Pak Risfan Sang Samurai Sejati, Dalam keyakinan saya, di era saat ini segala sesuatu jika ingin "user friendly" harus selalu ditambahi kata dahsyat "sosio" di bagian depan. Teknologi jika ingin tidak terisolasi dari kehidupan selalu harus bersifat sosio-teknologi. Planning jika tidak ingin hidup di awang-awang harus mengandung ciri sosio-planning. Tampaknya apapun harus begitu, jika tidak ingin hidup untuk kepuasan dirinya sendiri. Nah, jika kemudian ada "religio" atau "spirito" di dalamnya, itu barangkali perkembangan lebih lanjut. Tatanan spasial yang saya temukan di desa vernakular umumnya sosio-religio-spasial, dst. Estetika jika tidak mau terisolasi di dunia artis, dia semestinya juga bersifat sosio-estetiko. dst. dst Tetapi Pak, barangkali ini juga hanya aliran kecil saja dari sebuah keyakinan yang belum stabil.
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Mon, 11/30/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote: From: Risfan Munir <[email protected]> Subject: RE: [referensi] momentum ruang-waktu To: [email protected] Date: Monday, November 30, 2009, 6:39 AM Pak Onnos n Rekans ysh, Soal "plan-nologis" - ini mungkin juga alasan ke spiritual. Sebabnya dulu kita yakin Planologi itu "keinsinyuran" banget, eksak. Kenyataan RTRW harus disetujui Dewan, masyarakat,harus dipatuhi instansi lain, swasta dst. Tekait konflik kepentingan seperti urusan kebijakan publik. D.p.l. tidak eksak. Tapi para Planner unconsciously tak mau terima. Kecewa. Keluarlah kata "plan-nologis" . Padahal itu karena kenaifan semata. Wong masyarakat banyak kok bisa disuruh pindah sana pindah sini. Pabrik itu disana, pabrik ini disitu. Selama tidak bisa terima kenyataan permainan "kebijakan publik" dan tidak prepare kesana, ya kecewa terus. Karena "dunia" ya begitu itu. Planning kan bukan untuk tata ruang di surga. Kalau soal spiritual, ya mungkin karena usia. Adakah hubungan dengan planning? Jangan-jangan pelarian saja.... Ajaran tasawuf lain mungkin lebih relevan, yang mengatakan "Tuhan ada di antara masyarakat miskin". Maka mendekati Tuhan, sebaiknya dilakukan dengan mengasihi kaum miskin. Ini mungkin lebih planologis, drpd yang "plan-nologis" . He he he...sorry ini pemanasan sambil macet Senin pagi. Salam, Risfan Munir From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> Sent: Sunday, November 29, 2009 11:30 PM To: refere...@yahoogrou ps.com <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: RE: [referensi] momentum ruang-waktu Waduh mas Djarot, uda Ekadj dan rekan-2 ysh, Sepertinya pengalaman spiritual yang dialami mas & uda ini betul-2 menakjubkan ya... sepertinya diskusi 'momentum ruang-waktu' ini perlu melibatkan peran psikolog & psikiater atau juga 'paranormal' , maaf kalau saya kurang tanggap ya... karena logika saya tidak nyambung, apa ini yang disebut aliran 'plan-nologis' ? atau mungkin ada juga rekan lain punya pengalaman spiritual ke Gunung Kawi atau ke Goa/Bukit Srandil ? Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com; im...@yahoogroups. com From: 4ek...@gmail. com Date: Sun, 29 Nov 2009 23:09:42 +0700 Subject: [referensi] momentum ruang-waktu Pak Djarot ysh, saya kira kita perlu buka thread baru menyangkut pertemuan waktu dan ruang. Kita sepakat bila hal-hal seperti itu sulit terulang kembali. Saya menambahkan dengan satu kisah lagi, seusai thawaf, saya mencari kesempatan untuk berdoa di Multazam. Cara berdoanya adalah merapatkan seluruh tubuh ke dinding Ka'bah. Disebutkan dalam hadits (?) bila berdoa di Multazam akan mendapatkan prioritas untuk dikabulkan oleh Allah swt. Atas saran seorang rekan yang sudah berhaji, saya sudah menyiapkan sejumlah doa yang bermacam-macam, mulai untuk beroleh kekayaan, kesuksesan, dst. Pada kesempatan yang sangat sulit karena padatnya jemaah, akhirnya saya berhasil sampai di Multazam dan bisa bertahan sampai sekitar 5 menit. Begitu merapatkan badan, entah kenapa seluruh tubuh saya