Maaf pendatang baru yang masih belajar nih ..belum punya advance knowledge di 
bidang tata ruang. Cuma mau urun rembug..berdasarkan asumsi2 logis dan 
merangkum pendapat kebanyakan orang awam saja semoga bermanfaat.
Sesuai budaya politik kita yang semi kerajaan nih; dengan memindahkan
ibu kota ke Palangkaraya ato pulau di luar Jawa otomatis akan berpengaruh 
positif pada wilayah
sekitar. Contoh sederhana, karena mobilitas presiden tinggi pasti akan di
siapkan bandara international yang bagus, pelabuhan yang bagus, sarana
transportasi yang bagus(orientasi melayani raja). Karena mesin ekonomi kita itu 
di gerakkan orang2 dekat
dengan kekuasaan pasti akan tumbuh pusat2 ekonomi di daerah pusat kekuasaan .
Dengan pusat pemerintahan pindah otomatis pusat2 bisnis juga akan mengikuti
kemana pusat kekuasaan berada.(masih tingginya selingkuh bisnisman dengan 
penguasa sebgai budaya kita)  Harapan Indonesia timur akan lebih di perhatikan
semakin mendekat kepada kenyataan seandainya ibu kota di pindah ke
Palangkaraya.(polesan untuk mempercantik diri dengan melihat keberhasilan 
pembangunan) Bagaimana dengan populasi? Pemerintah gak perlu repot-repot lagi
menghidupkan program transmigrasi agar penduduk Jawa pindah ke daerah sekitar
ibu kota karena pasti secara otomatis semut akan mendekati gula.( system 
ekonomi yang kita anut) Akhirnya Pulau
Jawa akan sedikit bernapas lega, dan pemerataan penduduk, asimilasi, culture
marriage pasti terjadi. Bagaimana dengan Jakarta? Jakarta akan di tinggalkan
para penduduknya, dan akan menjadi kota biasa, pendapatan menurun drastis
karena sector jasa sebagai sumber pendapatan unggulan juga akan menurun. Kabar
baiknya Jakarta lebih bisa menata diri dan mempercantik diri . Itu asumsi orang
awam kalo ibu kota di pindah ke luar jawa. 
Tapi sepertinya ini sulit terealisasi karena ini perpindahan ibu kota
bukan soal teori perencanaan wilayah. Ini juga bukan soal semrawutnya ibu kota.
Perpindahan ibu kota adalah soal selera dan kehendak sang penguasa. Birokrasi
kita itu masih mendasarkan kehendak daripada scientific research. Jadi akhirnya 
selalu muncul alasan pindah ibu kota bukan urgent untuk memecahkan masalah. 
Sekilas memang gakk begitu urgent tetapi secara pragmatis kita bisa perkirakan 
dampak dalam short termnya seperti diatas. Catatan ya ak tidak mengkritisi 
pemerintah saat ini tetapi lebih melihat pola dan budaya pemerintahan yang saya 
ikuti  dari jaman suharto sampai sekarang dan masih tersisa meskipun sedikit 
demi sedikit ada pengurangan.
setidaknya hal yang pasti terjadi adalah dengan pemindahan ibukota setidaknya  
memicu pertumbuhan ekonomi daerah timur dan mengatasi over crowded population 
pulau Jawa. 

 
SalamKUSWANTO
--- On Wed, 12/30/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [referensi] Re: Ibukota baru dan Hijrah
To: [email protected]
Date: Wednesday, December 30, 2009, 4:12 AM















 
 



  


    
      
      
      Bung Alim, tampaknya ada 2 kelompok dalam menyikapi usulan pemindahan 
ibukota (pusat pemerintahan) dan tidak bisa disatukan. Yang tidak setuju (saya 
bagian dari kelompok ini) menganggap bahwa pemindahan ibukota tidaklah krusial 
dan tidak memecahkan masalah; sementara yang mendukung itu sebaliknya bahwa 
pemindahan ibukota adalah penting dan bisa memecahkan masalah utama. Selain 
itu, kelompok yang tidak setuju punya anggapan bahwa sektor pemerintahan tidak 
lagi sekuat dulu pengaruhnya terhadap sektor riil, sebaliknya yang setuju 
menganggap bahwa pemerintahan masih menjadi orientasi sektor riil. Jadi 
asumsinya sudah berbeda.
 
