Rekans ysh,
 
Kelihatannya Graham sebagai penulis ingin mengunakan istilah yang "eksotis", 
yang kalau diterjemahkan begitu saja bisa gak pas, aneh menurut kebiasaan 
bahasa Indonesia. Seperti terjemahan karya sastra, ada baiknya memberanikan 
mencari kata yang lebih enak tapi "spesifik" untuk splintering.
Sementara untuk urbanism, karena ini banyak konotasi ke culture, ada baiknya 
beranikan menggunakan "urbanisme" daripada "pembangunan kota" kok ada kata 
"pembangunan" itu jauh dari konteks kultur.
New urbanism, dst itu kan lebih mengarah kepada sifat, gaya hidup, spontan, 
daripada "pembangunan" berbau program (direncanakan).
 
Seperti dulu kata management, dicoba dipaksakan dengan "pengelolaan", rasanya 
gak pernah pas. Akhirnya dipakai "manajemen". Juga business kalau diartikan 
"usaha" kalau dipakai awalan, akhiran jadi gak pas, akhirnya pakai "bisnis".
 
Jangan sampai Urban Planner menjadi yang terakhir yang menggunakan term "urban, 
urbanisme" setelah terjadi salah kaprah oleh tukang sablon.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 


--- On Tue, 4/27/10, hajar ahmad <[email protected]> wrote:


From: hajar ahmad <[email protected]>
Subject: Bls: Bls: Bls: [referensi] [ASK] padanan istilah 'splintering urbanism'
To: [email protected]
Date: Tuesday, April 27, 2010, 3:11 AM


  




Bapak BTS ysh dan referensier semua.

Dari awal saya juga tidak berkeinginan untuk mengganti splintering urbanism ke 
dalam Bahasa Indonesia, namun karena permintaan pembimbing saya agar mencari 
padanan kata tersebut ke dalam bahasa Indonesia maka saya pun mempelajari dan 
menanyakan dalam milis ini, mengingat banyak para senior yang telah mengerti 
tentang perkotaan. Barangkali belum banyak kajian di Indonesia mengenai 
splintering urbanism mengingat itu merupakan teori baru tahun 2001 dan saya 
belum menemukan publikasi yang terkait langsung dengan teori ini, sehingga 
mungkin belum ada padanan kata yang paling tepat. Mungkin ada referensier yang 
mengetahui penelitian terkait teori ini yang menggunakan bahasa Indonesia?

Penjelasan bapak BTS mengenai kota yang tersekat-sekat (obstructing urbanism) 
sepertinya juga tepat, namun bagaimanapun istilah splintering urbanism tersebut 
keluar atas pemikiran penulis teorinya (Stephen Graham). Sebagai contoh lain 
penggunaan istilah baru mengenai urbanism postmodern dikemukakan oleh David 
Harvey yaitu Patchwork Urbanism (untuk yang satu ini saya belum memahami).


salam,
Hajar Ahmad





Dari: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Terkirim: Sel, 27 April, 2010 14:47:24
Judul: Bls: Bls: [referensi] [ASK] padanan istilah 'splintering urbanism'

  






Ysh Bung Hajar dan referensier semua.
 
Semula saya beranggapan bahwa maksud dari "splintering urbanism" yang 
diterjemahkan sebagai "serpihan-serpihan kota", "kota menyerpih",. .. atau 
apalah terjemahannya, ...  adalah kota yang tercabik-cabik, kota yang 
terpisah-pisah menjadi banyak bagian. Tapi setelah membaca latar belakang 
singkat yang disampaikan, sepertinya kota yang tersekat-sekat (obstructing 
urbanism). Oleh karena istilah "splintering urbanism" lebih baik tidak 
diterjemahkan dalam bahasa. Soalnya kalau artinya "serpih",  bisa lain 
pengertiannya.
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Sel, 27/4/10, hajar ahmad <hac...@yahoo. com> menulis:


Dari: hajar ahmad <hac...@yahoo. com>
Judul: Bls: Bls: [referensi] [ASK] padanan istilah 'splintering urbanism'
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 27 April, 2010, 6:54 AM


  


