Dr.ref Aby ysh,

Kalau diperhatikan, sebenarnya kita ini lebih berbentuk komunitas
(communitas), yang menurut si-empunya istilah, Victor Turner (1969)
berasal dari bahasa Latin untuk membedakannya dengan istilah community.
Atau diistilahkan "society as an unstructured or rudimentarily
structured and relatively undifferentiated comitatus, community, or even
communion of equal individuals who submit together to the general
authority of the ritual elders". Biasanya komunitas terbentuk secara
otomatis dalam proses ritual yang sedang memasuki kondisi liminal,
ketika semua peserta berkedudukan sama. Dalam suku Ndembu di Zambia,
pemimpin ritual malah berdiri di tempat yang lebih rendah untuk
menunjukkan posisinya yang tidak terlalu istimewa. Selebihnya adalah
sesuatu yang dilakukan secara sukarela, yang menunjukkan partisipasi
sebagai bagian dari ritual, dsb.

Memperhatikan tanggapan bapak di bawah ini, saya memperhatikan ketegasan
dan semangat untuk menegakkan disiplin, sesuatu yang akan saya bahas
sebentar lagi. Ada kesukarelaan bapak di dalam komunitas ini untuk
melakukan peran dalam rite de passage, sehingga sepantasnya bapak
menjadi 'polisi' di milis ini. Mudah-mudahan dengan peran ini jalannya
lalu lintas diskusi di milis ini menjadi lancar, kan modalnya cuman
sempritan, kalau klakson kita semua punya. Demikian sementara waktu pak.
Salam.

-ekadj


--- In [email protected], hengky abiyoso <watashi...@...> wrote:
>
> “……. Pak Eka, mau nambahin. Dalam diskusi, kalau berbeda
pendapat, langsung saja didebat secara substansial, jangan men-stigmasi
: tidak nasional,
> tidak berwawasan, planner yang memalukan,
....dsb……….”
> Â
> Please sambil silahkan membuka2 lagi file debat terkait….. Kalau
pendapat yg beda itu justru diawali oleh pihak lain dgn materi yg gak
substansial… tapi  lalu loncat ke  lagu dangdut …
sudah begitu pake dirubah2 pula syairnya sambil bernada melecehkan Â
(“.. kau yg memulai .. kau yg mengakhiri… kau yang
menghamili… kau yang mengaborsi….”)….. apakah
tidak pantaskah  kalau pendapat balik yg dikeluarkan itu  justru
utk  menanggapi kembali ‘pendapat yg gak substansial  dan
bernada melecehkan itu? …..
> Yg tidak fair disini adalah saya sdh sekian kali disinggung oleh lbh
dari 1 milister sbg terlalu mudah mengeluarkan stigma…. Tapi asal
muasal atau sebab musabab dari itu samasekali tidak dibahas atau
disinggung lagi oleh para pengecam saya……kalau mau bersikap
fair..... mari buka kembali file lama dan baca ulang dgn saksama...
tolong ketemukan dan tunjuk... dimana dan oleh siapa bermulanya pendapat
yg tak substansial itu?....bila perlu debat lama itu bisa dilanjut.....
>  lagipula HAM ya HAM…. Tapi khan  juga ada
rambu2nya…. Contoh : mereka yg menyalurkan HAMnya dibidang mencuri
atau memperkosa misalnya pasti akan digebukin massa kalau
tertangkap…...
> Negara ini dibangun dgn susah payah dan dgn kurban ribuan nyawa... ada
jg  masih hidup tapi hilang kakinya , tangannya, matanya, hilang
anaknya, hilang suaminya  utk itu….. sampai saat inipun negara
ini masih blangsak... wajar bhw ada yg tersentuh ketika ada yg anggap
enteng dan main2 Â dgn nasionalisme... yg itu jg bagian dari
pendapat....
> Ttg 'planner yg memalukan' .... kalau memang itu ada.... apa Â
salahnya jg utk disebutkan sbg kritik membangun.... Â sama saja spt
intelektual dari disiplin ilmiah lain  kalau tercela jg patut
dikecam.... planner dimata rakyat bahkan dimata intelektual lain masih
dipandang gak jelas sumbangannya bg pembangunan nasional.... bukankah
justru  memalukan kalau dikritik sedikit saja sudah merajuk lalu
minta disayang2 dan diistimewakan spt anak balita ….memangnya Â
harus diteristimewakan macem bagaimana?.... negara ini sdh cukup lama
porak poranda dirusak oleh orba.... saat ini adalah bagian dari upaya
restorasi atau upaya membangun kembali negeri dan bangsa ini…..
bagi yg telah dibesarkan dibumi indonesia ini apalagi dgn berbagai
fasilitas terbaik negeri ini... dan merasakan 'mukti' sbg hasil dari
kemerdekaan ini.... bahkan termasuk juga bapak ibunya... tapi lalu
gak mau ambil bagian dan sekedar mau menikmati saja hidup diatas situasi
porak poranda
> negeri ini  tentu saja  gak apa-apa..… HAM dan
HAM..... tapi janganlah malah melecehkan makna nasionalisme yg mendasari
upaya perjuangan kemerdekan negeri ini....yg notabene jg sudah dibayar
dgn ribuan nyawa dan ribuan cacat tubuh permanen…….
>
> --- On Sun, 12/27/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Re: Harapan untuk Komunitas Referensi (2009)
> To: [email protected]
> Date: Sunday, December 27, 2009, 5:19 PM
>
> Baik Pak BTS, saran bapak akan saya perhatikan. Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Btatas" btatas@ wrote:
> >
> > Pak Eka, mau nambahin. Dalam diskusi, kalau berbeda pendapat,
langsung
> saja didebat secara substansial, jangan men-stigmasi : tidak nasional,
> tidak berwawasan, planner yang memalukan, ....dsb.
> >
> > Thanks. CU. BTS.



Kirim email ke