Pak Risfan ysh.,

Mungkin bapak kurang tepat menangkap apa yg saya maksud, sebetulnya yg ingin sy 
ketahui bukan apakah bapak lebih suka penelitian berbasis kuantitatif atau 
kualitatif, tapi apakah bapak setuju dgn pendapat 1. bahwa kualitatif pasti 
subyektif, atau 2. bahwa kualitatif bisa relatif obyektif karena teori akan 
terus diuji, atau 3. bahwa keduanya, kuantitatif dan kualitatif tidak bisa 
terlepas dari subyektivitas...

Saya sendiri condong pada pendapat yg ketiga...

hal yg lain adalah: baik deduksi maupun induksi keduanya bisa kuantitatif 
maupun kualitatif, walaupun memang kalau deduksi lebih dekat ke kuantitatif dan 
induksi ke kualitatif...

sy sepakat dgn bapak bahwa deduksi bisa relatif lebih murah dan cepat dr pd 
induksi...utk fieldwork juga kita bisa lebih memanage waktu dan tentu dana... 
walaupun kalau sudah berpengalaman pasti dgn induksi juga bisa lebih 
termanage...

salam..

--- On Sat, 12/19/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
To: [email protected]
Date: Saturday, December 19, 2009, 12:37 PM







 



  


    
      
      
      Pak Eko dan temans ysh,



Kalau saya ditanya pilih mana: kuantitatif/ deduktif atau kualitatif induktif. 
Dalam hal riset, saya mengidamkan banyaknya hasil riset kualitatif. 

Tapi kalau dalam hal perumusan kebijakan, terkait pekerjaan konsultan yang 
terikat waktu, biaya, maka milih kuantitatif.



Saya dari dulu terkesan trilogi nya Geertz ttg Mojokuto. Yang menurut saya bisa 
menjelaskan bagaimana pola ruang, sosial-ekonomi, budaya itu terbentuk. Kan 
bagus kalau bisa diterapkan untuk meneliti fenomena aglomerasi kegiatan ekonomi 
spt Jepara, Kemang atau Cihapelas/ Dago/ Riau. Sehingga kalau mau intervensi 
pengembangan UMKM, ekonomi lokal, penataan ruang atau perbaikan lingkungan, 
kita bisa lebih tepat pendekatannya bagaimana, mualinya dari mana.

Karena pendekatan yang deduktif, seragam, apalagi top-down, ngandelin peraturan 
jelas selama ini gak efektif.



Namun, kecuali kita lagi sekolah, atau ada sponsor, kayaknya riset induktif itu 
sesuatu yg "mewah" ya. 



Tapi saya baca buku aplikasi ethnography dalam bisnis itu juga menarik lho. 
Walau tak se"ideal" riset S-3, tapi menunjukkan kegunaan praktis analisis 
kualitatif.



Pendapat yang agak campur-campur ya.



Salam,

Risfan Munir





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke