRW/ RDTR ….darah segar utk konkretisasi rencana itu haruslah planners berpikir ttg identifikasi dan konkretisasi ‘leading activities/ leading industries’ menjadi ujung tombaknya …dan pastilah para migran sektor informal akan menempel ketat dibelakangnya (dan janganlah migran informal disuruh sbg ujungtombaknya) … dan cita2 pembangunan wilayah dlm rangka penguatan nasionalism yg kita cita2kan bersama dpt tercapai……bukan hanya impian kosong belaka...... .salam, aby --- On Wed, 11/25/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@.. ...> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@.. ..> Subject: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Wednesday, November 25, 2009, 4:17 AM Eyang Aby dan rekan-2 ysh, Andaikata heroisme para migran informal ini dapat digalang dengan upaya 'pemberdayaan masyarakat' yang jitu, mungkinkah mereka dapat berkembang menjadi pionir wiraswastawan dipelosok negeri ini (seperti 'etos' kerja dari saudara-2 kita dari etnik tionghua) ?, sekaligus sebagai alat pemersatu bangsa yang 'bhineka tunggal ika' ini ? Mohon pendapatnya. .. Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: watashi...@yahoo. com Date: Tue, 24 Nov 2009 21:45:10 -0800 Subject: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air Pak Onnos ysh, ++++: ..Omomg- omong tentang Cinta Tanah Air, saya jadi teringat dengan para 'mbak Yu penjual Jamu Gendong'. Mereka banyak saya temui hampir di seluruh pelosok tanah air, seperti di Kep. Batam-Bintan dsk, Pulau Sedanau Kep. Natuna, Nunukan Pulau Sebatik, Kep. Sangihe - Talaud, Morotai, Sorong, Manokwari, Biak, Jayapura, Merauke dll. Kebanyakan mbak/mbok Jamu Gendong itu berasal dari Jawa Tengah (Wonogiri, Pekalongan) & Jawa Timur (Pacitan, Blitar), mereka merantau bersama suami dan sanak saudaranya, biasanya sang suami sebagai 'tukang bangunan' atau pedagang informal (K-5) seperti jual bakso atau nasi soto dll. Saya terpikir mereka ini termasuk para pejuang dalam rangka 'proyek nasionalisme' . Mungkin saja mereka ada juga yang awalnya ikut proyek transmigrasi, tetapi terus nyambi berdagang jamu gendong ke kota terdekat. Walau demikian, mereka itu 'tanpa banyak omong' telah ikut berjuang menegakkan NKRI. Maaf kalau saya salah pemahaman dalam diskus ini ya.. >>>>: ‘Heroisme’ migrasi sektor informal dgn merantau keluar Jawa menuju >>>>lokasi2 terpencil dan kota2 kecil umumnya sptnya lbh dikaitkan dgn contoh >>>>pioneering transmigrasi utk mengurangi kepadatan penduduk di Jawa … selain >>>>menjadi propaganda program transmigrasi sekaligus pembuktian ketidak >>>>benaran tuduhan/ ejekan bhw suku Jawa bersifat sedentary (lahir, besar dan >>>>mati menetap terus didesa yg sama)……. Boleh jadi para migran sektor >>>>informal itu malah tak berpikir ttg ‘proyek nasionalisme’ atau penegakan >>>>NKRI spt yg sedang kita diskusikan (sebaliknya daerah tujuan malah kadang >>>>mengeluh kesan ‘Jawanisasi)…… Nampaknya motivasi kewiraswastaan kecil, >>>>pikiran menjadi pengusaha tertentu yg baru pertama dilokasi tujuan dan agar >>>>mendapatkan porsi pasar yg besar lbh menjadi tujuan utama mereka……. ++++: BTW, buat mbah Aby selamat jadi simbah beneran ya atas lahirnya cucunda yang pertama, semoga tambah bijak ya.. >>>>: Ya pak Onnos, sekarang saya sdh resmi jadi akung beneran dan maturnuwun >>>>atas perhatian serta doanya……salam, aby Sunday, November 22, 2009 9:55 AM From: "Sugiono Ronodihardjo" <sugion...@hotmail. com> Salam sejahtera pak RM dan rekan-2 ysh, Ikut nimbrung nich..Omomg- omong tentang Cinta Tanah Air, saya jadi teringat dengan para 'mbak Yu penjual Jamu Gendong'. Mereka banyak saya temui hampir di seluruh pelosok tanah air, seperti di Kep. Batam-Bintan dsk, Pulau Sedanau Kep. Natuna, Nunukan Pulau Sebatik, Kep. Sangihe - Talaud, Morotai, Sorong, Manokwari, Biak, Jayapura, Merauke dll. Kebanyakan mbak/mbok Jamu Gendong itu berasal dari Jawa Tengah (Wonogiri, Pekalongan) & Jawa Timur (Pacitan, Blitar), mereka merantau bersama suami dan sanak saudaranya, biasanya sang suami sebagai 'tukang bangunan' atau pedagang informal (K-5) seperti jual bakso atau nasi soto dll. Saya terpikir mereka ini termasuk para pejuang dalam rangka 'proyek nasionalisme' . Mungkin saja mereka ada juga yang awalnya ikut proyek transmigrasi, tetapi terus nyambi berdagang jamu gendong ke kota terdekat. Walau demikian, mereka itu 'tanpa banyak omong' telah ikut berjuang menegakkan NKRI. Maaf kalau saya salah pemahaman dalam diskus ini ya.. BTW, buat mbah Aby selamat jadi simbah beneran ya atas lahirnya cucunda yang pertama, semoga tambah bijak ya.. Wassalam, Onnos New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more.