Referensiers ysh,

Sedikit saja mungkin yang bisa saya tulis mengenai pandangan Bapak Graham 
tentang splintering urbanism. Kondisi perkotaan saat ini pada kebanyakan kota 
di dunia mempunyai kecenderungan terfragmentasi yaitu terpecah-pecah ke dalam 
kantong-kantong kelola mandiri yang bersifat memisahkan diri dari kehidupan 
perkotaan umumnya. Sebagai contoh adalah gated communities (komunitas berpagar) 
yang mempunyai sistem keamanan defensif, menyaring orang-orang yang ingin masuk 
kawasan tersebut, berpagar tinggi serta serasa lepas dari kehidupan urban 
mixing pada umumnya. Fenomena inilah yang sejalan dengan penyediaan 
infrastruktur jaringan seperti transportasi, telekomunikasi, energi dan air 
bersih yang terhubung secara baik kepada mereka yang kaya dan mampu sementara 
mereka yang miskin hanya dilewati (bypass) dan tidak mendapat akses utilitas 
tersebut. Ironis sekali memang sebagaimana dikemukakan Manuel Castell tentang 
kemiskinan bukan karena miskin materi namun karena
 miskin akses terhadap jaringan. Seolah-olah mereka yang kaya dan menempati 
ruang di dalam kota ini sebagai kepulauan di tengah lautan kemiskinan. 
Pembentukan fragmen kota seperti ini didukung keberadaan infrastruktur jaringan 
premium yang melayaninya seiring dengan perkembangan pembangunan infrastruktur 
perkotaan yang cenderung diprivatisasi bahkan liberalisasi. Inilah yang disebut 
sebagai splintering urbanism yang terjadi pada seluruh aspek kehidupan 
perkotaan baik ruang maupun jaringan.

Banyak sekali contoh yang dikemukakan Graham dan Marvin dalam bukunya dalam 
berbagai aspek, jenis infrastruktur, skala ruang dan berbagai kota di dunia. 
Barangkali contoh di Jakarta ini sebagai fenomena splintering urbanism terkait 
pembangunan kawasan hunian dengan keberadaan infrastruktur transportasi yang 
diprivatisasi yaitu jalan tol.

Di Jakarta, tayangan iklan kawasan perumahan baru di televisi selalu menawarkan 
kemudahan aksesibilitas dalam menuju lokasi. Hampir tiap lokasi terhubung 
dengan jalan utama kota yang hanya ditempuh dalam waktu sekian menit menuju 
pusat kota, bebas dari kawasan 3 in one dan yang paling menakjubkan adalah 
keberadaannya di mereka klaim dekat dengan interchange jalan tol. Sebagian 
perumahan mewah tersebut berlokasi di dekat dengan Jakarta Outer Ring Road 
(JORR) yang saat ini sedang dikerjakan oleh pemerintah. Kawasan tersebut juga 
menawarkan kawasan yang bebas banjir, ROW jalan yang lebar, serta dilengkapi 
dengan fasilitas eksklusif. Bahkan salah satu perumahan menawarkan sistem 
penyediaan air minum sendiri yang setelah melalui proses pengolahan tertentu, 
air tersebut dapat langsung diminum. Semuanya itu dapat dinikmati oleh penghuni 
perumahan baik yang bersifat rumah tunggal maupun rumah susun (apartemen).

Dibalik kemewahan yang disediakan oleh developer, perumahan real estate 
tersebut seolah-olah berada di lautan ruang permukiman miskin yang dihuni oleh 
sebagian besar penduduk kota. Kawasan tersebut membentuk kantong-kantong 
(enclaves) yang mewadahi penghuninya. Perumahan mewah tersebut terhubung pada 
kawasan-kawasan eksklusif lainnya di kota melalui jalan tol yang secara 
langsung menghubungkan antarkawasan tersebut. Mereka mempunyai pengelolaan 
sendiri fasilitas dan prasarana permukiman yang secara khusus disediakan untuk 
penghuninya. Penjagaan secara ketat melalui sistem keamanan 24 jam selalu 
mengawasi dan membatasi siapa saja yang masuk ke perumahan tersebut. Secara 
umum, seolah-olah mereka membentuk kota di dalam kota dan memisahkan diri dari 
kehidupan perkotaan secara luas baik secara sosial maupun manajemen kawasan 
karena memiliki tata kelola kawasan yang berdiri sendiri.






Dari: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Terkirim: Sel, 27 April, 2010 13:12:14
Judul: Re: Bls: [referensi] [ASK] padanan istilah 'splintering urbanism'

  






Rekans ysh,
Pak Hajar, sekalian saja diceritakan/ didiskusikan disini bagaimana pandangan S 
Graham tsb. Sekalian memperluas pemahaman kita, dan bagaimana relevansinya 
terhadap masalah urbanism kita yang babaliut ini. Bagaimana?
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
www.management- cafe.blogspot. com


--- On Mon, 4/26/10, hajar ahmad <hac...@yahoo. com> wrote:


From: hajar ahmad <hac...@yahoo. com>
Subject: Bls: [referensi] [ASK] padanan istilah 'splintering urbanism'
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, April 26, 2010, 11:41 PM


  


Terimakasih Bapak Danang, Bapak Risfan dan Bapak Abimanyu atas diskusinya.