Perdebatan ini biar saja di milis ini. Nanti akan berakhir, dan kemudian nanti 
akan muncul lagi. Kalau tidak salah, sepanjang usia referensi ini, soal ini 
sudah ketigakalinya. Nanti ada keempatkalinya. .... he..ehe..... 
Lucunya,..ilmunya nggak tambah-tambah. ..
 
Thanks. CU. BTS.
 
 
 


--- On Wed, 12/30/09, abdul alim salam <abdulal...@yahoo. com> wrote:


From: abdul alim salam <abdulal...@yahoo. com>
Subject: Bls: [referensi] Re: Ibukota baru dan Hijrah
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, December 30, 2009, 3:41 AM


  






Rekan2 Komunitas Referensi,
 
Keliatannya diskusi pemindahan ibukota negara jadi semakin rame. Gimana kalo 
Komunitas Referensi mengawali tahun baru 2010 dengan mengangkat tema ini jadi 
Dialog  Nasional?
 
Komunitas Referensi bisa kerjasama dgn misalnya : Ormas (mis: Inkindo, 
Indonesia Bisa, IAP) dan group media (mis:Trijaya FM, Kompas/Media Indonesia) 
dll. Sementara jangan melibatkan dulu unsur pemerintah sebagai pemrakarsa nya. 
Perlu dikemas bahwa Dialog Nasional ini merupakan prakarsa murni masyarakat 
madani.

Proceeding nya nanti dikirimkan ke pemerintah dan legislatif, serta lembaga 
tinggi negara.
 
Ayo cepat bikin pancil (panitia kecil) utk merealisasikan ini, bila setuju.
 
SELAMAT TAHUN BARU 2010.
 
Wassalam
Abdul Alim Salam
--- Pada Sel, 29/12/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> menulis:


Dari: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Judul: [referensi] Re: Ibukota baru dan Hijrah
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 29 Desember, 2009, 10:18 PM


  


