Rekan2 referensi ysh,

Sekedar melengkapi laporan 3 rekan (Ekadj, Risfan, dan Deden) sebelumnya,
saya ingin menambahkan ini: banyak sekali topik yang, walau sekelebatan,
sempat didiskusikan dalam Kopi Darat itu. Kok bisa? Ya, karena energi dan
antusiasme para peserta, entah bagaimana, sangatlah tinggi... Praktis,
selama waktu efektif sekitar 2,5 jam itu omongan mengalir terus,
berganti-cepat dari satu topik ke topik lainnya. Topik-topik itu, menurut
hemat saya, berharga untuk diteruskan pembahasannya di milis ini. Beberapa
yang agak lebih panjang dibicarakan dari topik lain adalah:

1. soal publikasi. Sempat berkembang beberapa opsi: jurnal, meski hanya 1
edisi per tahun; buku, meski juga hanya 1 buah/tahun; atau penerbitan buku
atau kumpulan hasil diskusi secara ad hoc. Dua yang pertama, memerlukan
komitmen dan stamina yang cukup; yang kedua, ya lebih longgar... Semua
sepakat bahwa publikasi ini perlu dan dapat menjadi tonggak dalam perjalanan
pemikiran penataan ruang, pembangunan kota dan wilayah, atau lainnya yang
menjadi minat kita bersama. Tentu ini memerlukan perenungan dan,
semoga, langkah-langkah nyata untuk merelisasikannya;

2. soal pemindahan ibukota. Pro-kon di milis selama ini tampaknya justru
membuatnya semakin menarik dan seksi. Secara bersamaan, di luaran rupanya
isu ini juga dibicarakan, bahkan oleh elit republik. Seorang rekan yang
tidak sempat hadir di Kopi Darat, Pak Abdul Alim Salam, mengirimkan sms:
kalau topik ini hendak diangkat ke Dialog Nasional, beliau siap membantu;

3. soal tantangan pembangunan dan perenc kota dan wilayah ke depan.
Tampaknya, isu kebencanaan (disaster) perlu melengkapi cerita climate change
- global warming. Catatan saya: tampaknya, belum banyak telaah akademik dan
praktis kita berkaitan dengan kedua isu itu, meski Hyogo Framewrok of Action
(2005, berkaitan dengan bencana) telah menunjukkan kuatnya kontribusi
penataan ruang dalam mitigasi bencana. Bencana beruntun yang terjadi di
sejumlah tempat, tidak hanya di Indonesia namun juga di tempat-tempat lain,
dan potensinya yang tetap besar untuk terjadi lagi, patut membuat kita
merenung dan mengambil langkah - apapun itu;

4. soal tantangan (percepatan) pembangunan Papua. Ini memang isu yang hanya
sempat dibahas oleh rekan-rekan yang datang ke Kopdar lebih awal. Sempat
disinggung soal: tantangan kultural, sikap politik Jakarta, kuatnya desakan
untuk terus melakukan pemekaran wilayah (administratif), dan persoalan
birokrasi dan korupsi. Catatan saya: rasanya, milis kita ini masih terbatas
membahas isu ini (atau area studies umumnya), ya... Proponen utamanya
mungkin baru Pak Aby, rekan Ekadj, rekan Yando dan 1-2 rekan dari Papua;

5.  soal RTRWN dll. Ditengarai bahwa RTRWN, yang ditetapkan dengan PP namun
mungkin disusun dengan waktu yang terbatas, masih menyimpan kekurangan di
sana-sini: data yang tidak akurat (seperti, konon, P. Komodo dan G Tambora
disebutkan berada di NTT), tantangan dan prospek pengembangan cenderung
dilihat dari kacamata Jakarta dan belum sepenuhnya dari kacamata Daerah, dan
seterusnya. Catatan saya: sebagai dokumen, mungkin RTRWN 'sudah selesai';
Namun, sebagai proses merencana, mungkin justru baru dimulai dan karena itu
berharga untuk ditelaah lebih jauh.

Sementara, demikian catatan saya. Mohon maaf jika ada yang terlewat atau
kurang akurat. Terlampir, 2 foto yang sempat diambil...