menangis, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Mata saya menangis, tangan saya menangis, kaki saya menangis, dst (36:65). Semuanya seakan-akan mengadu kepada Allah swt, tentang apa-apa yang telah mereka perbuat, tanpa dapat saya kontrol sedikitpun. Mungkin dulu kaki saya pernah menendang orang atau tangan saya pernah menampar orang. Untuk Pak BTS mungkin bisa menyimak Chrisye. Pada saat itu seluruh rencana doa-doa saya tiba-tiba menjadi buyar, kembali saya hanya minta ampun kepada Allah swt. Belum pernah saya menangis sedahsyat itu, walaupun di masa kecil. Hanya minta ampun. Dalam saat seperti itu tiba-tiba saya merasakan gelombang ungu masuk ke dalam kepala saya, begitu nyata dalam mata telanjang saya, terus-menerus. Dan terasa begitu damainya, begitu bahagianya. Keesokan harinya saya kembali ke Multazam, dalam suasana yang sama, tapi sungguh, saya tidak mendapatkan nuansa seperti sebelumnya. Jadi memang momentum tidak berulang. Namun beberapa bulan kemudian, ketika sholat ashar di musholla di sebuah hotel di kawasan Kemang, saya mendapatkan kembali sinar ungu itu walau bentuk gelombangnya berbeda. Namun bulan lalu ketika saya kembali berkesempatan ke hotel itu, sinar ungu itu sudah tidak saya temukan lagi. Itu sharing dari saya pak, bila momentum tercipta pada pertemuan ruang dan waktu, secara hikmah dan hidayah. Salam. -ekadj 2009/11/29 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Pak Eka, saya kira pengalaman spiritual semacam itu sangat langka dan kadang tidak bisa kita prediksi atau siapkan. Saya pernah mengalami pengalaman spiritual "dielus-elus" kepala saya oleh Bunda Maria ketika saya berdoa sendirian di depan goa Santa Maria di Sendangsono tahun 1976. Pada waktu itu saya mengalami kebuntuan, ingin meneruskan ke perguruan tinggi (UGM) tetapi tidak punya modal selain nila ujian saja. Saya menangis di depan goa dan di hadapan patung Maria (nuwun sewu ini tradisi Katolik). Suasananya sangat sepi karena tengah malam dan saya sendirian, Sejak siang saya sudah berjalan kaki dari rumah Wirobrajan menuju Sendangsono tanpa bekal makanan selain tekad. Alhasil, ketika pengumuman saya diterima di UGM, sementara teman-teman sekampung banyak yang nggak lolos. Pengalamn semacam itu ternyata nggak bisa diulangi Pak. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Sat, 11/28/09, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote: Pak Djarot ysh, terima kasih atas apresiasi bapak mengenai kisah di Arafah ini. Segala harapan yang disampaikan, kita kembalikan kepada Yang Maha Kuasa. Ada beberapa hal yang ingin saya luruskan, yaitu pengalaman Arafah ini sepertinya dialami oleh setiap orang pada saat itu, sehingga bersifat pengalaman komunal, tentunya dengan tingkat yang berbeda-beda pada setiap orang. Saya sendiri mengakui kalau ibadah saya tidak sempurna, apalagi zikir dan doa masih dituntun oleh ustadz. Bila saya pahami sepenuhnya zikir dan doa itu, tentunya akan lebih mantab. Namun tentunya kita berharap timbangan keadilan dari Tuhan sesuai dengan kemampuan setiap insan berdasarkan iman dan taqwa masing-masing. Namun saya merasakan bila momentum seperti itu tidak akan berulang pada kesempatan lain, walaupun persiapan akan lebih baik, dan kita diberi kesempatan untuk melaksanakan haji berkali-kali. Mudah-mudahan ada rekan-rekan di sini yang sudah berhaji untuk dapat menceritakan pengalamannya. Mengenai pencapaian pada sore itu sebenarnya retrospeksi pribadi usai zikir dan doa, sebagai suatu usaha yang kuat untuk menarik hikmah. Dalam hal ini saya memandang perlunya persiapan dalam melaksanakan haji, yang diingatkan sebagai ’bekal’ (2:197). Bahwa selain persiapan materi, kesehatan, dan ketaqwaan, perlu juga persiapan pengetahuan. Sehingga sebenarnya momentum akan terjadi bila kita sanggup menangkap al hikmah. Kembali disini bila al hikmah kiranya adalah bersesuaian untuk setiap orang. New Windows 7: Simplify what you do everyday. Find the right PC for you.

