Pak Risfan, proses merenungkan dan mengalami aspek spiritual pada berbagai 
fenomena tampaknya perlu diendapkan juga sampai ke dasar jiwa, sama seperti 
ketika kita memainkan ayunan dan tebasan pedang samurai.......jika tebasan - 
tebasan dan tusukan-tusukan kita hanya sekedar proses teknikal.....rasanya 
hambar Pak, tanpa spirit tanpa juwa.....!

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 11/30/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:

From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] momentum ruang-waktu
To: [email protected]
Date: Monday, November 30, 2009, 7:31 AM

Pak Djarot ysh,

Lanjutkan Pak! Munkin kami praktisi yang mesti ngejar ilmu. Karena di ITB 
minggu lalu, saya lihat thesis, disertasi, juga presentasi seminar banyak yang 
sudah kualitatif, bahkan ada yang judulnya eksplisit "Aspek Spiritual dalam 
...pada komunitas...". Walau saya juga belum ngerti bagaimana menerapkannya di 
dunia nyata (proyek).

Mungkin saatnya melakukan "unlearn" lalu "relearn". He he he

Salam, 
Risfan Munir





-----Original Message-----
From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Sent: Monday, November 30, 2009 7:06 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [referensi] momentum ruang-waktu

 
Pak Risfan Sang Samurai Sejati,

Dalam keyakinan saya, di era saat ini segala sesuatu jika ingin "user friendly" 
harus selalu ditambahi kata dahsyat "sosio" di bagian depan. Teknologi jika 
ingin tidak terisolasi dari kehidupan selalu harus bersifat sosio-teknologi. 
Planning jika tidak ingin hidup di awang-awang harus mengandung ciri 
sosio-planning. Tampaknya apapun harus begitu, jika tidak ingin hidup untuk 
kepuasan dirinya sendiri. Nah, jika kemudian ada "religio" atau "spirito" di 
dalamnya, itu barangkali perkembangan lebih lanjut. Tatanan spasial yang saya 
temukan di desa vernakular umumnya sosio-religio-spasial, dst. Estetika jika 
tidak mau terisolasi di dunia artis, dia semestinya juga bersifat 
sosio-estetiko. dst. dst Tetapi Pak, barangkali ini juga hanya aliran kecil 
saja dari sebuah keyakinan yang belum stabil.

Salam,

 Djarot Purbadi

 http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
 http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
 http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 11/30/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:

From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] momentum ruang-waktu
To: [email protected]
Date: Monday, November 30, 2009, 6:39 AM

  
Pak Onnos n Rekans ysh,

Soal "plan-nologis" - ini mungkin juga alasan ke spiritual. Sebabnya dulu kita 
yakin Planologi itu "keinsinyuran" banget, eksak. Kenyataan RTRW harus 
disetujui Dewan, masyarakat,harus dipatuhi instansi lain, swasta dst. Tekait 
konflik kepentingan seperti urusan kebijakan publik. D.p.l. tidak eksak. Tapi 
para Planner unconsciously tak mau terima. Kecewa. Keluarlah kata 
"plan-nologis" . Padahal itu karena kenaifan semata. Wong masyarakat banyak kok 
bisa disuruh pindah sana pindah sini. Pabrik itu disana, pabrik ini disitu


      

Kirim email ke