Pak Wilmar saya potong sebentar, saya kurang tahu kalau Hawaii itu
dekatan dengan Mekkah. Mengenai hijrah
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/978>  ini, kok
solusinya sama dengan usulan saya dulu
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1091> ? Mengenai saran
lokasi, anda yang dalam posisi down atau bottom boleh dong kasih
pendapat. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "wilmarsalim" <wil...@...> wrote:
>
> Pak Risfan yth,
>
> Pada saat reformasi dimulai tahun 1998 saya melihat hal itu tidak akan
berjalan kalau faktor kedekatan jarak yang mempermudah kolusi dan
korupsi penguasa dan pengusaha tidak diputus terlebih dahulu. Makanya
saat itu saya menganalogikan dengan peristiwa Hijrah, yang saya pahami
sebagai fase untuk menarik diri, menjaga jarak dari praktek-praktek yang
kurang benar, untuk menata masyarakat menjadi madani, lalu memberikan
teladan pada seluruh bangsa. Ini bukan berarti meninggalkan seluruh
jazirah dan bangs Arab dalam kegelapannya kan? Mekkah, di mana Kabah
berada, tetap dijadikan pusat dunia Islam, yang beberapa tahun sesudah
Hijrah 'terbebaskan' dari kebathilan. Saya jadi kurang mengerti dengan
analogi burung onta yang bapak maksud. Mohon penjelasan.
>
> Selanjutnya, saya sepakat dengan pendapat bapak bahwa sebuah ibukota
tidak perlu besar ukurannya, lebih kompak lebih baik. Kita perlu
memikirkan kriteria apa saja untuk dapat menjadi ibukota yang baik.
Kalau masalah lokasinya, justru dalam era desentralisasi ini sebaiknya
kita tidak menentukan secara top-down seperti itu. Skema yang saya
bayangkan adalah secara bersama dibicarakan kriteria ibukota baru
tersebut, kemudian ditawarkan kepada pemerintah daerah, siapa yang dapat
menyediakan lokasinya, sesuai kriteria yang disepakati. Pembiayaan
seminimal mungkin bisa menjadi salah satu kriterianya.
>
> Salam,
>
> Wilmar
>
> --- In [email protected], Risfan Munir risfano@ wrote:
> >
> > Pak Ekadj dan rekans ysh,
> >
> > Mohon maaf kalau saya punya pendapat lain soal pemindahan ibukota
ini.
> > Perasaan saya ide ini, juga jembatan Selat-Sunda tak lepas dari
eforia setelah kemenangan pada Pemilu kemarin.
> >
> > Logikanya dengan dukungan politik yang ada, saatnya membangun dalam
skala besar, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga
kerja dalam jumlah besar. New Deal lah. Sesuatu yang rasional, karena
dari sebelumnya dipercaya bhw pembangunan infrastruktur skala besar sbg
salah satu jalan keluar persoalan ekonomi.
> >
> > Yang dirasakan a.l. Kelancaran administrasi pemerintahan terganggu
karena "ibu kota" ada di Jakarta yang selalu macet dan banjir. Jadi
sebaiknya dipindah supaya "ibukota berfungsi lancar". Tidak terkendala
masalah Jakarta.
> >
> > Teman-teman planner asyik "membaca yang ingin dibacanya": Pemindahan
untuk atasi masalah Jakarta. Pemindahan sebagai peluang bikin
counter-magnet.
> > Tidak! Tujuannya untuk kelancaran ibukota itu sendiri.
> > Menyelesaikan masalah Jakarta itu soal lain.
> >
> > Kedua, kepada rekan Wilmar. Mohon maaf justifikasi pemindahan
ibukotanya kok spt "burung onta". Kalau kepalanya diamankan, aman pula
badannya. Ibukotanya "hijrah" ke suasana baru, era baru. Lha rakyatnya
kan tetap di tempat yang sama. Jangan-jangan malah membuat pemimpin
negeri ini jauh dari yang dirasakan rakyatnya.
> >
> > Sebagian besar pendapat juga masih pada paradigma lama. Pemerintah
pusat, pemerintah pusat, dan pemerintah pusat. Padahal dengan otonomi
daerah ketergantungan pada pusat mungkin lambat laun akan beda. Kita
juga belum tahu kalau "departemen jadi kementerian" semua, barangkali
fungsi Ibukota juga lebih terbatas pada "kawasan perkantoran" kepala
negara, para menteri, duta besar dan sedikit para penasihat dan
asistennya. Selebihnya yang operasional, lokasinya tidak harus di tempat
yang sama. Sehingga ibukota ini bisa cukup sebagai "kawasan
pemerintahan" di antara Balaraja dengan Serang sana, kalau akses ke
bandara jadi pegangan.
> >
> > Tapi sekali lagi, kembali ke asumsi eforia. Apakah niat itu masih
akan konsisten sepanjang waktu.
> > Kalau saya boleh berpendapat, dana yang ada lebih baik untuk
memperbaiki sektor energi khususnya tenaga listrik. Rasa ketimpangan
antar daerah sekarang nyata pd ketimpangan ketersediaan listrik.
> > Kedua, bangun full armada perkapalan di kawasan timur Indonesia.
Sehingga tidak ada kendala hubungan antar pulau.
> > Dari kedua pembangunan itu juga tenaga kerja tercipta banyak,
pertumbuhan ekonomi dipacu. Pemerataan lebih jelas.
> > Ketiga, siapkan diri menghadapi FTA China-Asean yang implikasinya
sangat besar bagi nasib industri kita, kalau mereka terpukul akhirnya
membanjir ke kota-kota besar lagi.
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> >
>


Kirim email ke