Sebagai tambahan Pak Wilmar, bila anda masih di Hawaii, bisa komunikasi dengan Uli Kozok <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3432> yang sudah meneliti Kerinci dan Yogya. Salam.
-ekadj --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak Wilmar, jika benar yang digunakan pertimbangan adalah kesetimbangan "wilayah negara" dan konsep "pusat bangsa" yang kemudian terungkap pada salah satu konsep penting yaitu perlunya "titik tengah", tampaknya ada kaitan dengan referensi tradisional tentang titik tengah yang umum di nusantara atau bangsa-bangsa lain. Disini berimpit dua hal yaitu persoalan fungsional dan simbolis, maka referensinya tentu sangat banyak, tidak hanya geometri, geografi, estetika keruangan, simbolisme nasional dsb. > > Saya jadi ingat pada Pangeran Mangkubumi ketika menentukan Yogyakarta sebagai kraton bagi dirinya dan kerajaan yang dikuasainya. Ada referensi dari khasanah budaya Jawa (mistik, wangsit tempat, legenda tempat, metafisika), ada dari khasanah Hindu (orientasi gunung-laut), juga gagasan pertahanan diri (kraton diapit dua sungai, sisi utara sebagai gerbang, konsep satu pintu), termasuk spiritualitas kejawen (keblat papat-limo pancer) yang masih lestari hingga saat ini (kota Yogyakarta (sultan) dikelilingi oleh empat kabupaten (bupati), dan tradisi Sultan Agung berupa "magersari" dan hirarki / struktur sosial masyarakatnya. Saya juga menduga, penentuan Yogyakarta sebagai pusat kerajaan juga ada referensi Feng Shui, tetapi sekarang buktinya memang belum ditemukan. > > Tentu benar bahwa penentuan ibukota Indonesia sangat berbeda dengan kraton Yogyakarta, tetapi pastilah ada referensi-referensi yang digunakan si Bung ketika dia berpikir secara "intuitif" (yang kita ketahui hasilnya saja, tanpa tahu proses dan referensinya). Saya pikir sangat menarik untuk menelusuri kembali cara beliau menganalisis, kok muncul kesimpulan Palangkaraya. JIka ada yang mampu menjelaskan, pastilah akan sangat menarik. Ada apa di Palangkaraya atau ada apa di benak si Bung kok memilih Palangkaraya ? Apakah karena "palang" sebagai sebuah persilangan (titik tengah) dan "karaya" yang mungkin arti dan maknanya adalah kaya dan sejahtera ? Pak pertanyaan yang terakhir ini hanya guyonan.... > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Thu, 12/31/09, wilmarsalim wil...@... wrote: > > From: wilmarsalim wil...@... > Subject: [referensi] Re: Ibukota baru dan BK > To: [email protected] > Date: Thursday, December 31, 2009, 4:43 AM > > Sebelumnya saya ingin mengucapkan Innalilahi wa inna ilaihi rojiun atas wafatnya Presiden Abdurahman Wahid. > > > > Pak Djarot ysh, salam kenal juga.. > > > > Saya pikir Bung Karno (BK) sangat tahu metafisik, tetapi lebih mengekspresikan daya estetikanya dalam ruang publik. Dalam kunjungan ke Istana Tampaksiring beberapa waktu lalu saya belajar dari tour guide saya ttg bagaimana 'cerdasnya' BK memilih lokasi istana ini di mana di sana terdapat pemandian air suci dan gedung istana dibangun di atas 2 bukit yang dihubungkan dengan jembatan. Ada makna-makna tersirat di dalamnya. Termasuk seloroh si tour guide kalau dari kamar tidur BK beliau bisa langsung memandang ke arah pemandian putri di bawah. Kita tahulah kualitas lain si Bung ini. > > > > Ttg Palangkaraya, yang saya baca visi BK adalah menjadikannya sebagai simbol "pusat bangsa" yang memang tepat berada di tengah-tengah Indonesia pada saat itu. Kalau kita lihat koordinat bujur dan lintang Palangkaraya (113 BT, 2 LS) kira-kira memang tepat di pusat Indonesia yang pada saat itu belum memiliki Irian Barat. Saya kurang tahu apakah ada kearifan lain yang BK pahami saat itu, tapi bukankah mencari titik kesetimbangan adalah sebuah bentuk kearifan juga? (dalam kosmologi Hindu, tubuh memiliki beberapa titik kesetimbangan, Chakra, sebagai pusat kekuatan). Mungkin BK juga paham ttg ini, jadi bukan sekedar estetika kesetimbangan geometris yang dipelajarinya di bangku kuliahnya. > > > > Wallahualam, > > > > Wilmar > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote: > > > > > > Dear Pak Wilmar, salam kenal. > > > > > > kebetulan saja saya kemarin diskusi dengan seorang sahabat saya wartawan Kompas yang muda dan hebat, sebab dia telah berhasil menulis buku tentang Jurnalisme Bencana yang akan diterbitkan dalam waktu dekat. Buku itu berbasis pengalaman dirinya ketika meliput Aceh yang terlanda tsunami dan dia masuk pada hari-hari pertama, ketika semuanya serba hancur. > > > > > > Teman saya ini menaruh perhatian serius pada legenda atau mitos tradisional yang ternyata mengandung pengetahuan lokal. Dia punya semacam hipotesis bahwa di kalangan masyarakat lokal yang rawan bencana terdapat mitos-legenda masa lalu yang mengandung informasi tentang kejadian-kejadian penting di masa lalu khususnya tentang bencana lokal. Ada mitos di tempat tertentu di kawasan pantai tertentu tentang datangnya raksasa dari laut yang menghancurkan suatu desa. Ada mitos di Nias (kalau nggak salah ingat) yang menjelaskan bahwa ketika ada gerakan bumi orang harus secepatnya lari ke tempat tertinggi. Kebetulan saja, dia menemukan bukti empiris tentang mitos dan kejadian di Nias itu. > > > > > > Saya hanya ingin menunjukkan bahwa pujian anda kepada Bung Karno yang melepaskan diri dari aspek metafisik barangkali benar, tetapi apakah benar pertimbangannya sungguh sama sekali tidak dikaitkan dengan metafisik. Mitos lokal di nusantara memang kadang sarat dengan aspek metafisik, tetapi itu hanya salah satu sisinya yang tidak dapat tidak harus ada karena keterbatasan bahasa pengungkapan. Substansinya saya kira harus dipahami terlebih dahulu, apakah melulu metafisika ataukah ada pesan dari generasi masa lalu yang disimpan dan dikemas di dalam mitos-legenda. > > > > > > Teman saya wartawan Kompas itu bahkan ingin meneliti kaitan antara mitos lokal yang tersebar di wilayah rawan bencana, barangkali ingin mengungkapkan apakah ada pesan masa lalu yang disimpan di dalamnya berkaitan dengan kearifan lokal manajemen bencana (manajemen bencana lokal). Kita tahu, mitos tentang "Dewi Laut Selatan" ada dan tersebar di sepanjang pantai sejak dari Banyuwangi hingga Aceh dan kita juga tahu dari ilmu-ilmu positif wilayah itu adalah ring of fire yang sangat rapuh dan berbahaya. Tentu penyelidikannya akan sangat menarik, sebab analisisnya akan melampaui mitos sebagai mitos, melainkan dikaitkan dengan kearifan lokal menghadapi bencana. > > > > > > Saya malah berpikir, jangan-jangan Bung Karno justru memiliki dan percaya pada mitos-legenda tertentu ketika memilih atau menentukan calon ibukota di Palangkaraya !!!! > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > > > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > > > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > > > > > --- On Wed, 12/30/09, wilmarsalim wilmar@ wrote: > > > > > > From: wilmarsalim wilmar@ > > > Subject: [referensi] Re: Ibukota baru dan Hijrah > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Date: Wednesday, December 30, 2009, 3:29 PM > > > > > > > > > > > > > > > Pak Eka yth, > > > > > > > > > > > > Terima kasih atas rujukannya ke diskusi di masa lalu. Mohon maaf kalau apa yang saya sampaikan hanya mengulang apa yang pernah dibahas. > > > > > > > > > > > > Mengenai saran lokasi, saya pikir saya lebih percaya kalau sebaiknya kita bangun kriterianya bersama (barangkali inipun sudah dibahas sebelumnya), lalu dari sana kita dapatkan lokasi potensialnya dari usulan pemda. Ini akan membuat daerah punya rasa memiliki ibukota negaranya. > > > > > > > > > > > > Kalau belajar dari Brasilia dan Islamabad, yang satu pendekatan metafisik satunya lagi historis. Saya pikir Bung Karno dulu itu sudah hebat menentukan letak Palangkaraya secara geografis/geometris , melepaskan diri dari hal metafisik yang sangat kental dalam kosmologi nusantara, maupun aspek historis. Untuk Indonesia di masa depan saya kira kita bersama bisa lebih baik merumuskan kriteria sebuah ibukota. > > > > > > > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > Wilmar

