Pak Onnos n Rekans ysh,

Soal "plan-nologis" - ini mungkin juga alasan ke spiritual. Sebabnya dulu kita 
yakin Planologi itu "keinsinyuran" banget, eksak. Kenyataan RTRW harus 
disetujui Dewan, masyarakat,harus dipatuhi instansi lain, swasta dst. Tekait 
konflik kepentingan seperti urusan kebijakan publik. D.p.l. tidak eksak. Tapi 
para Planner unconsciously tak mau terima. Kecewa. Keluarlah kata 
"plan-nologis". Padahal itu karena kenaifan semata. Wong masyarakat banyak kok 
bisa disuruh pindah sana pindah sini. Pabrik itu disana, pabrik ini disitu.
Selama tidak bisa terima kenyataan permainan "kebijakan publik" dan tidak 
prepare kesana, ya kecewa terus. Karena "dunia" ya begitu itu. Planning kan 
bukan untuk tata ruang di surga.

Kalau soal spiritual, ya mungkin karena usia. Adakah hubungan dengan planning? 
Jangan-jangan pelarian saja....

Ajaran tasawuf lain mungkin lebih relevan, yang mengatakan "Tuhan ada di antara 
masyarakat miskin". Maka mendekati Tuhan, sebaiknya dilakukan dengan mengasihi 
kaum miskin. Ini mungkin lebih planologis, drpd yang "plan-nologis". He he 
he...sorry ini pemanasan sambil macet Senin pagi.

Salam,
Risfan Munir





-----Original Message-----
From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]>
Sent: Sunday, November 29, 2009 11:30 PM
To: [email protected] <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] momentum ruang-waktu

 
Waduh mas Djarot, uda Ekadj dan rekan-2 ysh,
 Sepertinya pengalaman spiritual yang dialami mas & uda ini betul-2 menakjubkan 
ya... sepertinya diskusi 'momentum ruang-waktu' ini perlu melibatkan peran 
psikolog & psikiater atau juga 'paranormal', maaf kalau saya kurang tanggap 
ya... karena logika saya tidak nyambung, apa ini yang disebut aliran 
'plan-nologis' ? atau mungkin ada juga rekan lain punya pengalaman spiritual ke 
Gunung Kawi atau ke Goa/Bukit Srandil ?
 Wassalam,
 Onnos

 
To: [email protected]; [email protected]
From: [email protected]
Date: Sun, 29 Nov 2009 23:09:42 +0700
Subject: [referensi] momentum ruang-waktu

  
Pak Djarot ysh, saya kira kita perlu buka thread baru menyangkut pertemuan 
waktu dan ruang. Kita sepakat bila hal-hal seperti itu sulit terulang kembali. 
Saya menambahkan dengan satu kisah lagi, seusai thawaf, saya mencari kesempatan 
untuk berdoa di Multazam. Cara berdoanya adalah merapatkan seluruh tubuh ke 
dinding Ka'bah. Disebutkan dalam hadits (?) bila berdoa di Multazam akan 
mendapatkan prioritas untuk dikabulkan oleh Allah swt. Atas saran seorang rekan 
yang sudah berhaji, saya sudah menyiapkan sejumlah doa yang bermacam-macam, 
mulai untuk beroleh kekayaan, kesuksesan, dst.
 
Pada kesempatan yang sangat sulit karena padatnya jemaah, akhirnya saya 
berhasil sampai di Multazam dan bisa bertahan sampai sekitar 5 menit. Begitu 
merapatkan badan, entah kenapa seluruh tubuh saya menangis, mulai dari ujung 
rambut sampai ke ujung kaki. Mata saya menangis, tangan saya menangis, kaki 
saya menangis, dst (36:65). Semuanya seakan-akan mengadu kepada Allah swt, 
tentang apa-apa yang telah mereka perbuat, tanpa dapat saya kontrol sedikitpun. 
Mungkin dulu kaki saya pernah menendang orang atau tangan saya pernah menampar 
orang. Untuk Pak BTS mungkin bisa menyimak Chrisye. Pada saat itu seluruh 
rencana doa-doa saya tiba-tiba menjadi buyar, kembali saya hanya minta ampun 
kepada Allah swt. Belum pernah saya menangis sedahsyat itu, walaupun di masa 
kecil. Hanya minta ampun.
 
