Sama-sama Pak Onnos. Ya, di TB Gramedia. Sukses selalu, RM
-----Original Message----- From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Sent: Tuesday, November 24, 2009 8:37 AM To: [email protected] <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah Air Halo pak RM ysh, Wah itu bukan ajaran saya lho... cuman saya 'contek' dari petuah guru saja. BTW saya belum baca buku anda, dimana bisa didapat ? Apa sudah beredar di Gramedia, nanti saya cari. Okay, semoga sukses selalu ya. Wassalam, Onnos > To: [email protected] > From: [email protected] > Date: Tue, 24 Nov 2009 08:12:36 +0700 > Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta > Tanah Air > > Pak Onnos, Fajar, Ekadj dan rekans ysh, > > Nyimpang sedikit, soal ajaran Pak Onnos ttg "wirogo, wiroso, wiromo" yang > akhirnya menuju kebijakan "menghargai dan berterima kasih" kepada lingkungan, > saya nulis yg senada dalam buku saya "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala > Samurai Sejati" (Gramedia Pustaka Utama, Nov '09). Semoga manfaat. > > Ada testimoni 3 Prof (Pak Wawo, Pak ATA, Pak Kusmayanto K) yang menarik. > > Salam, > Risfan Munir > > > > > > > -----Original Message----- > From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> > Sent: Monday, November 23, 2009 11:48 PM > To: [email protected] <[email protected]> > Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta > Tanah Air > > > Mas Fajar dan rekan-2 ysh, > Terima kasih atas tanggapannya mengenai ceritera saya tentang peran 'sektor > informal' (PK-5) sebagai pejuang 'proyek nasionalisme'. Namun, ada catatan > perjalanan saya lain dari 'sektor formal' yang mungkin menarik > untuk pemikiran kita bersama dalam meningkatkan 'cinta tanah air'. > Ceriteranya sekitar tahun 1996 - 2005 saya beberapa kali ke Kendari, dapat > kenalan orang Jawa (Sarjana) yang jadi PNS melalui program Depdagri > ditempatkan di daerah, dia sudah sekitar 5 tahun didaerah tetapi pingin > pindah kerja ke Jakarta atau paling tidak ke Jawa, dia tidak kerasan di > daerah karena merasa bukan orang asli sehingga agak tersisih dalam pekerjaan. > Saya sarankan sebaiknya tetap di daerah saja cari pengalaman dulu, karena di > Jawa lebih banyak saingan. > Saya juga dapat kenalan orang swasta (tionghua) yang buka usaha > travel-biro, dia ternyata sudah lebih 10 tahun di Kendari dan juga > usaha dibidang agro-bisnis yaitu jualan biji kacang jambu mete, dia punya > kebun sekitar 5 Ha diluar kota yang awalnya dia beli sedikit-sedikit dari > penduduk desa. Sekarang penduduk ex-pemilik tanah kerja dengan pola bagi > hasil sebagai penjaga kebunnya. > Sepertinya kedua orang kenalan saya itu cukup berpendidikan, tetapi 'etos' > kerjanya berbeda. Mungkinkah dalam era-decentralisasi dengan otonomi daerah > yang semakin besar ini, teman kita yang PNS itu apa dapat terus bertahan > didaerah ? Kalau kenalan yang orang swasta sepertinya dapat menyesuaikan diri > dengan keadaan, apa hanya karena dia ada modal ? Semoga mereka semua saat ini > tetap sehat dan berhasil dalam hidupnya didaerah. > Wassalam, > Onnos > > To: [email protected] > From: [email protected] > Date: Sun, 22 Nov 2009 11:43:11 -0800 > Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta > Tanah Air > > > Pak Sugiono dan sahabat referensiers ysh, > > Saya sepakat dengan Pak Onno Sugiono dalam opini di bawah.... Dalam tataran > tertentu, dan