Bu Yati, Kang Iman, Mas Risfan yg dirahmati Allah ..
Bisa memahami keprihatinan Kang Iman, apalagi jika kita selalu berhadapan
dengan gambaran kondisi ideal yg dinikmati dari sekala 1:sejuta, atau 1:seratus
ribu ...pdhal setiap hari seliweran berita yg menyajikan kondisi obyektif
kota-kota (juga desa-desa) spt yang diratapi Kang Iman ...
Kalau teman2 lain yang mencemaskan degradasi lingkungan, tindakan aksinya ialah
"datangi, lihat, dengarkan dan berbuat" di lokasi/tapak yang terancam kerusakan
.. Lantas apa ya yg bisa kita, planner bs lakukan, setidaknya komunitas
referensi, apa bisa melakukan rencana aksi seperti dilakukan teman2 kita yang
lain itu ...susahnya karena perspektif kita sering dlm sekala 1:seratus ribu,
tidak detil dan kongkrit (spt diprihatinkan Kang Iman) atau memang kita cukup
dgn diskusi disertai rasa cemas ...atau kmd menghimpun pikiran2 kritis utk
mempengaruhi para pengambil keputusan, seperti dilakukan mas Risfan dkk ...
Semoga suatu hari, saya diajak Kang Iman "turun dr ketinggian 1:seratus ribu ke
1:seribu", lesehan bersama pak Kuwu dan wargadesa/warga kelurahan ... sehingga
mulai dr warga2, rumah2, kampung2, kelurahan2, desa2 membuat aksi kolektif
...mengurangi kecemasan dan keprihatinan Kang Iman .. Langkah kecil sering
menghasilkan perubahan perilaku hidup di perkotaan seperti dilakukan oleh
seorang nenek, ibu Bambang Harini di kampung banjaransari, cipete, juga seorang
kakek di mampang perapatan .. inisiatif mereka menghijaukan halaman rumah,
selasar bangunan, dan gang2 sempit menular ke RW, kampung dan kelurahan lain ...
Atau seperti disebut bu Yati, tindakan kreatif pak Basyir, walikota Pekalongan
yg mencanangkan pd akhir jabatan semua rumah kumuh hrs jadi rumah sehat dan
layak huni ..
Memang benar apakah perubahan perilaku bisa menyelesaikan persolan seperti
Jakarta yg sudah kadung terlalu besar ... tapi menunggu tumbuhnya "kesadaran
manajemen" --yg disinyalir mas Risfan makin kurang peduli thd persoalan
warga-- jangan heran kalau kecemasan Kang Iman akan lebih dahsyat 5-10 th yad
dan boleh tiba lebih cepat dr proyeksi angka statistik ..
Nah, kapan Kang Iman kapan kita diajak "turba" ... Kang Iman menggores kanvas
lukisan, saya tafakur mendengarkan keluhan warga ..dan mas Risfan beraksi dari
laptom menyusun "rpjm partisipatif" ..
Ditunggu ya Kang ..upaya melahirkan "barefoot planner" atau "community planner"
..atau apalah yg bisa melahirkan "local champion" ...
Salam dari pinggiran Bintaro ..
IBNU TAUFAN,
PNPM Mandiri Perkotaan
Jakarta Selatan, Indonesia
from Mobile BlackBerry®INDOSAT
-----Original Message-----
From: [email protected]
Date: Tue, 2 Feb 2010 06:06:44
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia
Uda Iben, BTS, Mas Giono, EkoBK dan sohib lainnya.
Posting saya sebenarnya hanya ingin menyampaikan keprihatinan kita terhadap
kota kota di Indonesia, pengamatan terutama pd kota2 besar dan menengah semua
terdegradasi, mudah2an tdk dikota kota kecil. Degradasi ini akan terus
berlanjut, Saya katakan pd saat ini, atau entah mulai kapan kita sdh mencapai
kondisi perkotaan yg kritis (urban crisis).
Sebenarnya sdh banyak upaya upaya yg telah dilakukan, tidak juga membuahkan
hasil. Banyak yg mendasar yang perlu diselesaikan tapi tdk dilakukan
(pembiaran, kata Mardiansyah).
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Ibnu Taufan <[email protected]>
Date: Mon, 1 Feb 2010 22:09:20
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia
Kalau demikian ... ada baiknya IAP mengambil inisiatif untuk mengmpulkan
anggota seniornya untuk menuliskan dan menghimpun pengalaman terbaiknya,
bahkan bisa juga menyusun 'knowledge management' dipelopori Pak Risfan ...
boleh khan IAP menyiapkan 'pedoman atau panduan penjabaran RTRW' ...mumpung
pak Risfan masih giat menulis, kalau lima tahun lagi ya mesti beli buku2nya
pak Risfan (sekarang memang baru satu, tunggu beikutnya!) ..
kumaha kang Iman ?
