Pak Risfan dan Pak Eko ysb.

Saya kira kita sudah menemukan titik-titik kejelasan untuk memecahkan
permasalahan Jakarta, yang saya coba simpulkan sbb :

1 Pembangunan public transport yang lebih baik (Eko BK)

2 Pembangunan infrastruktur banjir yang memadai (Eko BK)

3 Memindahkan sebagian penduduk Jakarta untuk antisipasi bencana (Eko
BK)

4 Memindahkan penduduk Jawa melalui program transmigrasi (Eko BK)

5 Memindahkan fungsi ibukota negara (Risfan M)

6 Memanfaatkan efek otonomi daerah (Risfan M)

7 Pembangunan dan pengembangan wilayah jauh di luar Jakarta seperti
Indonesia Timur (Risfan M)

8 Pembangunan industri dalam rangka reposisi ekonomi global di berbagai
wilayah di luar kota-kota besar (Risfan M).

Wah, sudah cukup banyak agenda solusi, dan ternyata memang harus
'diserahkan kepada ahlinya'. Berarti juga tugas agenda 100 hari di milis
ini sudah selesai. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Risfan Munir <risf...@...> wrote:
>
> Pak Ekadj dan rekans ysh,
>
> Mohon maaf kalau saya punya pendapat lain soal pemindahan ibukota ini.
> Perasaan saya ide ini, juga jembatan Selat-Sunda tak lepas dari eforia
setelah kemenangan pada Pemilu kemarin.
>
> Logikanya dengan dukungan politik yang ada, saatnya membangun dalam
skala besar, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga
kerja dalam jumlah besar. New Deal lah. Sesuatu yang rasional, karena
dari sebelumnya dipercaya bhw pembangunan infrastruktur skala besar sbg
salah satu jalan keluar persoalan ekonomi.
>
> Yang dirasakan a.l. Kelancaran administrasi pemerintahan terganggu
karena "ibu kota" ada di Jakarta yang selalu macet dan banjir. Jadi
sebaiknya dipindah supaya "ibukota berfungsi lancar". Tidak terkendala
masalah Jakarta.
>
> Teman-teman planner asyik "membaca yang ingin dibacanya": Pemindahan
untuk atasi masalah Jakarta. Pemindahan sebagai peluang bikin
counter-magnet.
> Tidak! Tujuannya untuk kelancaran ibukota itu sendiri.
> Menyelesaikan masalah Jakarta itu soal lain.
>
> Kedua, kepada rekan Wilmar. Mohon maaf justifikasi pemindahan
ibukotanya kok spt "burung onta". Kalau kepalanya diamankan, aman pula
badannya. Ibukotanya "hijrah" ke suasana baru, era baru. Lha rakyatnya
kan tetap di tempat yang sama. Jangan-jangan malah membuat pemimpin
negeri ini jauh dari yang dirasakan rakyatnya.
>
> Sebagian besar pendapat juga masih pada paradigma lama. Pemerintah
pusat, pemerintah pusat, dan pemerintah pusat. Padahal dengan otonomi
daerah ketergantungan pada pusat mungkin lambat laun akan beda. Kita
juga belum tahu kalau "departemen jadi kementerian" semua, barangkali
fungsi Ibukota juga lebih terbatas pada "kawasan perkantoran" kepala
negara, para menteri, duta besar dan sedikit para penasihat dan
asistennya. Selebihnya yang operasional, lokasinya tidak harus di tempat
yang sama. Sehingga ibukota ini bisa cukup sebagai "kawasan
pemerintahan" di antara Balaraja dengan Serang sana, kalau akses ke
bandara jadi pegangan.
>
> Tapi sekali lagi, kembali ke asumsi eforia. Apakah niat itu masih akan
konsisten sepanjang waktu.
> Kalau saya boleh berpendapat, dana yang ada lebih baik untuk
memperbaiki sektor energi khususnya tenaga listrik. Rasa ketimpangan
antar daerah sekarang nyata pd ketimpangan ketersediaan listrik.
> Kedua, bangun full armada perkapalan di kawasan timur Indonesia.
Sehingga tidak ada kendala hubungan antar pulau.
> Dari kedua pembangunan itu juga tenaga kerja tercipta banyak,
pertumbuhan ekonomi dipacu. Pemerataan lebih jelas.
> Ketiga, siapkan diri menghadapi FTA China-Asean yang implikasinya
sangat besar bagi nasib industri kita, kalau mereka terpukul akhirnya
membanjir ke kota-kota besar lagi.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> --- In [email protected], Eko B K ekobudik@ wrote:
> >
> > Dear all,
> >
> > Saya sependapat dgn Koko dan Pak BTS, pemindahan masalah ibu kota
kita
> lihat urgensinya dulu...
> >
> > Memecahkan masalah Jakarta, masalah apa?
> >
> > Masalah transportasi? apakah harus dgn memindahkan ibu kota? Tidak
> bisakah dgn pembangunan public transport yg lebih baik (subway,
> monorail, tramway, dll)? Kalau ibu kota dipindahkan apakah dgn
demikian
> Jakarta dibiarkan sendirian dgn masalahnya? Kalau Jakarta ditangani
dan
> ibu kota dipindahkan, punya uangkah kita?
> >
> > Masalah banjir? Tidak bisakah ditangani dgn pembangunan
infrastruktur
> banjir yg memadai? Kalau ibu kota dipindahkan apakah Jakarta lalu
> dibiarkan? Kalau ditangani keduanya, adakah uangnya?
> >
> > Masalah gempa, meledaknya krakatau, ibu kota kalau begitu harus jauh
> dr Jakarta, tidak bisa di Tangerang, Jonggol, dst... Tapi lalu apakah
> ibu kotanya dipindah dan Jakarta dibiarkan saja dgn resiko seperti
itu?
> yah kalau penduduk Jakarta banyak yg mati itu salah sendiri kenapa tdk
> mau pindah, begitukah?...
> >
> > Masalah Jawa sudah padat penduduknya. Mengapa ibu kotanya yg
dipindah?
> Mengapa bukan manusianya yg dipindah dgn transmigrasi?
> >
> > Belajar dr pengalaman negara lain dan sejarah bangsa sendiri perlu,
> tetapi masalah kita yg spesifik lah yg perlu didalami sebelum
> memutuskan...
> >
> > Sekali lagi saya tdk anti ide pemindahan ibu kota, tapi saya kok
> menangkap kesan kita putus asa dgn masalah Jakarta lalu hendak
melarikan
> diri (maaf kalau kesan saya salah)... Kenapa masalahnya tdk kita
hadapi
> head on? Apakah dgn memindahkan ibu kota lalu Jakarta kita biarkan?
> Kalau tdk kita biarkan artinya kita punya 2 pengeluaran negara yg
besar:
> (1) mengatasi masalah Jakarta dan (2) memindahkan ibu kota...
> >
> > ini masalah keterbatasan anggaran dan opportunity cost... ketika
angka
> kematian ibu dan bayi di beberapa propinsi masih tinggi, kemiskinan
dan
> pengangguran yg signifikan, tingkat persaingan dgn China dan Vietnam
yg
> menajam, krisis ekonomi yg belum sepenuhnya pulih, dst... tentu kalau
> anggaran pemerintah kita tdk terbatas tidak ada masalah...
> >
> > salam.
>



Kirim email ke