Ini pengalaman kecil yang mungkin berguna untuk dibahas forum terhormat ini ... Tahun 1999, ketika berkunjung ke Kabupaten (pulau) Nias dalam rangka supervisi dan monitoring untuk Kecamatan Development Program (PPK-program pengembangan kecamatan yg kemudian di eskalasi menjadi PNPM Mandiri!).. di kecamatan Mandrehe, saya mengunjungi satu desa yang tidak ada angkutan dan mustahil dilalui kendaraan bermotor juga sepeda motor. Saya bersama 5 teman harus berjalan kaki selama 6 jam melalui jalan setapak yang kadang2 terjal ..dan itulah jalan lintas yang selalu digunakan warga untuk mencapai pasar yang ada ibukota kecamatan. Selama 3 jam mendengarkan keluhan wargadesa ... dan ketika menanyakan mengapa mereka tidak mengusulkan pembangunan jalan agar mudah dilintasi kendaaraan bermotor (karena sebagian besar subproject yang diusulkan masyarakat ialah infrastruktur, kalau bukan air bersih ya pembukaan/peningkatan jalan..) .. Saya tercengang tanggapan masyarakat secara umum ... "...kalau ada jalan wah kami ini hanya jadi penonton saja, warung2 kami akan kalah dengan barang2 dari kota, makanan yang kami jual tak akan lagi dibeli warga karena makanan dari kota banjir dibawa mobil2 pedagang ..!" ... Lanjut warga, "..biarlah kami pergi ke kota (kecamatan) jika perlu sabun dan berobat saja, nanti hancur "sitolumbanua" kami !. Sitolumbanua adalah lembaga sosial/ekonomi warga asli Nias yang awalnya untuk mengurus kebutuhan sosial warga, namun beberapa terakhir berkembang menjadi lembaga ekonomi bersama seperti koperasi yang mengumpulkan iuran warga ...
Saya dan teman2 tertegun, hanya 6 jam perjalanan (kaki) dari kota kecamatan, atau sekitar 12 jam (dilanjutkan dengan kendaraan bermotor) ke ibukota kabupaten Nias: Gunung Sitoli (sekarang sudah jadi 'Kota' sendiri) .... ternyata masih ada pespektif lain masyarakat memandang hasil pembangunan... dan mungkin juga memilih kebutuhan pembangunannya.. jangan2 mereka melihat rural transportation juga berbeda ... Jika tidak keliru salah satu kriteria "kabepaten dan desa tertinggal" ialah "akses" ke sumberdaya yang pernah disimbolikan dengan "pembangunan jalan" ... Sekarang saya dengar sudah ada yang melayani desa2 demikian dengan "ojeg motor" ... yang semakin banyak meramaikan bukan hanya kota, tetapi juga di perdesaaan .. Menarik .. saya akan menikmati diskusinya dan insya Allah bisa menjadi inspirasi untuk teman2 yang memfasilitasi PNPM Mandiri Perdesaan ... Salam akhir pekan ... 2009/12/12 Djarot Purbadi <[email protected]> > > > Fenomena rural-urban transport memang menarik diwacanakan. Ketika > orang-orang desa ke kota kemudian karena modalnya terbatas sementara barang > bawaan harus banyak, maka modifikasi sepeda motor terjadi seperti di Belanda > pada modifikasi sepeda. Orang desa kita juga kreatif, sepeda motor bisa > untuk membawa galon aqua sampai 6-8 galon dengan tambahan "kronjot" besi > atau kayu atau bambu atau kombinasi. > > Nah, kendaraan modif ini sekarang nyaris menjadi raja jalanan karena > kendaraan lain ketakutan jika kena senggol ujung-ujungnya yang kadang > disengaja runcing. Mobil jelas sangat ketakutan karena gesekan dengan > kronjot selalu merugikan. Perilaku pengendara umumnya merasa dirinya naik > motor, sementara lebarnya selebar mobil. Peraturan lalu-lintas tampaknya > perlu dimodifikasi juga, seperti sepeda motor para warga desa berkronjot > itu. Kendaraan pemudik motor bahkan telah menjadi inspirasi para desainer > motot untuk memodifikasi motor yang baru dengan tambahan elemen-elemen yang > meningkatkan kapasitas angkut ketika mudik. Ujungnya: biar motor lebih laku. > > > Tampaknya, fenomena memasuki pola lingkaran teka-teki: mana telur mana ayam > yang lebih dahulu juga nih ! > > Salam, > > Djarot Purbadi > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On *Sat, 12/12/09, Eko B K <[email protected]>* wrote: > > > From: Eko B K <[email protected]> > Subject: [referensi] rural transport di Indonesia? > To: [email protected] > Date: Saturday, December 12, 2009, 11:30 AM > > > > > Bapak, Ibu, referensiers ysh., > > Selain MRT dan sepeda utk memecahkan masalah urban transport, saya kira > kita juga punya masalah dgn rural transport... sayangnya (rasanya) belum > pernah kita diskusikan di milis ini... saya terpikir setelah melihat foto2 > kawan di Jawa Tengah dan Yogya yg memperlihatkan beberapa pickup (yg juga > sudah penuh dgn barang) masih dipenuhi oleh 20 an orang...aneh tapi nyata... > > sungguh miris melihat di era masa kini di mana ada indikasi korupsi ratusan > milyar bahkan triliun rupiah, masih ada sekelompok saudara2 kita yg tidak > hanya dihilangkan haknya utk menikmati transportasi yg nyaman, tapi bahkan > juga yg aman... masalah "keamanan" dlm bertransportasi publik mungkin sudah > sering kita lihat di KA Jabotabek... Tapi rural transport pun ternyata > bermasalah, dan saya tidak tahu banyak ttg ini di Indonesia... kecuali bahwa > pernah ada penelitian di Planologi ITB ttg dampak lingkungan dari rural > transport, yg kalau hipothesis saya sih tidak akan signifikan dampaknya > karena karakter dari rural transport yg merupakan low volume traffic... > menurut saya yg perlu diteliti dr rural transport di Indonesia adalah > keandalannya (ada ketika diperlukan), murahnya (kasus panen mangga di Kediri > yg akhirnya dibiarkan membusuk akibat transportasi yg mahal dan tdk > tersedianya fasilitas pendingin), kenyamanan dan keamanan (kasus manusia yg > dijejal2 di belakang pickup).... dan masalahnya bisa bervariasi antara > wilayah2 di Jawa dan luar Jawa, di dalam pulau dan antar pulau... > > barangkali ada bapak/ibu yg berkenan sharing pengetahuannya, terimakasih. > .. > > salam. > > > > -- Wassalam, IBNU TAUFAN APPMI I Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia I 0816-940978 I Planner & Community Development