Pak Wilmar saya potong sebentar, saya kurang tahu kalau Hawaii itu dekatan 
dengan Mekkah. Mengenai hijrah ini, kok solusinya sama dengan usulan saya dulu? 
Mengenai saran lokasi, anda yang dalam posisi down atau bottom boleh dong kasih 
pendapat. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, "wilmarsalim" <wil...@...> wrote:
>
> Pak Risfan yth,
> 
> Pada saat reformasi dimulai tahun 1998 saya melihat hal itu tidak akan 
> berjalan kalau faktor kedekatan jarak yang mempermudah kolusi dan korupsi 
> penguasa dan pengusaha tidak diputus terlebih dahulu. Makanya saat itu saya 
> menganalogikan dengan peristiwa Hijrah, yang saya pahami sebagai fase untuk 
> menarik diri, menjaga jarak dari praktek-praktek yang kurang benar, untuk 
> menata masyarakat menjadi madani, lalu memberikan teladan pada seluruh 
> bangsa. Ini bukan berarti meninggalkan seluruh jazirah dan bangs Arab dalam 
> kegelapannya kan? Mekkah, di mana Kabah berada, tetap dijadikan pusat dunia 
> Islam, yang beberapa tahun sesudah Hijrah 'terbebaskan' dari kebathilan. Saya 
> jadi kurang mengerti dengan analogi burung onta yang bapak maksud. Mohon 
> penjelasan.
> 
> Selanjutnya, saya sepakat dengan pendapat bapak bahwa sebuah
 ibukota tidak perlu besar ukurannya, lebih kompak lebih baik. Kita perlu 
memikirkan kriteria apa saja untuk dapat menjadi ibukota yang baik. Kalau 
masalah lokasinya, justru dalam era desentralisasi ini sebaiknya kita tidak 
menentukan secara top-down seperti itu. Skema yang saya bayangkan adalah secara 
bersama dibicarakan kriteria ibukota baru tersebut, kemudian ditawarkan kepada 
pemerintah daerah, siapa yang dapat menyediakan lokasinya, sesuai kriteria yang 
disepakati. Pembiayaan seminimal mungkin bisa menjadi salah satu kriterianya.
> 
> Salam,
> 
> Wilmar
> 
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan Munir risfano@ wrote:
> >
> > Pak Ekadj dan rekans ysh,
> > 
> > Mohon maaf kalau saya punya pendapat lain soal pemindahan ibukota ini.
> > Perasaan saya ide ini, juga jembatan Selat-Sunda tak lepas dari eforia 
> > setelah kemenangan pada Pemilu kemarin.
> > 
>
 > Logikanya dengan dukungan politik yang ada, saatnya membangun dalam skala 
 > besar, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dalam 
 > jumlah besar. New Deal lah. Sesuatu yang rasional, karena dari sebelumnya 
 > dipercaya bhw pembangunan infrastruktur skala besar sbg salah satu jalan 
 > keluar persoalan ekonomi.
> > 
> > Yang dirasakan a.l. Kelancaran administrasi pemerintahan terganggu karena 
> > "ibu kota" ada di Jakarta yang selalu macet dan banjir. Jadi sebaiknya 
> > dipindah supaya "ibukota berfungsi lancar". Tidak terkendala masalah 
> > Jakarta.
> > 
> > Teman-teman planner asyik "membaca yang ingin dibacanya": Pemindahan untuk 
> > atasi masalah Jakarta. Pemindahan sebagai peluang bikin counter-magnet.
> > Tidak! Tujuannya untuk kelancaran ibukota itu sendiri.
> > Menyelesaikan masalah Jakarta itu soal lain.
> > 
> > Kedua, kepada rekan Wilmar. Mohon maaf justifikasi pemindahan
 ibukotanya kok spt "burung onta". Kalau kepalanya diamankan, aman pula 
badannya. Ibukotanya "hijrah" ke suasana baru, era baru. Lha rakyatnya kan 
tetap di tempat yang sama. Jangan-jangan malah membuat pemimpin negeri ini jauh 
dari yang dirasakan rakyatnya.
> > 
> > Sebagian besar pendapat juga masih pada paradigma lama. Pemerintah pusat, 
> > pemerintah pusat, dan pemerintah pusat. Padahal dengan otonomi daerah 
> > ketergantungan pada pusat mungkin lambat laun akan beda. Kita juga belum 
> > tahu kalau "departemen jadi kementerian" semua, barangkali fungsi Ibukota 
> > juga lebih terbatas pada "kawasan perkantoran" kepala negara, para menteri, 
> > duta besar dan sedikit para penasihat dan asistennya. Selebihnya yang 
> > operasional, lokasinya tidak harus di tempat yang sama. Sehingga ibukota 
> > ini bisa cukup sebagai "kawasan pemerintahan" di antara Balaraja dengan 
> > Serang sana, kalau akses ke bandara jadi pegangan.
> > 
> > Tapi sekali lagi,
 kembali ke asumsi eforia. Apakah niat itu masih akan konsisten sepanjang 
waktu. 
> > Kalau saya boleh berpendapat, dana yang ada lebih baik untuk memperbaiki 
> > sektor energi khususnya tenaga listrik. Rasa ketimpangan antar daerah 
> > sekarang nyata pd ketimpangan ketersediaan listrik.
> > Kedua, bangun full armada perkapalan di kawasan timur Indonesia. Sehingga 
> > tidak ada kendala hubungan antar pulau.
> > Dari kedua pembangunan itu juga tenaga kerja tercipta banyak, pertumbuhan 
> > ekonomi dipacu. Pemerataan lebih jelas.
> > Ketiga, siapkan diri menghadapi FTA China-Asean yang implikasinya sangat 
> > besar bagi nasib industri kita, kalau mereka terpukul akhirnya membanjir ke 
> > kota-kota besar lagi.
> > 
> > Salam,
> > Risfan Munir
> >
>



Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!



      

    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke