Pak Sugiono, Sariffuddin dan rekan yang lain, Sependapat dengan sdr Syarif apalagi pak Giono...sepertinya dari hasil pengamatan saya bahkan data statistik yang saya peroleh dari beberapa kasus saya melihat ada hubungan antara perubahan pola produksi (tentu saja untuk tujuan GROWTH) telah berdampak melemahnya keseimbangan di dua sisi yang lain (SOCIAL Justice) dan keseimbangan alam.
Point saya adalah perubahan pola produksi dari tradisional (subsistence) menuju "pra" industri memang dapat meningkatkan pertumbuhan namun sialnya "cendrung" berdampak hilangnya modal sosial, distribusi pendapatan yang semakin tidak merata dan disertai dengan lingkungan yang semakin rusak. Barangkali pendapat beberapa pakar yang mengatakan bahwa mewujudkan "Setiga magic" (sosial, ekonomi dan lingkungan) secara bersamaan adalah utopis adalah benar. Demikian renungan sederhana saya dari fakta yang saya dapatkan yang semoga tidak valid, Salam hangat, Asnawi Manaf ASNAWI MANAF --- On Thu, 2/11/10, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Subject: RE: Bls: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Thursday, February 11, 2010, 10:24 AM Pak Sariffuddin dan rekans ysh, Salam kenal, ikut urun rembug tentang 'kehidupan masyarakat kota', saya kira masyarakat kota dimanapun diatas bumi ini pada umumnya akan mengutamakan masalah 'ekonomi' baru 'sosial' dan 'lingkungan' . Sebagai manusia 'urban' awalnya harus dapat bertahan hidup dalam persaingan yang keras, kalau secara ekonomi sudah 'mapan' biasanya baru mulai ber-sosialisasi dengan masyarakat sekitarnya dan memperhatikan lingkungannya. Hanya saja kenapa banyak warga kota yang secara ekonomi sudah 'mapan', justru sifat 'individualisme' nya sangat tinggi, dengan tetangga sebelah saja banyak yang tidak saling kenal...walaupun mereka sudah sadar dengan kebersihan/keindaha n lingkungannya, apa ini kesalahan 'planning & design lingkungan kota' nya ? Berbeda dengan masyarakat 'desa', mereka memang sangat dekat dengan lingkungan, karena hidup/makan dari hasil tani/hutan dan sangat guyub & erat kekarabatannya (aspek sosial), demikian juga masyarakat 'kampung-kota' . Semoga pendapat saya tidak terlalu melenceng dari topic diskusi. Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: sari...@yahoo. com Date: Thu, 11 Feb 2010 09:35:34 +0800 Subject: Bls: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Kepada Yth. Bpk. Risfan Munir dan Rekan-rekan ysh. Sangat menarik membicarakan wacana Sustainable City, bahkan banyak konsep yang telah ditawarkan untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut dari compact city hingga garden city. Tidak kalah menariknya jika kita dudukkan lagi konsep tersebut pada pernyataan Doxiadis (1968) yang berusaha 'membagi' kota dalam dua elemen besar yaitu 'content' dan 'container' atau pernyataan Prof. Eko Budiharjo mengenai 'city' dan 'citizen'. Prinsip sederhana yang ditawarkan adalah Kota bisa berkelanjutan jika ada hubungan yang harmonis antara 'content' dan 'container' atau 'city' dengan 'citizen-nya'. Literatur-literatur sustainable development banyak yang mengemukakan bahwa sustainable city dapat tercapai jika keseimbangan antara 'environment- social-economy' tercapai. Namun, dari beberapa penelitian yang pernah saya lakukan hal itu ternyata tidak sepenuhnya berlaku dalam lingkup masyarakat kita. Penelitian pertama *Kualitas Hidup Masyarakat di Kota Semarang, UNDIP" menunjukkan bahwa orientasi kehidupan masyarakat berjenjang dari "EKONOMI-SOSIAL- LINGKUNGAN' , Orientasi hidup mereka lebih mengutamakan ekonomi terlebih dahulu, kemudian sosial dan terakhir lingkungan. Akibatnya perhatian masyarakat terhadap lingkungan sangat rendah. Pada kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi cukup baik (relatif kaya) , ternyata mereka memiliki perhatian terhadap lingkungan (namun setelah mereka di 'perkaya' oleh lingkungan sekitarnya). Mereka membuat kelompok-kelompok masyarakat untuk mengaktifkan kembali peran masyarakat terhadap lingkungan seperti gotong royong, arisan bahan bangunan untuk membangun rumah, program taman kampung, dll yang dimotori oleh PKK. Menurut pandangan saya, ini menunjukkan bahwa pembangunan dalam lingkup 'content' akan cukup efektif untuk mewujudkan Sustainable City. Content yang saya maksud dikhususkan untuk manusia, atau human development. Ide sederhana ini sebenarnya terinspirasi oleh bukunya Dr.