apabila diberdayakan secara baik, para Mbok Jamu dan suaminya > yang bekerja di sektor informal dapat meningkatkan integrasi sosial di tempat > dimana mereka beraktivitas dan berkarya... > > Bukan bermaksud untuk merendahkan mereka, tapi para Mbok Jamu dan suaminya > aja bisa menjadi agen-agen penguat ikatan nasinalisme di negara kita... > > Mohon Pak Sugiono dan sahabat-sahabat referensiers lain bayangkan apabila > setiap bagian wilayah kita di Indonesia memiliki diferensiasi aktivitas utama > yang berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, dan > setiap wilayah yang memiliki aktivitas utama yang berbeda tersebut juga > memiliki fasilitas pendidikan tinggi dan fasilitas penunjangnya seperti > laboratorium, lembaga penelitian, perpustakaan, bengkel-bengkel kerja, > industri-industri kreatif dan sebagainya guna menunjang perkembangan dan > sustainabilitas aktivitas utama tersebut, dimana universitas dan > fasilitas-fasilitas penunjang tersebut merupakan perguruan tinggi dan > fasilitas-fasilitas penunjang terbaik yang ada di seluruh negeri untuk bidang > tersebut, sehingga setiap bagian wilayah Indonesia punya aktivitas-aktivitas > utama terbaik untuk bidang-bidang tertentunya masing-masing beserta fasilitas > pengembangan aktivitasnya yang sesuai, maka arus migrasi (internal) > yang terjadi tidak hanya dilakukan oleh para Mbok Jamu dan suaminya > masing-masing... > > Besar kemungkinan bahwa arus migrasi internal yang terjadi juga akan > dikontribusi oleh mereka yang lebih berkualitas daripada hanya sekedar mereka > yang hanya mampu membangun industri-industri jamu rumahan seperti itu (sekali > lagi mohon maaf, bukan bermaksud untuk merendahkan pada Mbok Jamu dan > suaminya ini..). > > Besar kemungkinan bahwa arus migrasi internal di negara kita juga akan > dikontribusi oleh mereka yang bercita-cita untuk bersekolah dan berkarya di > "bidang tertentu" tadi, sehingga kebesaran dan kemakmuran suatu wilayah tadi > tidak hanya akan dikontribusi oleh para putra daerahnya saja (atau bahkan > tidak hanya dikontribusi oleh para pendatang saja), namun juga oleh suatu > kerja bersama-sama dari para putra-putri daerah setempat dan putra-putri > daerah lainnya dalam membangun aktivitas utama di daerah tadi.. > > Bila bisa dilakukan suatu upaya seperti ini, saya berkeyakinan bahwa > penguatan ikatan-ikatan nasionalisme bisa diperluas dan diperkuat.. Tapi bisa > jadi, paradigma pembangunan yang dilakukan di negara kita, terutama > pembangunan-pembangunan yang memanfaatkan sumber-sumber alam sebagai basis > dasar untuk aktivitasnya, tidak lagi dilakukan secara eksploitatif, melainkan > harus dilakukan secara developmental... > > Pada saat ini, bisa dikatakan bahwa aktivitas-aktivitas utama industri dan > universitas-universitas serta lembaga pendidikan tinggi terbaik lainnya di > Indonesia cenderung hanya berlokasi di Pulau Jawa. Akibatnya, secara internal > terjadi "brain drain" dari luar Jawa ke Pulau Jawa. Walaupun sejak awal tahun > 1990an telah dilakukan beberapa upaya untuk mendrong pengubahan brain drain > tersebut menjadi "brain gain", seperti yang dilakukan oleh Alm. Raja Inal > Siregar sebagai Gubernur Prop. Sumatera Utara di waktu itu dengan gerakan > Marsipature Hutanabe-nya, namun upaya pengubahan menjadi brain gain ini belum > memperlihatkan hasil yang luas. > > Oleh karena itu saya mengajak Pak