Dalam saat seperti itu tiba-tiba saya merasakan gelombang ungu masuk ke dalam 
kepala saya, begitu nyata dalam mata telanjang saya, terus-menerus. Dan terasa 
begitu damainya, begitu bahagianya.
 
Keesokan harinya saya kembali ke Multazam, dalam suasana yang sama, tapi 
sungguh, saya tidak mendapatkan nuansa seperti sebelumnya. Jadi memang momentum 
tidak berulang.
 
Namun beberapa bulan kemudian, ketika sholat ashar di musholla di sebuah hotel 
di kawasan Kemang, saya mendapatkan kembali sinar ungu itu walau bentuk 
gelombangnya berbeda. Namun bulan lalu ketika saya kembali berkesempatan ke 
hotel itu, sinar ungu itu sudah tidak saya temukan lagi.
 
Itu sharing dari saya pak, bila momentum tercipta pada pertemuan ruang dan 
waktu, secara hikmah dan hidayah. Salam.
 
-ekadj

 
2009/11/29 Djarot Purbadi <[email protected]>
 
  
Pak Eka, saya kira pengalaman spiritual semacam itu sangat langka dan kadang 
tidak bisa kita prediksi atau siapkan. Saya pernah mengalami pengalaman 
spiritual "dielus-elus" kepala saya oleh Bunda Maria ketika saya berdoa 
sendirian di depan goa Santa Maria di Sendangsono tahun 1976. Pada waktu itu 
saya mengalami kebuntuan, ingin meneruskan ke perguruan tinggi (UGM) tetapi 
tidak punya modal selain nila ujian saja. Saya menangis di depan goa dan di 
hadapan patung Maria (nuwun sewu ini tradisi Katolik). Suasananya sangat sepi 
karena tengah malam dan saya sendirian, Sejak siang saya sudah berjalan kaki 
dari rumah Wirobrajan menuju Sendangsono tanpa bekal makanan selain tekad. 
Alhasil, ketika pengumuman saya diterima di UGM, sementara teman-teman 
sekampung banyak yang nggak lolos.

Pengalamn semacam itu ternyata nggak bisa diulangi Pak.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 11/28/09, - ekadj <[email protected]> wrote:

Pak Djarot ysh, terima kasih atas apresiasi bapak mengenai kisah di Arafah ini. 
Segala harapan yang disampaikan, kita kembalikan kepada Yang Maha Kuasa.
 
Ada beberapa hal yang ingin saya luruskan, yaitu pengalaman Arafah ini 
sepertinya dialami oleh setiap orang pada saat itu, sehingga bersifat 
pengalaman komunal, tentunya dengan tingkat yang berbeda-beda pada setiap 
orang. Saya sendiri mengakui kalau ibadah saya tidak sempurna, apalagi zikir 
dan doa masih dituntun oleh ustadz. Bila saya pahami sepenuhnya zikir dan doa 
itu, tentunya akan lebih mantab. Namun tentunya kita berharap timbangan 
keadilan dari Tuhan sesuai dengan kemampuan setiap insan berdasarkan iman dan 
taqwa masing-masing. Namun saya merasakan bila momentum seperti itu tidak akan 
berulang pada kesempatan lain, walaupun persiapan akan lebih baik, dan kita 
diberi kesempatan untuk melaksanakan haji berkali-kali. Mudah-mudahan ada 
rekan-rekan di sini yang sudah berhaji untuk dapat menceritakan pengalamannya.
 
Mengenai pencapaian pada sore itu sebenarnya retrospeksi pribadi usai zikir dan 
doa, sebagai suatu usaha yang kuat untuk menarik hikmah. Dalam hal ini saya 
memandang perlunya persiapan dalam melaksanakan haji, yang diingatkan sebagai 
’bekal’ (2:197). Bahwa selain persiapan materi, kesehatan, dan ketaqwaan, perlu 
juga persiapan pengetahuan. Sehingga sebenarnya momentum akan terjadi bila kita 
sanggup menangkap al hikmah. Kembali disini bila al hikmah kiranya adalah 
bersesuaian untuk setiap orang.
 

New Windows 7: Simplify what you do everyday. Find the right PC for you.

Kirim email ke