Pak Djarot ysh, Lanjutkan Pak! Munkin kami praktisi yang mesti ngejar ilmu. Karena di ITB minggu lalu, saya lihat thesis, disertasi, juga presentasi seminar banyak yang sudah kualitatif, bahkan ada yang judulnya eksplisit "Aspek Spiritual dalam ...pada komunitas...". Walau saya juga belum ngerti bagaimana menerapkannya di dunia nyata (proyek).
Mungkin saatnya melakukan "unlearn" lalu "relearn". He he he Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Djarot Purbadi <[email protected]> Sent: Monday, November 30, 2009 7:06 AM To: [email protected] Subject: RE: [referensi] momentum ruang-waktu Pak Risfan Sang Samurai Sejati, Dalam keyakinan saya, di era saat ini segala sesuatu jika ingin "user friendly" harus selalu ditambahi kata dahsyat "sosio" di bagian depan. Teknologi jika ingin tidak terisolasi dari kehidupan selalu harus bersifat sosio-teknologi. Planning jika tidak ingin hidup di awang-awang harus mengandung ciri sosio-planning. Tampaknya apapun harus begitu, jika tidak ingin hidup untuk kepuasan dirinya sendiri. Nah, jika kemudian ada "religio" atau "spirito" di dalamnya, itu barangkali perkembangan lebih lanjut. Tatanan spasial yang saya temukan di desa vernakular umumnya sosio-religio-spasial, dst. Estetika jika tidak mau terisolasi di dunia artis, dia semestinya juga bersifat sosio-estetiko. dst. dst Tetapi Pak, barangkali ini juga hanya aliran kecil saja dari sebuah keyakinan yang belum stabil. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Mon, 11/30/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote: From: Risfan Munir <[email protected]> Subject: RE: [referensi] momentum ruang-waktu To: [email protected] Date: Monday, November 30, 2009, 6:39 AM Pak Onnos n Rekans ysh, Soal "plan-nologis" - ini mungkin juga alasan ke spiritual. Sebabnya dulu kita yakin Planologi itu "keinsinyuran" banget, eksak. Kenyataan RTRW harus disetujui Dewan, masyarakat,harus dipatuhi instansi lain, swasta dst. Tekait konflik kepentingan seperti urusan kebijakan publik. D.p.l. tidak eksak. Tapi para Planner unconsciously tak mau terima. Kecewa. Keluarlah kata "plan-nologis" . Padahal itu karena kenaifan semata. Wong masyarakat banyak kok bisa disuruh pindah sana pindah sini. Pabrik itu disana, pabrik ini disitu