Sugiono dan sahabat-sahabat referensiers > lainnya untuk membayangkan situasi yang saya ceritakan tadi, dan berharap hal > itu bisa menjadi bagian dari mimpi Pak Sugiono dan sahabat-sahabat > referensiers lainnya, sebagaimana saya memimpikan hal tersebut. Dari > memimpikan hal tersebut, siapa tahu kita akan berusaha untuk ikut > berkontribusi di dalam mewujudkan mimpi tersebut dalam kesempatan-kesempatan > yang kita miliki sekalipun kontribusi tersebut merupakan suatu kontribusi > kecil dari kerja besar untuk mewujudkan mimpi tadi.. > > Mohon tanggapan apabila Pak Sugiono dan sahabat-sahabat referensiers lain > tidak berkeberatan untuk berbagi pendapat.. > > Salam hormat dan sejahera dari jauh, > > Fadjar Undip > > > > --- On Mon, 11/23/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote: > > From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> > Subject: RE: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta > Tanah Air > To: "[email protected]" <[email protected]> > Date: Monday, November 23, 2009, 12:55 AM > > > Salam sejahtera pak RM dan rekan-2 ysh, > Ikut nimbrung nich..Omomg- omong tentang Cinta Tanah Air, saya jadi teringat > dengan para 'mbak Yu penjual Jamu Gendong'. Mereka banyak saya temui hampir > di seluruh pelosok tanah air, seperti di Kep. Batam-Bintan dsk, Pulau Sedanau > Kep. Natuna, Nunukan Pulau Sebatik, Kep. Sangihe - Talaud, Morotai, Sorong, > Manokwari, Biak, Jayapura, Merauke dll. Kebanyakan mbak/mbok Jamu Gendong itu > berasal dari Jawa Tengah (Wonogiri, Pekalongan) & Jawa Timur (Pacitan, > Blitar), mereka merantau bersama suami dan sanak saudaranya, biasanya sang > suami sebagai 'tukang bangunan' atau pedagang informal (K-5) seperti jual > bakso atau nasi soto dll. Saya terpikir mereka ini termasuk para pejuang > dalam rangka 'proyek nasionalisme' . Mungkin saja mereka ada juga yang > awalnya ikut proyek transmigrasi, tetapi terus nyambi berdagang jamu > gendong ke kota terdekat. Walau demikian, mereka itu 'tanpa banyak omong' > telah ikut berjuang menegakkan NKRI. Maaf kalau saya salah pemahaman dalam > diskus ini ya.. BTW, buat mbah Aby selamat jadi simbah beneran ya atas > lahirnya cucunda yang pertama, semoga tambah bijak ya.. > Wassalam, > Onnos > > To: refere...@yahoogrou ps.com > From: risf...@yahoo. com > Date: Sun, 22 Nov 2009 04:26:17 -0800 > Subject: Re: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta > Tanah Air > > > Mas Fajar dan rekans ysh, > > Pendekatan appreciative bisa diterapkan dengan banyak mengapresiasi inisiatif > "pemerataan antara daerah", "kerjasama antar daerah", "inovasi di daerah" > yang selama ini tertinggal. > > Saya kira inisiatif "Barlingmascakep" untuk kerjasama antar daerah, juga > inovasinya Fadel di daerah "baru" Gorontalo, Yusuf SK dari Tarakan, Masfuk > dari Lamongan dan lainnya, kalau sejenis itu kita angkat, kita apresiasi > sebagai sumber inspirasi daerah lain maupun Pusat, maka secara konkrit arah > "penyebaran" pembangunan antar region akan bisa terjadi. > > Coba kita cari, Kabupaten/Kota mana di Papua dan Irjabar yang paling > inovatif, menerapkan good-governance, kita angkat poin-poin positifnya. > Dengan begitu akan ada benchmark di tingkat mereka sendiri, bukan > membandingkan dengan pulau yang termaju dulu. > > Salam, > Risfan Munir > > > > > > > --- On Sun, 11/22/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ > yahoo.com> wrote: > > From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> > Subject: Re: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta > Tanah Air > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Sunday, November 22, 2009, 6:02 AM > > > Pak Risfan ysh, > > Saya sepakat dengan pendapat Pak Risfan... memang benar Pak.. suatu hal yang > sederhana yaitu ucapan terima kasih yang tulus dapat meningkatkan motivasi > kerja/aktivitas/ berbuat dari mereka yang menerima ucapan tersebut, dan > bahkan bisa meningkatkan rasa silaturahmi (integrasi / keterkaitan hati) di > antara kedua pihak tersebut. > > Namun sayangnya, bangsa kita yang mengklaim diri sebagai bangsa yang ramah > tamah berbudi bahasa malah jarang mengucapkan / mengungkapkan rasa terima > kasih. Jarangnya mengucapkan rasa terima kasih itu tidak hanya kepada mereka > yang tidak kita kenal namun telah memberikan jasanya kepada kita seperti > pengangkut sampah, penyapu jalan, sopir angkot, polantas, dsb... bahkan > kepada istri, anak dan pembantu rumah tanggal kita pun kita sering melupakan > ucapan itu... > > Seringkali setiap kita merasa bahwa hal tersebut bukan merupakan suatu hal > yang perlu kita respon dengan ucapan terima kasih yang tulus.. tapi sering > kali kita lebih merasa bahwa hal itu sudah merupakan tugas dia.. jadi ngak > usah pakai respon terima kasih ya ngak papa dan wajar... Kita lupa bahwa > ucapan terima kasih tsb bisa menambah erat silaturahmi kita... > > Tapi Pak Risfan, saking jarangnya ucapan terima kasih kita kepada supir > angkot, misalnya nih Pak.. dulu saya sering hampir "dimarahin" oleh supir > angkot yang saya naiki.. Ceritanya begini, sepulang saya dari Brisbane dulu > (saya pernah tinggal di Brisbane selama 1,5 tahun untuk keperluan studi, jadi > sedikit banyak mampu memahami budaya hidup orang Brisbane, menurut saya..) > saya mulai menguapkan terima kasih kepada supir angkot ketika saya turun dari > angkot dan membayar biayanya.. Ini karena di Brisbane, hampir semua orang > mengucapkan "thank you mate" kepada supir bus ketika mereka turun dari bus, > walau mereka tidak bleh turun di pintu yang dekat supir dan harus turun di > pintu belakang (bagian tengah bus). Sang supir bus pun, biasanya, juga > ngomong "thank you mate", dan bahkan nggak jarang pakai akhiran "good day..." > untuk merespon ucapan penumpang-penumpang yang turun tsb.. Hal ini nggak saya > jumpai di Sydney atau di kota-kota lainnya, termasuk kota yang sekarang... > > Nah, ketika saya mencoba menerapkan "thank you tersebut", baik di Bandung, > Jakarta maupun Semarang, tidak jarang saya malah mendapat hardikan yang > menantang.. "Nopo Mas..?", "Naon..?" atau "Knapa...?" dengan nada yang > membentak.. Respon ini terutama terjadi kalau ucapan terima kasih tsb saya > ucapkan setelah saya menerima uang kembalian he he he.... Mungkin Sang Sopir > nggak terlalu dengan ucapan saya dan berpikir saya memprotes jumlah uang > kembalian atau memprotes lainnya kali ya, he he he he.... > > Tapi biasanya setelah saya bilang "Enggak papa kok Pak..(atau Mas, Kang, > Bang....) cuma terima kasih aja...", Beliau langsung jadi tersenyum dan > bilang "sama-sama Pak...". Bahkan nggak jarang, supir-supir angkot yg sudah > mengenali saya terus berhentinya agak lebih lama dari biasanya.. barangkali > untuk mendengar ucapan terima kasih dari saya kali ya (he he he he... ini > saya GR aja kali ya Pak...)