Pak Eko, Pak Risfan, dan sahabats,

Saya dengar dari senior saya, jika membedah suatu kasus jangan 
tanggung-tanggung dan hanya berhenti pada aspek permukaan (yang terlihat mata). 
Coba telusuri hal yang lebih mendalam dan kadang tidak terlihat, misalnya, 
ideologi mana yang mendasari suatu tindakan. Pada kasus Curitiba, senior saya 
pernah mengatakan, ideologi yang melandasinya adalah kapitalisme yang telah 
dijinakkan oleh humanisme. Jadilah kota Curitiba. Apakah kita juga bisa 
mengenali - mengendus ideologi mana yang sebaiknya digunakan untuk merencanakan 
kota-kota di Indonesia ?

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 11/30/09, Eko B K <[email protected]> wrote:

From: Eko B K <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita Disini
To: [email protected]
Date: Monday, November 30, 2009, 5:27 PM







 



  


    
      
      
      Pak Risfan ysh.,
saya kira kita tidak mungkin mencontoh kasus lain tanpa membuat perbandingan 
dgn kondisi sendiri pak... perbandingan adanya perbedaan kultur, kondisi 
geografik, ekonomi, dll dgn kota/wilayah yg akan dicontoh... prinsipnya kita 
kenali kelemahan dan kekuatan diri sendiri dulu baru kemudian kita lihat 
kelemahan dan kekuatan orang lain agar kita bisa belajar dr mereka... best 
practices yg ditelan bulat2 dan mentah2 hanya menghasilkan rencana2 yg tidak 
dapat diaplikasikan karena situasi yg ada berbeda.. dan ini sudah banyak 
terjadi bukan? bahkan kadang memakan korban jiwa... kasus pembangunan kanal2 di 
batavia utk mencontoh kota2 belanda dgn tujuan nostalgia kampung asal ternyata 
menimbulkan korban jiwa akibat kanal2 yg menjadi sarang nyamuk malaria...
dlm konteks Curitiba saya tidak melihat bahwa kita
 tidak perlu belajar, saya hanya menggarisbawahi perlunya kita kenali 
perbedaan2 antara kota2 kita dgn Curitiba, dan ini mau tidak mau adalah proses 
pembandingan. Agar kita bisa menarik manfaat yg sebesar2nya tanpa mencontoh 
membabi buta...soal walikota misalkan, tentunya perlu dipelajari apakah 
walikota2 kita memiliki kewenangan yg sama dgn walikota Curitiba? budget yg 
proporsional? kultur masyarakat? tingkat edukasi masyarakat? tingkat 
kesejahteraan masyarakatnya? dgn mengetahui perbedaan tentunya kita jadi tahu 
apa yg harus dilakukan... wise men say "seringkali inti permasalahan bukan apa 
yg tampak di permukaan".. . karenanya kita perlu perdalam apa yg tidak nampak 
di permukaan tsb... ini hemat saya, bukan judgement...

saya tidak melihat relevansi bahwa boyolali belajar dari wonogiri atau 
sebaliknya.. . tapi silakan saja kalau boyolali hendak belajar dari wonogiri 
atau sebaliknya, tapi tentu perlu diperdalam pengetahuan akan
 kondisi spesifik masing2...

salam.



--- On Mon, 11/30/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:

From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita 
Disini
To: "ekobu...@yahoo. com" <ekobu...@yahoo. com>
Cc: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Monday, November 30, 2009, 10:59 AM















 
 



    
      
      
      Apa kita membandingkan? Kayaknya Bu Francisca hanya memberi contoh. Dari 
dulu kita belajar Medival cities,  Chandigar, North American Cities, semua juga 
melihat kota2 Eropa.

Yang penting apa yang kita pelajari. What&#39;s the point. kan Francisca juga 
menggaris bawahi peran Walikota. Kita bisa cari unsur lainnya sbg &quot;key 
success factors&quot; nya. Itu yang kita ambil pelajaran.



Kalau kita cari bedanya, ya selalu ada beda besarnya. Wonogiri dan Boyolali 
saja banyak bedanya. Apalagi kalau global dilihat benuanya, ya nggak ada yang 
sama. 



