Mbak tentang Curitiba memang menarik dan saya pernah mendengarnya tahun 2006-an dari pak Sudaryono, katanya sebuah kota yang lahir dari ideologi humanistik. Waktu itu beliau nggak menjelaskan jauh karena fokus perbincangan sedang ada pada bukunya Pak Jo Santoso "Kota tanpa warga" itu. Kasus ini memang perlu diperdalam sebagai sebuah cara untuk mencerdaskan kita semua. Terima kasih.
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Mon, 11/30/09, franciska windy <[email protected]> wrote: From: franciska windy <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Curitiba dan Production of Space (was Re: Kota2 Ideal Mereka Disana.. To: [email protected] Date: Monday, November 30, 2009, 7:45 PM kepada rekan2, saya baru sadar ada perdebatan tentang kasus curitiba yang saya kirim kemarin. agar tidak salah kaprah, saya hanya ingin menklarifikasi, kalau kasus tersebut hanya sekedar contoh best practice. kenapa saya kirimkan?karena perbincangan tentang hal tersebut sedang hangat di sini. saya pikir sangat menarik jika kita tahu tentang kasus-kasus yang sedang hangat sebagai 'kosa kata' urban planners. Para arsitek, punya kosa kata (salah 1nya case study) seperti nama2 arsitek internasional: Frank Gehry, Tadao Ando, Norman Foster dan juga arsitek2 nasional: andra martin, baskoro tedjo dll. Para businessman, punya kosa kata lain lagi. (mungkin case study McDonald dan propertynya, Bill Gates dll) Kasus - kasus ini bisa jadi bahan ketika kita bisa membuat planning dan mendesain. meng-quote dari kata google scholar : Stand on the shoulders of giants case study bisa dipakai, sebagai contoh yang baik, atau contoh yang tidak baik. Saya setuju kasus - kasus tersebut tidak boleh diaplikasikan secara harafiah / "literally" karena ilmu urban planning sangat bersangkutan dengan kontext. (sangat kontextual). Dan case study Curitiba yang saya kirimkan memang bukan untuk dicontoh secara harafiah.maaf kalo ada yang salah tangkap. Di lain pihak,buat saya menarik sekali melihat banyak input hanya dari 1 kasus,melihat pandangan dari banyak sisi. terimakasih buat inputnya. salam franciska windy From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com> To: refere...@yahoogrou ps.com Sent: Mon, November 30, 2009 1:03:48 PM Subject: [referensi] Curitiba dan Production of Space (was Re: Kota2 Ideal Mereka Disana.. Pak Risfan dan rekan2 ysh., Melanjutkan diskusi ttg perlunya secara kritis melihat kasus Curitiba dan contoh2 pembangunan kota/wilayah di negara2 lain, kebetulan hari Jumat kemarin salah satu rekan di lab saya mempresentasikan progress disertasi dia: "Production of residential space in the cross-border metropolis Luxembourg" (La production de l'espace résidentiel dans la métropole transfrontaliè re luxembourgeoise) ... sekilas kita akan berpikir apa susahnya melihat pola ruang residensial di Luxemburg? what's so important about it anyway? Tapi ternyata lebih menarik dari yg saya semula bayangkan, karena dia mampu menunjukan bahwa ruang residential yg diproduksi di Luxemburg sangat terkait dgn kondisi society Luxemburg yg juga dihuni oleh banyak warga Perancis, Belgia, Jerman, selain Lux sendiri terkait dgn posisi Lux diantara negara2 tsb dan bagaimana preference utk tinggal di suatu tempat, apakah di Lux atau ke tiga negara lainnya terkait dgn regulasi masing2 negara, jarak, fasilitas, kultur, dsb... singkat kata, sebuah society memproduksi ruang residensialnya sendiri... Presentasi tsb mengingatkan saya akan term production of space yg diajukan oleh Henri Lefabvre tahun 1974...secara singkat, Lefebvre berpendapat