... > > Poinnya, kembali ke laptop ya Pak Risfan, saya sepakat dengan pendapat Pak > Risfan bahwa kita perlu banyak belajar mengapresiasi sesuatu yang telah > dikerjakan oleh orang lain kepada kita walau apa yang dia kerjakan itu > merupakan suatu aktivitas yang tidak tampak di depan kita... Tapi apresiasi > semacam ini merupakan suatu hal yang bisa dilakuka oleh semua orang, Pak.. > Hal semacam ini bukan merupakan suatu hal yang hanya bisa dilakukan oleh kita > yang secara spesifik mendapat pendidikan perencanaan atau pembangunan wilayah > dan kota... > > Jadi kontribusi yang harus kita lakukan untuk meningkatkan nasionalisme dan > cinta tanah air ini harus lah lebih daripada sekedar ucapan terima kasih > seperti itu aja... Oleh karena itu saya kembali ke pendapat saya sebelumnya, > Pak... Kayaknya kita harus ikut berkontribusi untuk membangun "keadilan > spasial bagi seluruh wilayah Indonesia... .". Masak sudah lebih dari 8 windu > (konon) kita merdeka, tetapi keadilan spasial tersebut belum tampak dan > bahkan jurangnya semakin lebar.. Apa kata dunia kalau nanti setelah satu abad > kita merdeka, keadilan spasial tersebut belum juga muncul... sekarang sudah > 100 tahun lebih kebangkitan nasional, tapi nasionalisme pada banyak kita > malah perlu dipertanyakan. .. Masak nanti di tahun 2045, setelah 100 tahun > kemerdekaan, kita belum juga bisa mewujudkan cita-cita proklamasi.. . Eh tapi > konon katanya dunia kiamat di tahun 2012 ya... jadi ya nggak usah mikir untuk > tahun 2045 kali ya ha ha ha ha..... > > Salam sejahtera untuk Pak Risfan dan sahabat referensiers lainnya ya... > > Salam, > > Fadjar Undip > > > > > > > 22/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: > > From: Risfan M <risf...@yahoo. com> > Subject: [referensi] Re: (14a) Indonesia : Proyek Nasionalisme -> Cinta Tanah > Air > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Sunday, November 22, 2009, 6:10 PM > > > Mas Fajar, Pak Aby dan rekan-rekan ysh, > > Pertama, selamat kepada Pak Aby atas kelahiran cucu pertamanya. > > Kedua, saya ingin meresponse penggal > > ......Jadi, menurut saya, untuk membangun nasionalisme di dalam masyarakat > kita pada saat ini adalah bagaimana untuk meningkatkan motivasi masyarakat > untuk merasa berbangsa dan bernegara Indonesia.. IMSO, peningkatan motivasi > tersebut tidak cukup dilakukan dengan baris berbaris, rapat di lapangan Ikada > dan semacam itu... ... > > Terakhir saya ke negeri jiran (2th yl?) pas hari kemerdekaan mereka ke 50, > sehingga banyak kata motivasi kebangsaan. Yang mengesankan saya, ialah > temanya "Terima Kasih Malaysia." Belum pernah kan kita di negara kita > menyampaikan itu kepada bangsanya. Masyarakat kita sampai saat ini hanya > disuruh jadi obyek kampanye, indoktrinasi. > > Pada tangga menuju monorail, setiap langkah, bagian vertikal dari step itu > ada tulisan dalam bahasa Melayu, kira-kira Bahasa Indonesianya: > > "Terima kasih petugas kebersihan yang telah membuat kota bersih; > Terima kasih petugas pos yang melancarkan surat menyurat; > Terima kasih petugas telkom yang menyambungkan silaturahmi warga; > Terima kasih teller bank yang memudahkan bayar membayar; > Terima kasih sopir angkutan yang mengantarkan orang kerja, anak2 sekolah.. Windows Live Hotmail: Your friends can get your Facebook updates, right from Hotmail®.