Salam, EF

Keterangan foto:

Aulia Amanda Siradj - peserta paling cantik;
Bayu Dharma - batik merah;
Deden Rukmana - pake dasi;
Risfan Munir - batik biru;
Moris Nuaimi - batik kuning/jaket hitam;
Eka Aurihan Djasriain (Pak Datuk) - batik hitam;
Erwin Fahmi - kaos biru.
2010/1/16 Risfan M <[email protected]>

>
>
> Rekans ysh,
> Senang bisa kopi darat kemarin, walau yang minum kopi betulan kayaknya
> hanya saya dan Kang Deden, yang lain jus dan teh, plus french-fries.
> Sebetulnya yang datang 8, tapi yang satu masih dalam perut ibunya.
>
> Menarik bahwa rupanya dari forum Referensi, Deden (Savanah,USA) dan Djarot
> (Jogja) ada kerjasama riset dan penulisan tanpa pernah tatap muka. Ini pula
> yang ditawarkan Deden, termasuk info studi dst.
>
> Obrolan Fahmi-Deden yang saya tangkap (saya telat) sekitar pengalaman
> berplanning untuk wilayah pasca gempa, dan Deden mendorong agar ada
> publikasi atau refleksi pengalaman lebih banyak sebagaimana
> penulisanpengalaman disaster Katarina (New Orleans). Karena pelajaran itu
> penting mengingat kok bencana itu beruntun terjadi, seperti terakhir di
> Haiti.
> Ini penting agar perhatian dunia tidak hanya pada Climate Change/ Global
> Warming semata.
>
> Perkembangan ini meyakinkan saya bahwa Referensi telah berkembang menjadi
> "community of practice" dimana terjadi sharing pengetahuan antar peminat
> "pengembangan wilayah & kota"(PWK).
> Bahwa lontaran di milist ini sering informal, ide sesaat, uneg2, ternyata
> dibalik itu sering ditindak lanjuti oleh teman-teman dengan pendalaman(kayak
> Dewan aja) teori atau dikaitkan dengan pekerjaan masing2. Diam2 banyak
> mahasiswa dan dosen yang ikut baca, dan terjadi dialog diluar forum ini.
> Oleh karena itu, mendukung Agenda "satu tahun(lahir) satu buku". Ini tidak
> mustahil, karena diskusi informal di forum ini bisa kita compile, kita
> mintakan mahasiswa program doktor/master untuk bantu nambal teorinya. Lalu
> kita minta para senior, profesor sebagai editor.
>
> Mudah2an terlaksana.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> Pada Sab, 16 Jan 2010 05:12 CST - ekadj menulis:
>
> >Ibu Reny dan Referensiers ysh,
> >Alhamdulillah kemarin kita jadi juga kopi darat bersama Prof.Dr. Deden
> >Rukmana. Hadir 7 orang, yaitu: Deden, Risfan, Erwin, Moris, Bayu, Aulia,
> dan
> >saya. Dimulai jam 5 dan berakhir sekitar jam 8.30. Cukup banyak dan
> panjang
> >yang dibicarakan, mungkin nanti rekan-rekan yang lain akan menambahkan.
> >Beberapa pokok pembicaraan sekitar kinerja reformasi, jejaring, pemindahan
> >ibukota, Buku 3 vs RTRWN, evaluasi singkat komunitas, dlsb. Juga
> >dibagi-bagikan buku, dan juga ada hadiah buku "Samurai" dari Pak Risfan;
> >sepertinya ini sudah menjadi tradisi kita.
> >Dari Pak Deden diperoleh beberapa gagasan tentang pengembangan jaringan
> >global, anti-metropolitan, dan penerbitan Referensi's annual book. Masalah
> >jaringan global rupanya diam-diam sudah menjerat Pak Djarot untuk go
> >international, mungkin perlu penjelasan sendiri. Saya akan ulas sedikit
> >tentang rencana kita untuk menerbitkan 'annual book of spatial
> development'
> >(Indonesian version). Jadi perlu pemilahan dan pemilihan topik secara
> >tematik, yang akan mengumpulkan tulisan terpilih yang layak menjadi
> >referensi ilmiah utama dan diterbitkan setiap tahun. Perlu kerjasama dan
> >usaha yang kuat untuk mewujudkan ini. Hal ini menarik kita diskusikan
> >menyangkut topik per tahun, kriteria, calon-calon penulis dan editornya.
> >Untuk modal awal sudah terkumpul dari pertemuan uang sebesar $38.000, dan
> >saat ini bendahara dipegang oleh rekan Moris.
> >Sementara demikian yang dapat saya laporkan. Salam.
> >
> >-ekadj
> >2010/1/15 Reny ansih [email protected] <renyansih%40yahoo.com>
>
> 
>



-- 
Erwin Fahmi

Cell. (+62) 812 199 3233

Kirim email ke