bahwa sebuah society memproduksi ruangnya sendiri... karena itu kita tidak dgn serta merta mampu meniru space yg diproduksi oleh society lain, perlu perubahan thd society tsb utk bisa meniru ruang dari society yg lain... sebaliknya sebuah pembangunan ruang yg baru belum tentu cocok utk sebuah society...Tentu saja kita juga perlu kritikal thd apa yg disampaikan oleh Lefebvre, tetapi kelihatannya kita juga bisa melihat kebenaran yg terkandung di dalamnya... Posisi saya dlm Curitiba dan best practices lainnya, tentu kita perlu belajar dari cerita2 sukses negara2 lain, bukankah cara belajar selalu diawali dgn meniru/mencontoh? Tetapi kita juga perlu kritikal thd kasus2 tsb. karena yg perlu kita temukan adalah bagaimana memproduksi ruang yg cocok bagi society kita dan sebaliknya.. . salam, Eko. --- On Mon, 11/30/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote: From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com> Subject: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita Disini To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, November 30, 2009, 11:27 AM Pak Risfan ysh., saya kira kita tidak mungkin mencontoh kasus lain tanpa membuat perbandingan dgn kondisi sendiri pak... perbandingan adanya perbedaan kultur, kondisi geografik, ekonomi, dll dgn kota/wilayah yg akan dicontoh... prinsipnya kita kenali kelemahan dan kekuatan diri sendiri dulu baru kemudian kita lihat kelemahan dan kekuatan orang lain agar kita bisa belajar dr mereka... best practices yg ditelan bulat2 dan mentah2 hanya menghasilkan rencana2 yg tidak dapat diaplikasikan karena situasi yg ada berbeda.. dan ini sudah banyak terjadi bukan? bahkan kadang memakan korban jiwa... kasus pembangunan kanal2 di batavia utk mencontoh kota2 belanda dgn tujuan nostalgia kampung asal ternyata menimbulkan korban jiwa akibat kanal2 yg menjadi sarang nyamuk malaria... dlm konteks Curitiba saya tidak melihat bahwa kita tidak perlu belajar, saya hanya menggarisbawahi perlunya kita kenali perbedaan2 antara kota2 kita dgn Curitiba, dan ini mau tidak mau adalah proses pembandingan. Agar kita bisa menarik manfaat yg sebesar2nya tanpa mencontoh membabi buta...soal walikota misalkan, tentunya perlu dipelajari apakah walikota2 kita memiliki kewenangan yg sama dgn walikota Curitiba? budget yg proporsional? kultur masyarakat? tingkat edukasi masyarakat? tingkat kesejahteraan masyarakatnya? dgn mengetahui perbedaan tentunya kita jadi tahu apa yg harus dilakukan... wise men say "seringkali inti permasalahan bukan apa yg tampak di permukaan".. . karenanya kita perlu perdalam apa yg tidak nampak di permukaan tsb... ini hemat saya, bukan judgement... saya tidak melihat relevansi bahwa boyolali belajar dari wonogiri atau sebaliknya.. . tapi silakan saja kalau boyolali hendak belajar dari wonogiri atau sebaliknya, tapi tentu perlu diperdalam pengetahuan akan kondisi spesifik masing2... salam. --- On Mon, 11/30/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita Disini To: "ekobu...@yahoo. com" <ekobu...@yahoo. com> Cc: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Monday, November 30, 2009, 10:59 AM Apa kita membandingkan? Kayaknya Bu Francisca hanya memberi contoh. Dari dulu kita belajar Medival cities, Chandigar, North American Cities, semua juga melihat kota2 Eropa. Yang penting apa yang kita pelajari. What's the point. kan Francisca juga menggaris bawahi peran Walikota. Kita bisa cari unsur lainnya sbg "key success factors" nya. Itu yang kita ambil pelajaran. Kalau kita cari bedanya, ya selalu ada beda besarnya. Wonogiri dan Boyolali