-ing. Jo Santoso (Menyiasati Kota Tanpa Warga) yang menggarisbawahi pentingnya pembangunan manusia dalam lingkup pembangunan. Mengingat selama ini, lingkup pembangunan di Indonesia atau mungkin bahkan sebagian besar dunia lebih berkonsentrasi pada lingkup 'container' semata yaitu wadah berupa pembangunan jalan, kawasan-kawasan budidaya, dll namun lingkup 'human' sering ditinggalkan. Jika ini dibiarkan maka ketakutan Graham dalam bukunya Splintering Urbanism kemungkinan besar akan terjadi yaitu terjadinya polarisasi ruang atau fragmentasi ruang kota. Ketakutan saya pribadi jika aspek kemanusiaan menjadi 'anak tiri' pembangunan maka yang akan terjadi adalah 'fenomena generasi gelembung sabun' (Soemardjan, 1984), yaitu semain besar gelembung sabun maka akan terlihat semakin indah dan mewah namun rawan pecah. Kondisi ini terjadi saat pekerjaan masyarakat tertransformasi dari sektor vital ke non vital atau bahkan sama sekali tidak vital, yaitu dari petani pemilik dan penggarap pertanian menjadi seorang buruh pabrik yang keberlanjutannya dipengaruhi oleh mekanisme pasar. Salam Sariffuddin Abdullah Referensi: Budihadjo, Eko. 1998. Sejumlah Masalah Pemukiman Kota. Bandung: Alumni. Budiharjo, Eko. 2003. Kota dan Lingkungan Pendekatan Baru Masyarakat Berwawasan Ekologi. Jakarta: LP3ES. Budiharjo, Eko., & Sudanti. 1993. Kota Berwawasan Lingkungan. Bandung: Alumni. Doxiadis, C. A. 1968. Ekistics, the Science of Human Settlements. Science , 393-404 Graham, Stephen and Marvin, Simon. 2001. Splintering Urbanism: Networked Infrastructure, Technological Mobilities, and the Urban Condition. London: Routledge. Soemardjan, Hindro T. 1984. ”Pengembangan Ruang dan Papan Dalam Rangka Peningkatan Ketahanan Nasional”. In Boedihardjo (ed). Sejumlah Masalah Permukiman Kota. Bandung: Alumni, pp. 125-133 Santoso, J. 2006. [Menyiasati] Kota Tanpa Warga. Jakarta: KPG dan Centropolis. Sariffuddin. 2006. Quality of Life and The Perception of Community in Semarang (Case Study: Settlement Area in Genuk, Semarang). 2nd International Conference on Environment and Urban Management (Science, Nature and Justice) (p. 32). Semarang: Soegijapranata Catholic University. Dari: Risfan Munir <risf...@yahoo. com> Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Cc: perkot...@yahoogrou ps.com Terkirim: Kam, 11 Februari, 2010 07:19:17 Judul: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Sdr Irendra dan Rekans ysh, Masih terkait cerita upaya Anda, tampaknya dalam wacana Sustainable City ini muncul bebera buzz words seperti smart-city, compact-city, green-city. Sebagaimana kisah Anda, keberlanjutan kota tentu mencakup atau bergantung pada keberlanjutan secara ekonomi, ekologi dan sosial. Smart-city dikaitkan dengan keunggulan atau kemandirian ekonominya, selain teknologinya (ada cybercity?). Juga dalam pengelolaan waste, agar tidak ekspor sampah, air kotor ke tempat lain. Compact-city, mengacu pada kekompakan, pengaturan agar bisa mengurangi kebutuhan transportasi. Tidak lapar lahan. Pada aspek sosial juga bisa diartikan sebagai cohesiveness, kuatnya social capital, kerukunan warga. Green-city, barangkali ini sudah banyak dibahas. Pendekatannya seperti biasa tiga jalur. Jalur pemerintah dengan turbinwas nya. Jalur swasta dengan mengundang atau mengendalikan pembangunan yang mereka lakukan, mempromosikan sustainable city itu. Jalur ketiga, yang Anda sudah mulai, dan yang saya ceritakan kemarin. mudah2an memancing tulisan dan ide lain. Salam, Risfan Munir From: Irendra Radjawali <ra...@hotmail. com> Sent: Tuesday, February 09, 2010 4:11 PM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: RE: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Pak Risfan yang baik, kami di Makassar mencoba melihat "keberlanjutan" ini dari sisi lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya. dengan segala keterbatasan kami, kami mencoba membongkarnya dari sudut pandang "energi". Akhirnya, kami mencoba melakukan kegiatan-kegiatan sederhana (juga membuka "ruang-ruang politik kota agar warga bisa mengemukakan pendapat dan juga mendapatkan informasi) seperti memisahkan sampah basah dan kering, kemudian teman-teman muda di Unhas mencoba mengganti beberapa ojek dengan "fuel-cell", kemudian kampanye juga mengurangi penggunaan kertas (paling tidak kalau mencetak, bolak balik), dan kami juga mencoba membuka jaringan pada pengambil keputusan. Salam hormat dan jabat erat, Radja "Hasta La Victoria Siempre" To: refere...@yahoogrou ps.com From: risf...@yahoo. com Date: Mon, 8 Feb 2010 15:56:23 -0800 Subject: [referensi] PWK: Langkah2 Sustainable City Rekans ysh, Di radio mobil saya dengar kampanye Walikota Bekasi soal penghijauan, penanaman pohon demi anak cucu, dikaitkan dengan pemanasan bumi yang sudah terjadi. Bulan lalu RW saya juga sudah beliau kunjungi. DKI dalam penyusunan RTRW nya juga jelas mengaku soal neraca hijaunya deficit. Tema2 sustainable city sudah menjadi tema tiap new town yang dipasarkan. Adakah langkah2 sederhana yang bisa mulai dilaksanakan? Salam, Risfan Munir Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) New Windows 7: Simplify what you do everyday. Find the right PC for you.