Memang didapat bahwa sulit mencari padanan kata urbanism itu sendiri, namun 
jika akhiran kata -ism itu sendiri kebanyakan disadurkan menjadi -isme dalam 
bahasa Indonesia. Saya mendapat pencerahan bahwa kata urbanism dalam bahasa 
prancis itu sendiri tidak merupakan paham/ideologi, namun lebih bermakna kepada 
segala bentuk kehidupan perkotaan. Jadi, apakah padanan kata 'urbanism' dalam 
Bahasa Indonesia jika bukan 'urbanisme' itu sendiri meskipun bukan bermakna 
ideologi? mohon pencerahan.

Kembali ke splintering urbanism yang dari Stephen Graham, saya lebih cenderung 
untuk memadankan menjadi "serpihan urbanisme" atau "urbanism menyerpih". Untuk 
'splinter' berarti 'serpih' (kata kerja) dan 'splintering' (kata kerja dan kata 
benda) berarti menyerpih atau serpihan sebagaimana 'build' berarti 'bangun' 
(kata kerja), dan 'building' (kata kerja dan kata benda) berarti membangun atau 
bangunan. Bagaimana pendapat yang lain? Terimakasih

Salam,
Hajar Ahmad







Dari: Danang Pri <danang...@yahoo. com>
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Terkirim: Sel, 27 April, 2010 10:54:11
Judul: Re: [referensi] [ASK] padanan istilah 'splintering urbanism'

  






Terima kasih pak Abim dan pak Riswan,
 
Saya juga setuju kita pakai saja 'urban' dan 'urbanitas', tapi 'urbanisme' di 
telinga kita rada aneh karena berbau faham atau ideologi.
Celakanya kita dihadapkan pada salah-kaprah pengertian 'kaum urban' = 'kaum 
migran' plus ajaran guru-guru SD-SMP-SMA yang mendefinisikan 'urbanisasi' 
sebagai 'perpindahan penduduk dari desa ke kota'....
 
Ngomong-ngomong, yang punya hajat - pak Hajar Ahmad - kok belum muncul?
 
salam,
danang


--- On Mon, 4/26/10, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote:


From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
Subject: Re: [referensi] [ASK] padanan istilah 'splintering urbanism'
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, April 26, 2010, 11:38 PM


  

Pendapat pak Risfan memang lebih logis, karena padanan yang dipaksakan sering 
justru mengalihkan arti sesungguhnya. Namun kita juga perlu menyepakati 
penggunaannya kemudian. Dahulu saya memahami istilah kaum urban sebagai warga 
suatu tempat yang sudah bergaya hidup urban (di kota desa ataupun desa 
kota...?). Namun belakangan banyak yang memaknai kaum urban sebagai kaum migran 
yang in-migrate ke kota....
Apakah referensi dapat memperjelas kesepakatan pemaknaan yang dapat diterima 
oleh sebagian besar "kita" ? 

Salam,
ATA


2010/4/27 Risfan Munir <risf...@yahoo. com>


  



Ini mengacu ke stephen graham ya.

Soal urbanism, urbanity, atau urban pada umumnya. Mungkin suatu saat kita perlu 
menaturalisasi istilah kata 'urban', mengingat arti urban sendiri memang 
sedikit beda dengan "kota" (city, town).

Pakai saja urbanism, urbanitas. 

Dalam statistik juga, kalau "desa" punya ciri urban disebut "desa urban". 
Karena kalau disebut "desa - kota" justru membingungkan.

Desa vs kota. Urban vs rural. Yang terakhir ini lebih mudah dibawa ke 
pengertian sifat. Dalam bahasa umum juga ada istilah "kaum urban", urban 
....(ini, itu), seperti Rubrik Kompas.

Salam,
Risfan Munir








From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
Sent: Sunday, April 25, 2010 10:26 AM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] [ASK] padanan istilah 'splintering urbanism' 




  



Salam mas Danang,

Apa betul "urbanism" dan "urbanity" sama ?
Mungkin istilah urbanity lebih cocok dengan padanan "kekotaan" (bersifat kota) 
atau sifat kawasan yang "mengota" atau menjadi (mengada) sebagai suatu kota 
(atau "mengkota"?) .
Kalau "urbanism", saya sendiri masih merasa ada kemungkinan lain: "ism" dengan 
subyek "wujud" kota (?) atau subyek "pelaku" ?
Subyek pelaku disini antara lain adalah perencana kota yang lebih menganggap 
"kekotaan" sebaqgai faham yang dianggap paling sesuai (seperti "modernism", 
"capitalism" , "sosialism", dll).
Silahkan dilanjutkan diskusinya agar kita dapat belajar secara kritis 
bersama....

Salam,
ATA
    


2010/4/23 Danang Pri <danang...@yahoo. com>


  








Salam,
 
Saya selama ini juga menjadi penikmat pasif bacaan seru di referensi, dan kali 
ini ingin ikut nimbrung...
 
Mas Hajar, yang pertama tentang "Hukum DM", kalau berasal dari bahasa Inggris, 
diindonesiakan kan mesti dibalik, jadi padanan 'urbanism' di depan dan padanan 
'splintering' di belakang.
 
Sayang kita nggak punya padanan yang memadai untuk kata "urbanism" atau 
"urbanity".
"Urban" diberi padanan "kota" atau "perkotaan" tergantung konteksnya. 
"Urbanization" kita adopsi langsung jadi "urbanisasi" , atau ada yang menyebut 
"proses mengkota".
 
"Serpihan" tidak pas menggantikan "splintering" karena serpihan adalah 
"hasil/akibat splintering" . Barangkali "menyerpih" lebih sesuai.
 
Jadi, "splintering urbanism" bisa diberi padanan "kota menyerpih" atau 
"perkotaan menyerpih" atau "urbanisme menyerpih".. .......
 
Anggap saja ini pancingan untuk mengundang para senior menurunkan fatwanya.... .
 
 
salam,
danang priatmodjo


--- On Thu, 4/22/10, hajar ahmad <hac...@yahoo. com> wrote:


From: hajar ahmad <hac...@yahoo. com>
Subject: [referensi] [ASK] padanan istilah 'splintering urbanism'
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, April 22, 2010, 9:50 PM


  


Senior-senior milis ysh.

Barangkali ini posting pertama saya di milis ini, namun sebelumnya saya telah 
bergabung dan menjadi milister pasif. Saat ini saya sedang merampungkan tesis 
saya bertema 'splintering urbanism' pada tahap finalisasi/penyempu rnaan 
khususnya untuk banyaknya istilah asing yang saya gunakan agar diganti dalam 
Bahasa Indonesia. Atas saran pembimbing saya, istilah 'spintering urbanism' 
yang terdapat dalam judul itu sendiri sebaiknya dicari padanan katanya dalam 
Bahasa Indonesia. Untuk itulah saya memohon pencerahan dari senior-senior, 
barangkali ada yang telah mengerti ataupun mengetahui padanan istilah tersebut. 


Sebagai gambaran, secara singkat saya menjelaskan terminologi 'splintering 
urbanism'. 'Splintering urbanism' itu sendiri merupakan istilah yang 
dipublikasikan oleh profesor dari Inggris yaitu Graham dan Marvin (2001) di 
dalam bukunya "Splintering Urbanism: Networked Infrastructures, Technological 
Mobilities and the Urban Condition" untuk menjelaskan kondisi perkotaan pada 
era postmodern dimana terdapat proses unbundling (disintegrasi) melalui 
privatisasi dan liberalisasi infrastruktur jaringan perkotaan seperti 
transportasi, energi, telekomunikasi dan air bersih yang secara bersama-sama 
terjadi pula proses fragmentasi kota seperti adanya gated communities 
(komunitas berpagar). Istilah 'splintering' itu sendiri sering dipakai 
sebelumnya pada bidang politik yang menggambarkan kelompok-kelompok politik 
seperti partai politik yang "memisahkan diri" dari kelompok yang lebih besar. 
Selain itu dipakai pula dalam hal terorisme yaitu menggambarkan kondisi
 "pemisahan diri" kelompok teroris dari induk yang lebih besar. Dalam konsep 
perkotaan, 'splintering urbanism' menggambarkan kondisi pemisahan diri ataupun 
pemecahan ruang perkotaan maupun infrastruktur yang pada akhirnya menggambarkan 
serpihan perkotaan baik infrastruktur maupun ruang kota. 


Secara harfiah splinter bermakna (translate.google. com)
untuk noun
1. suban
2. serpih
3. repihan
4. pecahan batu yang tajam
5. keping

sedangkan untuk verb bermakna
1. terpecah
2. memecah
3. memecahkan
4. menyerpih

Adapun istilah 'urbanism' menurut literatur anglo-saxon bermakna the way of 
life (dariLouis Wirth), sedangkan dalam literatur Eropa cenderung bermakna apa 
saja hal yang berkaitan dengan perkotaan atau kehidupan perkotaan (dari Bahasa 
Prancis). 


Profesor penguji saya menyarankan agar istilah 'splintering urbanism' diganti 
dengan 'serpihan ruang perkotaan' yang di dalamnya sesuai dengan konteks 
penelitian saya mengenai ruang kota khususnya permukiman (seperti komunitas 
berpagar). Namun disini saya masih ragu, karena yang 'menyerpih' bukan hanya 
ruang perkotaan saja melainkan juga jaringan infrastrukturnya seperti air 
bersih meskipun tidak terjadi pada kondisi ekstrim.

Mohon pencerahan. Terimakasih.

Wassalam,
Hajar Ahmad


____________ _________ _________ _________ _________ __
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail. yahoo.com



















      

Kirim email ke