saja banyak bedanya. Apalagi kalau global dilihat benuanya, ya nggak ada yang sama. Saya tidak melihat Curitibanya saja. Tapi pendekatan BEST PRACTICE dan REPLICATION ini perlu kita pelajari metodenya. Karena di era otonomi daerah ini Panduan dari pusat ala "fit for all" sudah sulit diterapkan, jadi kalau ada inovasi bagaimana bisa di sebar, supaya bisa jadi sumber inspirasi. Cari key success factornya, cari common factors, apa beda konteksnya. Sejauh mana bisa diadopsi/replikasi. Intinya, jangan terlalu pagi di-judge "oh negara kita beda..." Ya kapan belajarnya. Mudah2an kita bisa diskusi tentang BEST PRACTICE & REPLICATION ini, karena di era otonomi kita perlu mendorong inovasi dan sharing pengalaman. Salam, Risfan Munir Eko B K wrote: > > Pak Aby, Pak Risfan, Mbak Franciska, dan rekan2 ysh., Dalam hal ini > saya sepakat dengan Pak Aby... Tentu kita senang belajar dr contoh yg baik, > tetapi membandingkan antara 2 kota atau wilayah perlulah sedikit lebih bijak > sehingga solusi thd masalah bisa tepat dan otokritik juga bisa lebih > proporsional. .. Dlm konteks Curitiba, saya kira kita perlu juga melihat dr > sisi perekonomian negara tsb., budaya, dst... Brazil memang bukan negara > kaya, tetapi GDP per kapita (PPP) nya jauh di atas kita Pak Risfan ($12,105 > dibandingkan Indonesia yg $3,980)... Tapi saya juga melihat ini bukan faktor > utama... Mari kita lihat komposisi penduduk Curitiba yg sebagian besar dihuni > oleh keturunan Eropa (White)... Konteks Amerika Latin memang sulit > dibandingkan dgn konteks negara berkembang lainnya karena sebagian penduduk > Amerika Latin adalah keturunan Eropa > (seperti juga Afrika Selatan)... ini bukan berarti mereka secara genetik > superior, tetapi bahwa keturunan Eropa membawa kultur asalnya, network dgn > negara2 leluhurnya, dsb.. ini yg membedakan.. . di bidang ilmu pengetahuan, > misalkan tradisi berpikir rasional mereka tidak jauh berbeda dgn saudara2nya > di Eropa dan Amerika Utara... Kita tahu bahwa perekonomian modern di Amerika > Latin didominasi oleh kulit putih... terjadi kesenjangan yg umumnya sangat > tinggi antara kelompok white yg mendominasi ekonomi dan politik dgn ras lain, > khususnya native Indian dan keturunan Afrika..tentu sebuah kota dgn dominasi > kulit putih dapat dikatakan cukup makmur dibandingkan bagian lain dari negara > tsb... ini saja sudah cukup menjawab mengapa Curitiba dapat cukup tertata dgn > baik... Tetapi tentu saja kita tetap perlu untuk belajar sesuatu yg baik dr > negara lain, terutama yg perekonomiannya tidak terlalu jauh dibanding negara > kita... Salam, Eko. --- On Mon, 11/30/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com> > wrote: From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Re: > Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal Kita Disini To: > refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, November 30, 2009, 1:16 AM Pak Aby, > Pak Eko BK, Francisca dan rekans ysh, Seperti dua pada Tabel yang saya > posting dalam judul "Strategi Pengembangan Wilayah". Kita tak perlu menunggu > satu "grand strategi for all". Di era otonomi ini semua jalur, model bisa > dilakukan, baik: pembangunan kota, desa, sistem wilayah, dst. Kalau ada yang > dikerjakan swasta, ya pemerintah ngurusi yang publik. Curitiba juga bukan di > negara kaya, Brazil kan cuma sepakbolanya yang maju. Selebihnya ya satelit > nya > kapitalis dunia lah sama seperti.... Saya bayangkan itu seperti BSD, Kota > Wisata, KL Baru dst. Tapi tak mustahil komponen-komponenny a jadi inspirasi > bagi kota menengah di baberapa daerah >