Wassalam,
IBNU TAUFAN
APPMI I Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia I
0816-940978 I Planner & Community Development
2010/2/1 Risfan M <[email protected]>
>
>
> pak Ibn ysh,
>
> Kebetulan saya pernah terlibat penyusunan Panduan Penyusunan RPJMD, juga
> Renstra SKPD, pada Tata Cara keduanya mengacu kepada RTRW, dan jelas
> tergambar pada Bagan Alir utamanya.
>
> Di Prov Jawa Barat mrk menyusun Perda Sistem Perencanaan Daerah, jelas RTRW
> jadi acuan. Status kota PKN dst juga jadi dasar menentukan prioritas
> program/ kegiatan.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> Pada Sen, 01 Feb 2010 04:36 CST Ibnu Taufan menulis:
>
>
> >mBangTS,
> >SETUJU sekali .. RTRW itu memang harus di breakdown agar bisa "lebih
> >operasional" setidaknya SKPD bisa menyusun RKPD-nya ..dan pemangku
> >kepentingan "lain" juga merasa punya kepentingan untuk mewujudkan
> >tujuan/sasaran RTRW ..
> >
> >Pada era UUPR 1992, seingat saya BKTRN pernah menugaskan Ditjen Bangda
> >bersama Bappenas untuk mengelobarasikan RTRW Kabupaten menjadi RPJM
> >melengkapi Repelitada (yg waktu itu hampir sekarat juga, atau juga
> pengganti
> >Poldas-nya) .... kenapa usaha bagus seperti itu kok berhenti dan tidak
> >pernah kedengaran lagi ...
> >
> >Jangan sampai sudah banyak RTR malah hutan produksi dilibas, kantor bupati
> >ada di dalam kawasan hutan lindung, KP dikeluarkan bupati di kawasan
> >lindung.... hayaaa ..
> >
> >Wassalam,
> >
> >IBNU TAUFAN
> >APPMI I Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia I
> >0816-940978 I Planner & Community Development
> >
> >
> >
> >
> >2010/2/1 Bambang Tata Samiadji <[email protected]<btsamiadji%40yahoo.com>
> >
> >
> >>
> >>
> >> He--he-he..betul juga sih. Ngeri ya... Itu bisa terjadi kalau manusia
> tidak
> >> mau belajar, tidak mau kerja sama, maunya sendiri, dan tidak ngikuti
> aturan.
> >>
> >> Sebetulnya ada RTR yang bisa mengelola untuk menghindarkan hal demikian.
> >> Tapi karena RTR itu berjangka panjang, tidak di "break down" ke jangka
> >> menengah, sehingga pemangku kepentingan merasa kurang andil...kalaupun
> punya
> >> andil...toh tidak bisa menikmati karena keburu mati. Usul saya perlu
> dibuat
> >> RTRJM (Rencana Tata Ruang Menengah). Yang dimaksud dengan jangka menegah
> >> adalah lebih 1 tahun dan tidak melebihi masa jabatan kepala daerah.
> >>
> >> Thanks. CU. BTS.
> >>
> >>
> >>
> >> --- On *Mon, 2/1/10, [email protected] <isoedradjat%40yahoo.com> <
> [email protected] <isoedradjat%40yahoo.com>>* wrote:
> >>
> >>
> >> From: [email protected] <isoedradjat%40yahoo.com> <
> [email protected] <isoedradjat%40yahoo.com>>
> >> Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia
> >> To: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>
> >> Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM
> >>
> >>
> >> Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa
> >> Nanti, 20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota.
> >> Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah udah
> >> macet.
> >> Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah
> diklakson.
> >> Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi Subuh, pulang
> >> Isya.
> >> Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan
> >> Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi, sodomi, PIN diintip
> >> orang.
> >> Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh banjir dimana
> >> mana.
> >> Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak harum
> >> mewangi.
> >> Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah.
> >> Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua.
> >> Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu (baca pake
> >> Dialek Roma Irama)
> >> Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB dan Mandi beda
> hargenye.
> >> Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang terdengar.
> >> Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua..
> >> Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma bisa bikin
> PNPM
> >> busway, eh Suramadu bisa deng.
> >>
> >> Iman tea.
> >> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> >>
> >> ------------------------------------
> >>
> >> Komunitas Referensi
> >> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
>
>
>