Saya tidak melihat Curitibanya saja. Tapi pendekatan BEST PRACTICE dan 
REPLICATION ini perlu kita pelajari metodenya. Karena di era otonomi daerah ini 
Panduan dari pusat ala &quot;fit for all&quot; sudah sulit diterapkan, jadi 
kalau ada inovasi bagaimana bisa di sebar, supaya bisa jadi sumber inspirasi.

Cari key success factornya, cari common factors, apa beda konteksnya. Sejauh 
mana bisa diadopsi/replikasi.

Intinya, jangan terlalu pagi di-judge &quot;oh negara kita beda...&quot; Ya 
kapan belajarnya. 



Mudah2an kita bisa diskusi tentang BEST PRACTICE & REPLICATION ini, karena di 
era otonomi kita perlu mendorong inovasi dan sharing pengalaman.



Salam,

Risfan Munir



Eko B K wrote: 

>    

>       Pak Aby, Pak Risfan, Mbak Franciska, dan rekan2 ysh., Dalam hal ini 
> saya sepakat dengan Pak Aby... Tentu kita senang belajar dr contoh yg baik, 
> tetapi membandingkan antara 2 kota atau wilayah perlulah sedikit lebih bijak 
> sehingga solusi thd masalah bisa tepat dan otokritik juga bisa lebih 
> proporsional. .. Dlm konteks Curitiba, saya kira kita perlu juga melihat dr 
> sisi perekonomian negara tsb., budaya, dst... Brazil memang bukan negara 
> kaya, tetapi GDP per kapita (PPP) nya jauh di atas kita Pak Risfan ($12,105 
> dibandingkan Indonesia yg $3,980)... Tapi saya juga melihat ini bukan faktor 
> utama... Mari kita lihat komposisi penduduk Curitiba yg sebagian besar dihuni 
> oleh keturunan Eropa (White)... Konteks Amerika Latin memang sulit 
> dibandingkan dgn konteks negara berkembang lainnya karena sebagian penduduk 
> Amerika Latin adalah keturunan Eropa

>  (seperti juga Afrika Selatan)... ini bukan berarti mereka secara genetik 
> superior, tetapi bahwa keturunan Eropa membawa kultur asalnya, network dgn 
> negara2 leluhurnya, dsb.. ini yg membedakan.. . di bidang ilmu pengetahuan, 
> misalkan tradisi berpikir rasional mereka tidak jauh berbeda dgn saudara2nya 
> di Eropa dan Amerika Utara... Kita tahu bahwa perekonomian modern di Amerika 
> Latin didominasi oleh kulit putih... terjadi kesenjangan yg umumnya sangat 
> tinggi antara kelompok white yg mendominasi ekonomi dan politik dgn ras lain, 
> khususnya native Indian dan keturunan Afrika..tentu sebuah kota dgn dominasi 
> kulit putih dapat dikatakan cukup makmur dibandingkan bagian lain dari negara 
> tsb... ini saja sudah cukup menjawab mengapa Curitiba dapat cukup tertata dgn 
> baik... Tetapi tentu saja kita tetap perlu untuk belajar sesuatu yg baik dr 
> negara lain, terutama yg perekonomiannya tidak terlalu jauh dibanding negara

>  kita... Salam, Eko. --- On Mon, 11/30/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com> 
> wrote: From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Re: 
> Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita Disini To: 
> refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, November 30, 2009, 1:16 AM Pak Aby, 
> Pak Eko BK, Francisca dan rekans ysh, Seperti dua pada Tabel yang saya 
> posting dalam judul "Strategi Pengembangan Wilayah". Kita tak perlu menunggu 
> satu "grand strategi for all". Di era otonomi ini semua jalur, model bisa 
> dilakukan, baik: pembangunan kota, desa, sistem wilayah, dst. Kalau ada yang 
> dikerjakan swasta, ya pemerintah ngurusi yang publik. Curitiba juga bukan di 
> negara kaya, Brazil kan cuma sepakbolanya yang maju. Selebihnya ya satelit 
> nya 

>  kapitalis dunia lah sama seperti.... Saya bayangkan itu  seperti BSD, Kota 
> Wisata, KL Baru dst. Tapi tak mustahil komponen-komponenny a jadi inspirasi 
> bagi kota menengah di baberapa daerah 

>      





    
     



 










      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke