Pak Eka dan rekan-rekan ysh, Terima kasih, rupanya sudah banyak yang dibahas di sini. Sayang saya tidak bisa mengakses modelnya.
Ttg Palangkaraya, silakan baca keterangan Wijanarka berikut: http://www.unika.ac.id/warta/05082006.htm. Selain itu kondisi politik dan perekonomian juga tidak memungkinkan saat itu. Kalau sekarang, apabila perhitungan rekan-rekan membangun ibukota baru hanya butuh Rp. 20 T itu masih akurat, it's a peanut. Dengan memotong anggaran Dephankam dan Polri masing2 5% saja dan memfokuskan 10% anggaran PU untuk ibukota baru maka dalam 3 tahun selesai pembangunannya. Bila diawali dengan studi yang matang serta penentuan lokasi di tahun 2010, lalu konstruksi 2011-2013, lalu proses transisi di 2014, tahun 2015 kita bisa merayakan hari kemerdekaan ke-70 di ibukota baru. Tentu ini hanya di Republik Mimpi hihi.. Salam, Wilmar --- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote: > > > Pak Wilmar ysb, > > Saya kira tidak, anda banyak memberikan pencerahan baru di sini. Saya > masih penasaran dengan analisis anda via Deden mengenai Palangkaraya > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5425> , suatu waktu > tolong dibabarkan. > > Mengenai berbagai pendekatan dan pertimbangan, benar telah banyak > diuraikan. Selain permasalahan sosial-politik-ekonomi yang bisa > diperdebatkan, ada hal-hal yang sangat mendasar dari gagasan pemindahan > itu, seperti terakhir salah satu telah anda ungkapkan, namun perlu > narasi yang bagus untuk diungkapkan secara ilmiah. Saya dan Pak Wawo > sebenarnya telah hampir sampai pada suatu kesepakatan > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5297> , serta berbagai > kaitan <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5295> untuk > sampai ke situ. Sehingga berdasarkan teori Waworoentoe 2008, tidak ada > yang perlu diragukan tentang kesetimbangan ruang akibat pemindahan > lokasi itu. Dan mengenai syarat dan kriteria lokasi itu, saya juga > toleran dengan teori itu (500-800 m, serta bisa dimanapun), dan kalau > boleh menambahkan di tahun 2009 ini adalah: nilai ruang/nilai lahan ~ 0 > (mendekati 0). Saya cenderung pada prasyarat : "... 1 Akademisi telah > berhasil menyumbang `teori dan aplikasi nilai lahan' dalam penataan > ruang kota yang efisien dan ekonomis; 2 Konsultan telah mampu menghitung > dalam satuan m2 (meter persegi) berikut tingkat ketelitiannya dari > rujukan citra 1:1000; 3 Pemerintah telah mampu menganggarkan 1T/tahun > untuk pembangunan infrastruktur utama; 4 Harapan masyarakat dalam hal > ini diwakili oleh komitmen yang kuat dari Kepala Negara untuk melakukan > hal itu pada awal masa pemerintahannya. ...". Kelihatannya dari 4 itu, > hanya point 1 dan 2 yang bermasalah; namun dalam 3 tahun terakhir ini > konsultan2 PZ terutama di wilayah saya sudah banyak berlatih. Dan untuk > point 1 sedang kita coba memodelkannya > <http://groups.yahoo.com/group/perkotaan/message/429> , serta diskusi > dan rumusannya belum selesai, mudah-mudahan 2010. Nah, dengan beberapa > progres ini, mohon anda kembangkan lagi dan dapat menjadi masukan untuk > tim-nya Pak Alim, Pak Koes, Pak Aby, Mbak Nita, dkk. Mungkin Pak Eko, > Pak BTS, dkk juga akan memberikan masukan serupa kepada tim. Termasuk > Pak Djarot dkk sepertinya. > > Sementara demikian dulu. Salam erat. Happy New Year 2010. > > -ekadj > > > --- In [email protected], "wilmarsalim" <wilmar@> wrote: > > > > Pak Eka yth, > > > > Terima kasih atas rujukannya ke diskusi di masa lalu. Mohon maaf kalau > apa yang saya sampaikan hanya mengulang apa yang pernah dibahas. > > > > Mengenai saran lokasi, saya pikir saya lebih percaya kalau sebaiknya > kita bangun kriterianya bersama (barangkali inipun sudah dibahas > sebelumnya), lalu dari sana kita dapatkan lokasi potensialnya dari > usulan pemda. Ini akan membuat daerah punya rasa memiliki ibukota > negaranya. > > > > Kalau belajar dari Brasilia dan Islamabad, yang satu pendekatan > metafisik satunya lagi historis. Saya pikir Bung Karno dulu itu sudah > hebat menentukan letak Palangkaraya secara geografis/geometris, > melepaskan diri dari hal metafisik yang sangat kental dalam kosmologi > nusantara, maupun aspek historis. Untuk Indonesia di masa depan saya > kira kita bersama bisa lebih baik merumuskan kriteria sebuah ibukota. > > > > Salam, > > > > Wilmar > >

