Pak Eko dan temans ysh,
Kalau saya ditanya pilih mana: kuantitatif/ deduktif atau kualitatif induktif.
Dalam hal riset, saya mengidamkan banyaknya hasil riset kualitatif.
Tapi kalau dalam hal perumusan kebijakan, terkait pekerjaan konsultan yang
terikat waktu, biaya, maka milih kuantitatif.
Saya dari dulu terkesan trilogi nya Geertz ttg Mojokuto. Yang menurut saya bisa
menjelaskan bagaimana pola ruang, sosial-ekonomi, budaya itu terbentuk. Kan
bagus kalau bisa diterapkan untuk meneliti fenomena aglomerasi kegiatan ekonomi
spt Jepara, Kemang atau Cihapelas/ Dago/ Riau. Sehingga kalau mau intervensi
pengembangan UMKM, ekonomi lokal, penataan ruang atau perbaikan lingkungan,
kita bisa lebih tepat pendekatannya bagaimana, mualinya dari mana.
Karena pendekatan yang deduktif, seragam, apalagi top-down, ngandelin peraturan
jelas selama ini gak efektif.
Namun, kecuali kita lagi sekolah, atau ada sponsor, kayaknya riset induktif itu
sesuatu yg "mewah" ya.
Tapi saya baca buku aplikasi ethnography dalam bisnis itu juga menarik lho.
Walau tak se"ideal" riset S-3, tapi menunjukkan kegunaan praktis analisis
kualitatif.
Pendapat yang agak campur-campur ya.
Salam,
Risfan Munir