Bagaimana opportunity cost 20T itu?

Kalau 20T, knapa gak dikasih ajah ke KTI, buat bangun2 macam2, jadi stimulus. 
Daripada pindah ibukota ke palangkaraya.

Bagaimana?
Hehehe
»»»  digowes dari Rempoa dengan BikeBerry® ~  Genjot Teruuusss...!!!

-----Original Message-----
From: "wilmarsalim" <[email protected]>
Date: Wed, 30 Dec 2009 23:57:04 
To: <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Ibukota baru, Palangkaraya, dana

Pak Eka dan rekan-rekan ysh,

Terima kasih, rupanya sudah banyak yang dibahas di sini. Sayang saya tidak bisa 
mengakses modelnya.

Ttg Palangkaraya, silakan baca keterangan Wijanarka berikut: 
http://www.unika.ac.id/warta/05082006.htm. Selain itu kondisi politik dan 
perekonomian juga tidak memungkinkan saat itu. 

Kalau sekarang, apabila perhitungan rekan-rekan membangun ibukota baru hanya 
butuh Rp. 20 T itu masih akurat, it's a peanut. Dengan memotong anggaran 
Dephankam dan Polri masing2 5% saja dan memfokuskan 10% anggaran PU untuk 
ibukota baru maka dalam 3 tahun selesai pembangunannya. Bila diawali dengan 
studi yang matang serta penentuan lokasi di tahun 2010, lalu konstruksi 
2011-2013, lalu proses transisi di 2014, tahun 2015 kita bisa merayakan hari 
kemerdekaan ke-70 di ibukota baru. Tentu ini hanya di Republik Mimpi hihi..

Salam,

Wilmar

--- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
> 
> Pak Wilmar ysb,
> 
> Saya kira tidak, anda banyak memberikan pencerahan baru di sini. Saya
> masih penasaran dengan analisis anda via Deden mengenai Palangkaraya
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5425> , suatu waktu
> tolong dibabarkan.
> 
> Mengenai berbagai pendekatan dan pertimbangan, benar telah banyak
> diuraikan. Selain permasalahan sosial-politik-ekonomi yang bisa
> diperdebatkan, ada hal-hal yang sangat mendasar dari gagasan pemindahan
> itu, seperti terakhir salah satu telah anda ungkapkan, namun perlu
> narasi yang bagus untuk diungkapkan secara ilmiah. Saya dan Pak Wawo
> sebenarnya telah hampir sampai pada suatu kesepakatan
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5297> , serta berbagai
> kaitan <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5295>  untuk
> sampai ke situ. Sehingga berdasarkan teori Waworoentoe 2008, tidak ada
> yang perlu diragukan tentang kesetimbangan ruang akibat pemindahan
> lokasi itu. Dan mengenai syarat dan kriteria lokasi itu, saya juga
> toleran dengan teori itu (500-800 m, serta bisa dimanapun), dan kalau
> boleh menambahkan di tahun 2009 ini adalah: nilai ruang/nilai lahan ~ 0
> (mendekati 0). Saya cenderung pada prasyarat : "... 1 Akademisi telah
> berhasil menyumbang `teori dan aplikasi nilai lahan' dalam penataan
> ruang kota yang efisien dan ekonomis; 2 Konsultan telah mampu menghitung
> dalam satuan m2 (meter persegi) berikut tingkat ketelitiannya dari
> rujukan citra 1:1000; 3 Pemerintah telah mampu menganggarkan 1T/tahun
> untuk pembangunan infrastruktur utama; 4 Harapan masyarakat dalam hal
> ini diwakili oleh komitmen yang kuat dari Kepala Negara untuk melakukan
> hal itu pada awal masa pemerintahannya. ...". Kelihatannya dari 4 itu,
> hanya point 1 dan 2 yang bermasalah; namun dalam 3 tahun terakhir ini
> konsultan2 PZ terutama di wilayah saya sudah banyak berlatih. Dan untuk
> point 1 sedang kita coba memodelkannya
> <http://groups.yahoo.com/group/perkotaan/message/429> , serta diskusi
> dan rumusannya belum selesai, mudah-mudahan 2010. Nah, dengan beberapa
> progres ini, mohon anda kembangkan lagi dan dapat menjadi masukan untuk
> tim-nya Pak Alim, Pak Koes, Pak Aby, Mbak Nita, dkk. Mungkin Pak Eko,
> Pak BTS, dkk juga akan memberikan masukan serupa kepada tim. Termasuk
> Pak Djarot dkk sepertinya.
> 
> Sementara demikian dulu. Salam erat. Happy New Year 2010.
> 
> -ekadj
> 
> 
> --- In [email protected], "wilmarsalim" <wilmar@> wrote:
> >
> > Pak Eka yth,
> >
> > Terima kasih atas rujukannya ke diskusi di masa lalu. Mohon maaf kalau
> apa yang saya sampaikan hanya mengulang apa yang pernah dibahas.
> >
> > Mengenai saran lokasi, saya pikir saya lebih percaya kalau sebaiknya
> kita bangun kriterianya bersama (barangkali inipun sudah dibahas
> sebelumnya), lalu dari sana kita dapatkan lokasi potensialnya dari
> usulan pemda. Ini akan membuat daerah punya rasa memiliki ibukota
> negaranya.
> >
> > Kalau belajar dari Brasilia dan Islamabad, yang satu pendekatan
> metafisik satunya lagi historis. Saya pikir Bung Karno dulu itu sudah
> hebat menentukan letak Palangkaraya secara geografis/geometris,
> melepaskan diri dari hal metafisik yang sangat kental dalam kosmologi
> nusantara, maupun aspek historis. Untuk Indonesia di masa depan saya
> kira kita bersama bisa lebih baik merumuskan kriteria sebuah ibukota.
> >
> > Salam,
> >
> > Wilmar
> >



Kirim email ke